Home Religi

Fahd A Rafiq :  Bumi Hanya Bereaksi, Bencana Bukan Balas Dendam Alam, Tapi ‘Kaca Raksasa yang Memantulkan Kebocoran Moral Manusia

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jakarta – Apa yang membuat hujan turun seperti air mata tak terkira, banjir menyapu desa, tanah longsor menelan rumah apakah alam benar-benar murka? Padahal ketika Gempa di Sukabumi beberapa tahun ini kami telah bersuara akan kelalaian dalam penanggulangan bencana dan memberikan masukan agar memiliki prediksi jatuh banyak korban.

Beberapa tradisi spiritual menafsirkan bencana alam bukan sebagai balas dendam alam, tetapi sebagai cermin rohani dari krisis manusia terhadap keseimbangan ciptaan. Dalam Islam misalnya, bencana dilihat sebagai bagian dari Sunnatullah yakni hukum sebab akibat yang berjalan di alam semesta dan refleksi dari dosa sosial manusia yang mengkhianati amanahnya sebagai khalifah di bumi, Ucap Fahd A Rafiq di Jakarta pada Jumat (12/12/2024).

Ketua Umum DPP Bapera menjabarkan, “dalam
tradisi Tauhid, alam bukan entitas yang bebas mengamuk, ia adalah “ayat” yang berbicara dengan suara badai, hujan, gempa, bak kata para pembaca ayat semesta, paparnya.

Bencana menjadi teguran agar manusia kembali pada tazkiyah (penyucian diri) dan taqwa. Dosa terhadap lingkungan menjadi dosa sosial yang berbuah pahit, seolah alam bertindak sebagai kaca raksasa yang memantulkan refleksi batin umat manusia.

Data terbaru menunjukkan bahwa hingga awal Desember 2025 bencana alam di Indonesia saja telah menimbulkan ribuan korban jiwa, jutaan pengungsi, dan kerusakan luar biasa pada rumah, fasilitas pendidikan, hingga tempat ibadah

Bagi umat beriman, setiap gempa, badai, banjir, dan tanah longsor bukan sekadar peristiwa fisik tetapi bahasa alam yang harus dibaca dengan hati, bukan hanya akal sempit manusia. Ini bukan aksi dendam pepohonan terhadap manusia, melainkan pesan simbolik yang dipancarkan dari relung bumi.

Lebih dalam Mantan Ketum DPP KNPI ini melihat dari kaca mata 5 agama yakni Islam menegaskan bahwa manusia adalah khalifah di bumi yang diberi amanah menjaga keseimbangan ekologis. Ketika manusia lalai, bencana menjadi ritme korektif dari hukum kausal Ilahi. QS Ar-Rum:41 sendiri menyatakan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat tangan manusia.

Dalam tradisi Kristen, alam semesta dipandang sebagai ciptaan Tuhan yang baik, manusia dipanggil menjadi steward atau pengelola yang bertanggung jawab atas bumi. Bencana sering dipahami sebagai panggilan untuk introspeksi moral, bukan sekadar hukuman. Ia dapat menjadi metafora bagi “kebangkitan hati” dan seruan untuk mempertahankan keharmonisan ciptaan.

Dalam ajaran Hindu, khususnya konsep Tri Hita Karana , harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam  sudah ditegaskan. Kerusakan keseimbangan ini memicu hasil karma yang boleh jadi muncul sebagai gejolak alamiah yang keras.

Ajaran Buddha menekankan hukum sebab akibat (karma) dan keterhubungan segala kehidupan. Penderitaan bukanlah hukuman personal semata, melainkan buah dari keterikatan dan ketidakharmonisan antara manusia dan alam, yang menimbulkan penderitaan kolektif, Terang Suami dari Ranny(Anggota DPR RI Komisi IX) ini.

Selanjutnya Fahd melihat  tradisi Konghucu, kebajikan ren dan keseimbangan sosial mencerminkan harmoni alam semesta. Masyarakat yang jauh dari nilai moral akan menciptakan ketidakharmonisan ekologis, yang tampak melalui gejolak alam. Secara simbolik ini menyerupai ‘pantulan cermin’ moral kolektif.

Disisi lain Fahd melihat ada beberapa Individu yang diberikan kelebihan untuk melihat masa depan, dibulan januari tahun 2025 sudah diprediksi Indonesia akan ada bencana alam khususnya di pesisir pantai banyak orang yang meninggal dunia, dan mayat bergelimpangan di jalan dan benar saja, cuma pemerintah saat itu tidak tanggap dan sigap menghadapi prediksi itu seolah mengabaikan. Bahkan di film film Indonesia dan barat juga mengakui memang ada individu yang bisa melihat kejadian masa depan, paparnya.

