Ranny Fahd A Rafiq: Kanker dan Penyakit Ginjal, Ketika Tubuh Menjadi Medan Perang yang Sunyi

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jakarta – Di antara hingar bingar pembangunan infrastruktur dan gegap gempita jargon pertumbuhan ekonomi, banyak tubuh manusia Indonesia diam-diam sedang menghadapi musuh yang tak kasat mata namun mematikan. Bukan dalam bentuk rudal atau inflasi global, tapi dalam bentuk sel yang bermutasi tanpa permisi, dan organ tubuh yang perlahan menyerah tanpa suara. Inilah realitas kanker dan penyakit ginjal kronis dua penyakit yang menjelma menjadi pembunuh senyap di balik senyum rakyat, ucap Ranny Fahd A Rafiq di Jakarta pada Selasa, (29/7/2025).

 

Anggota Komisi IX DPR RI, Ranny Fahd A Rafiq, tidak menutup mata. Dalam kesibukannya mengawal isu kesehatan nasional, ia menyampaikan kegelisahan yang melampaui statistik. “Kanker dan penyakit ginjal makin mengkhawatirkan. Ini bukan sekadar angka, ini tentang manusia. Tentang kehidupan yang dipertaruhkan,” ujarnya. Dalam suaranya ada beban, bukan hanya sebagai legislator, tapi sebagai manusia yang tahu bahwa setiap data itu mewakili duka keluarga, paparnya

 

Menurut data Global Cancer Observatory 2022, Indonesia mencatat 408.661 kasus baru kanker. Ini bukan angka mati. Ini adalah ratusan ribu tubuh yang berperang dengan dirinya sendiri, dengan sistem imun yang ditikam dari dalam, dengan harapan yang digerus oleh keterlambatan deteksi, dan oleh layanan kesehatan yang belum merata, Ungkap Istri dari Fahd A Rafiq ini.

 

Lebih  dari 242 ribu jiwa meninggal karena kanker di tahun yang sama. Artinya, lebih dari separuh yang terdiagnosis, tidak selamat. Dalam bahasa manusia lebih dari 600 orang meninggal setiap hari. Dan kita belum benar-benar panik.

Dalam tubuh perempuan Indonesia, kanker payudara dan serviks menjadi dua pengkhianat utama. Yang satu menyerang simbol kasih sayang dan kehidupan, yang lain menggempur sumber regenerasi. Kanker payudara menelan 65.858 kasus baru. Sementara serviks, dalam sunyinya, membunuh diam-diam karena 70% penderitanya terlambat terdeteksi.

 

Di sisi laki-laki, paru-paru dan hati menjadi medan luka. Udara yang kita hirup dan makanan yang kita konsumsi, pelan-pelan berubah menjadi racun. Kanker paru-paru bukan lagi sekadar penyakit perokok berat ia kini menjadi kutukan urbanisasi, polusi, dan gaya hidup yang mencintai kebisingan tapi lupa keheningan tubuh, ungkap Ranny.

Namun kanker bukan satu-satunya penjagal. Di sudut lain sistem kesehatan, ginjal organ mungil sepasang itu menjadi saksi penderitaan lebih dari 739 ribu warga Indonesia yang mengalami penyakit ginjal kronis. Dan tren ini semakin mengarah pada usia produktif, mereka yang seharusnya menjadi tulang punggung bangsa, kini ditopang selang hemodialisis.

 

Ranny memaparkan data dengan membayangkan lebih dari 134 ribu orang kini tergantung pada mesin cuci darah. Tubuhnya sudah tidak lagi mampu menyaring racun kehidupan sendiri. Waktu mereka pun terbagi bukan hanya untuk kerja dan keluarga, tapi untuk perawatan yang menyakitkan dan menguras mental, kata Anggota Banggar DPR RI ini.

Hipertensi dan diabetes adalah dua penyebab utama dari gagal ginjal kronis. Tapi, keduanya tidak lahir dari ruang hampa. Mereka lahir dari pola makan yang serampangan, dari stres ekonomi, dari minimnya edukasi kesehatan, dan dari sistem pelayanan publik yang masih berat sebelah, ucap Ranny.

Indonesia kini berada di ambang krisis kesehatan kronis. Dan seperti sebuah tragedi yang berulang dalam sejarah, kita seolah mengabaikan peringatan dini. Seperti dalam naskah-naskah Yunani kuno, di mana manusia tahu bahaya tapi tetap melangkah ke jurang, begitu pula bangsa ini yang belum serius mengedepankan pencegahan dari pada pengobatan. Kampanye pencegahan masif saya lakukan ketika saya reses ke Depok dan Kota Bekasi.

 

Apakah ini semata-mata karena ketidaktahuan? Tidak sepenuhnya. Banyak masyarakat tahu bahayanya kanker dan ginjal. Tapi akses terhadap layanan kesehatan masih menjadi kemewahan. Deteksi dini seperti pap smear atau mammografi, masih terdengar asing di banyak pelosok desa. Apalagi hemodialisis, yang biayanya bisa menguras tabungan keluarga dalam hitungan bulan, terangnya.

 

Negara ini bukan kekurangan rumah sakit, tapi kekurangan distribusi keadilan layanan kesehatan. Bukan kekurangan dokter, tapi kekurangan sistem yang memungkinkan dokter menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan.

 

Fakta bahwa Indonesia berada pada peringkat ke-8 di Asia Tenggara dalam angka kejadian kanker harusnya memalukan. Apalagi dengan prediksi bahwa kasus kanker akan meningkat 63% pada tahun 2040. Ini bukan sekadar sinyal darurat tapi ini adalah sirine yang seharusnya mengguncang kesadaran nasional.

Ranny melihat Sejarah bangsa ini pernah mencatat bahwa musuh terbesar bukan selalu kolonialisme atau terorisme. Kadang, musuh terbesar adalah abai. Kita pernah gagal melawan busung lapar, gagal melawan TBC, kini jangan sampai kita gagal melawan kanker dan ginjal, ungkap ranny yang vokal menyuarakan hidup sehat ini.

Ranny Fahd mengingatkan perubahan gaya hidup dan edukasi adalah kunci. Tapi perubahan itu harus dimulai dari negara. Dari kebijakan anggaran yang berani, dari program deteksi dini yang masif, dari layanan kesehatan primer yang diperkaya bukan dipereteli, terangnya.

“Bagaimana mungkin kita bicara revolusi industri, jika tubuh buruhnya rapuh? Bagaimana kita bicara Indonesia Emas 2045, jika anak-anak hari ini tumbuh dengan ginjal yang tak lagi bekerja?” pertanyaan itu menggantung di udara, tajam dan menohok.

 

Kanker dan penyakit ginjal adalah metafora dari bangsa yang sedang kehilangan kepekaan tubuh. Dan seperti tubuh yang terlalu lama mengabaikan gejala awal, kita pun berisiko kehilangan kesempatan menyelamatkan diri sendiri jika tidak segera bertindak.

 

Tubuh manusia, kata filsuf Merleau-Ponty, bukan hanya wadah jiwa, ia adalah bentuk keberadaan itu sendiri. Maka ketika tubuh rakyat tergerus penyakit, yang hilang bukan hanya statistik produktivitas, tapi makna kemanusiaan kita sebagai bangsa.

 

Dalam peradaban yang semakin mengagungkan efisiensi dan angka, mungkin saatnya kita kembali mendengar detak organ tubuh yang merintih. Di sana ada pesan yang tak tertulis, bahwa kehidupan bukan sekadar GDP, tapi juga GNH (Gross National Health).

 

Dan ketika negara benar-benar hadir bukan hanya lewat retorika, tapi dengan sistem kesehatan yang adil dan empatik, maka kita bukan hanya menyelamatkan tubuh yang sakit, tapi juga jiwa bangsa yang selama ini perlahan-lahan kehilangan rasa, tutup Ranny.

 

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita