Jakarta – Sejarah dakwah di Nusantara tidak pernah berdiri di atas hitam-putih moral yang dangkal. Ia lahir di medan simbol, mitologi, dan struktur kesadaran kolektif yang telah berabad-abad membentuk cara manusia memaknai Tuhan, alam, dan kekuasaan yang tak kasat mata, Ucap Fahd A Rafiq di Jakarta pada Rabu (31/12/2025).
Ketua Umum DPP BAPERA mengatakan, “para Wali Songo memahami satu hal yang sering luput dari pendekatan dakwah modern, manusia tidak hanya disesatkan oleh nafsu, tetapi oleh makna yang salah arah. Karena itu, dakwah tidak cukup dengan hukum, ia membutuhkan pembacaan batin, tegasnya.
Dalam manuskrip klasik yang dipelajari para wali, seperti Ihya Ulumuddin, dijelaskan bahwa tipu daya iblis paling berbahaya bukan yang vulgar, melainkan yang mengenakan jubah kesucian. Inilah wilayah talbīs al-iblīs yakni penyesatan yang membuat manusia merasa sudah sampai level tertinggi, ungkap Mantan Ketum PP-AMPG ini.
Suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komisi IX) ini menambahkan, ketika para wali memasuki lanskap spiritual Nusantara, mereka tidak berhadapan dengan kekosongan iman. Mereka menghadapi sistem kepercayaan mapan, lengkap dengan simbol api, tanah, air, dan udara sebuah kosmologi yang telah menjelma menjadi ideologi, tegasnya.
Dalam pembacaan tasawuf, entitas yang dipuja sebagai “dewa” bukan semata ilusi, melainkan representasi dari kekuatan gaib berhirarki tinggi. Literatur klasik menyebutnya sebagai al-Marid dan al-Afrit yakni jin aristokrat yang cerdas, kuat, dan lihai memainkan kesaktian, ungkapnya.
Lebih dalam lagi mantan Ketum DPP KNPI ini memaparkan, Jin Marid dikenal sebagai pembangkang kosmik kuat, dominan, dan gemar menguasai simbol elemen. Sementara Afrit adalah arsitek tipu daya menciptakan karomah palsu agar manusia tunduk bukan karena iman, melainkan kekaguman, ungkapnya.
Para wali songo membaca satu pola berbahaya ketika manusia mengagungkan “keajaiban”, ibadah bergeser menjadi penghambaan simbol. Tuhan ditinggalkan, sementara makhluk dinaikkan derajatnya.
Di sinilah kecerdasan dakwah para wali Songo bekerja. Mereka tidak menghancurkan simbol secara frontal, karena darah dan dendam hanya melahirkan kesesatan baru. Yang mereka lakukan adalah bedah ideologi secara halus, papar Putra Musisi Mendiang A Rafiq ini.
Tokoh seperti Sunan Kalijaga memahami bahwa iman tidak bisa dipaksa masuk ke jiwa yang masih terikat mitos. Maka simbol tidak dibunuh tapi ditafsir ulang.
Sementara Sunan Kudus memilih jalur strategis akulturasi teologis. Ia tidak mencaci, tetapi menggeser makna. Dewa tidak disebut palsu di hadapan publik, ia diturunkan derajatnya dalam narasi kolektif, tekannya.
Inilah proses desakralisasi bukan menghancurkan kepercayaan lama, tetapi mencabut klaim keilahian dari makhluk. Yang tadinya “penguasa kosmos”, berubah menjadi “penunggu wilayah” yang tunduk pada Tuhan Yang Esa.
Simbolisme elemen memainkan peran penting. Api dilambangkan sebagai dominasi, amarah, dan kesombongan eksistensial. Tanah dan air melambangkan ketenangan, ketundukan, dan penerimaan, pungkas pengusaha muda ini.
Dalam cerita rakyat dan budaya populer seperti Misteri Gunung Merapi pertarungan metaforis ini divisualkan dengan jelas kekuatan api yang agresif selalu melemah ketika berhadapan dengan air. Api memang membakar cepat, tetapi ia kehilangan daya saat masuk ke ruang yang menenangkan. Ini bukan sekadar dramaturgi hiburan, melainkan refleksi simbolik dari tasawuf kesombongan selalu runtuh di hadapan ketenangan iman. Ingat sifat api selalu membakar keatas ketika menyala, Terang Fahd.
Para wali memahami hukum ini jauh sebelum teori psikologi modern lahir. Mereka tidak memadamkan api dengan api, tetapi dengan air dakwah yang menyejukkan, bukan menghakimi. Di titik inilah dakwah Wali Songo menjadi proyek peradaban, bukan sekadar misi konversi. Mereka menggeser orientasi batin masyarakat dari pengagungan makhluk menuju tauhid, tanpa memutus akar budaya.
Apa yang mereka hadapi bukan setan pasar, melainkan iblis intelektual dan aristokrat, iblis yang berdiskusi, bukan berteriak yang bersembunyi di balik ritual, bukan maksiat. Iblis jenis ini tidak melarang ibadah. Ia justru mendorong ritual, selama pusat penghambaan bergeser dari Allah ke simbol, tokoh, atau entitas gaib.
Para wali membaca ini sebagai talbis tingkat tinggi manusia tetap merasa saleh, tetapi tauhidnya telah terdistorsi. Inilah bentuk kesesatan paling sunyi. Ingat, Iblis akan lakukan segala cara sampai manusia tersesat dari zaman nabi adam sampai hari kiamat dan itu sumpahnya di hadapan Allah S.W.T ketika di usir dari Surga.
Dengan menurunkan “dewa” menjadi “jin penunggu”, para wali memulihkan hierarki kosmik Islam, tidak ada yang patut disembah selain Allah dan seluruh makhluk termasuk yang gaib adalah hamba, paparnya dengan nada dalam.
Strategi ini efektif karena menyentuh psikologi massa. Kepercayaan lama tidak dipermalukan, tetapi diarahkan ulang. Ego kolektif diselamatkan, iman diperbaiki.
Dari sini kita belajar dakwah yang matang bukan yang paling keras suaranya, melainkan yang paling dalam pembacaannya terhadap jiwa manusia.
Di zaman modern, pola talbis yang sama kembali hadir bukan lewat dewa api, tetapi lewat ideologi, filsafat, dan rasionalisasi yang membuat manusia merasa tercerahkan sambil menjauh dari Tuhan.
Warisan dan ajaran Wali Songo menjadi relevan kembali, iman harus disampaikan dengan kecerdasan spiritual, bukan sekadar logika hukum atau emosi moral.
Karena musuh terbesar tauhid bukanlah ketidaktahuan, melainkan kesesatan intelektual yang membuat manusia merasa sudah sampai padahal sedang sujud kepada makhluk dengan bahasa Tuhan, tutup dosen yang mengajar di Negeri Jiran ini.
Penulis: Wahid Mubarak