Tak satu agama pun mengajarkan fatalisme pasrah, semuanya menempatkan tanggung jawab moral pada manusia. Alam bukan pelaku balas dendam, tetapi “tiang besar” yang memantulkan kesalahan manusia kepada dirinya sendiri.

Badai dan gelombang ekstrem sedang menjadi “normal baru” di Asia Tenggara ribuan korban tewas, desa yang terkubur air, jalan yang lenyap  fenomena ini menggugah manusia untuk memahami hubungan ekologisnya.

Bukan hanya rumah, sekolah, dan fasilitas umum yang hancur; tempat ibadah pun turut rusak. Ini menjadi foto metaforis kerusakan moral sekaligus fisik umat manusia.

Sementara pandangan spiritual memaknai tanda alam, ilmu pengetahuan mengungkap penyebab ilmiah, seperti perubahan iklim dan degradasi lingkungan akibat ulah manusia yang agresif. Gabungan keduanya seharusnya mendorong tindakan konkret.

Pemuka agama memiliki peran strategis untuk menyuarakan pesan moral bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari iman maka dari khutbah Jumat hingga khotbah Minggu, dari ritual Hindu hingga meditasi Buddhis hal ini harus konsisten disebarkan di semua tempat tempat ibadah, tegasnya.

Bencana adalah panggilan bagi manusia untuk keluar dari ego sempitnya, melihat sesama sebagai “keluarga besar umat manusia” dan alam sebagai “rumah bersama” yang harus dirawat dengan cinta.

Baik Al-Qur’an, Injil, Veda, Tripitaka, maupun ajaran Konghucu semuanya menempatkan manusia sebagai pusat tanggung jawab yang harus menjaga keseimbangan alam bukan menyalahkan alam itu sendiri.

Ketika banjir datang dan rumah hanyut, banyak yang menemukan kembali nilai sabar, ikhlas, dan tolong-menolong  ini sifat universal yang diajarkan semua agama besar. Alam tak marah tapi bereaksi terhadap ketidakseimbangan yang diciptakan manusia. Ini bukan dendam, tetapi tindak lanjut hukum alam yang adil dan tak terbantahkan.

Banjir bukan hanya air, tapi simbol dari kebijakan yang bocor, keputusan yang salah, dan moral kolektif yang perlu diperbaiki. Aksi destruktif manusia kepada lingkungan adalah seperti goresan pada cermin jiwa kolektif kita sendiri ketika cermin itu pecah, realitasnya juga pecah.

Bayangkan bumi sebagai makhluk hidup yang berbicara dalam bahasa badai, gempa, dan hujan deras setiap tetes adalah isyarat, setiap gemuruh adalah pesan yang memanggil manusia untuk introspeksi. <span;>Dalam ajaran lintas agama, dari Tauhid hingga Dharma, dari Injil hingga ren Konghucu, kedamaian dengan alam adalah cerminan kedamaian spiritual manusia itu sendiri.

Tidak ada satu agama pun yang mendorong ketidakpedulian terhadap sesama justru, bencana sering mengungkapkan siapa yang sejati dalam cintanya kepada Tuhan dan ciptaan-Nya. Bencana bukan hanya tragedi, tetapi juga narasi rohani yang memanggil manusia untuk takluk pada kebenaran, keadilan, dan keseimbangan kosmik.

Mantan Ketum Gema MKGR ini menegaskan, “Bencana alam tidaklah menjadi bukti murkanya alam, tetapi cermin dari ketidakharmonisan manusia dengan dirinya sendiri, sesamanya, dan seluruh ciptaan. Ia adalah panggilan untuk kembali kepada asal-nya yaitu Tuhan, kasih, tanggung jawab moral, dan cinta yang tulus kepada setiap makhluk hidup, paparnya

Jika langit menangis, maka semua air matamu pun bukanlah setetesnya dibandingkan air mata semesta. Jika bumi bergetar, jiwa pun turut bergetar, kerana segala yang meretas bumi adalah bayangan dari dunia batin manusia. Dan ketika kita berdamai dengan ciptaan, kita juga berdamai dengan Sang Pencipta itu sendiri. Membaca alam bukan dengan akal semata, tetapi dengan hati yang haus akan kebenaran, maka keharmonisan sejati akan terbit kembali di ufuk jiwa manusia, tutup dosen yang mengajar di Negeri Jiran ini.

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita