Jakarta – Dua tokoh sentral mendominasi panggung geopolitik global dalam satu dekade terakhir, Donald Trump dan Xi Jinping. Keduanya bukan sekadar pemimpin negara, melainkan simbol dua ideologi besar dunia kapitalisme liberal Amerika Serikat dan sosialisme pasar ala Tiongkok, papar Fahd A Rafiq di Jakarta pada Sabtu, (27/12/2025).
Disisi lain Ketua Umum DPP Bapera ini melihat persaingan dipanggung Geopolitik dunia ini tak ubahnya dengan 2 Maestro Sepak Bola Dunia saat ini yaitu Cristiano Ronaldo dan Leonel Messi yang hingga hari ini masih terus bersaing di level sepak bola tertinggi, hanya bedanya masing masing bermain di benua yang berbeda. Messi di Benua Amerika dan CR7 (Cristiano Ronaldo) di Asia dan kedua maestro ini bersaing hampir dua dekade terahir. Masing masing penggemarnya masih terus berisik di jagad dunia maya, ungkapnya.
Di antara mereka, sempat hadir Joe Biden sebagai figur transisional lebih senyap, lebih diplomatis namun tetap membawa bara konflik dalam bentuk aliansi strategis, diplomasi vaksin, dan perang narasi intelijen.
Mantan Ketum GEMA MKGR ini melihat, “apa yang bermula sebagai perang dagang pada 2018 ketika Trump mengenakan tarif besar atas produk Tiongkok berkembang menjadi konflik sistemik multidimensi seperti ekonomi, teknologi, kesehatan global, hingga standar peradaban digital, Tegasnya.
Kesepakatan Dagang Fase Satu Januari 2020 sempat meredakan ketegangan. Namun pandemi COVID-19 justru membuka bab baru bukan lagi soal neraca perdagangan, melainkan harga diri nasional, transparansi ilmiah, dan kepemimpinan global.
Mantan Ketum DPP KNPI memaparkan lebih dalam, tahun 2018 Trump memulai perang tarif dengan dalih praktik dagang yang tidak adil dan pencurian kekayaan intelektual. Januari 2020 Kesepakatan Fase Satu ditandatangani. Bergerak lagi ke Tahun 2020–2022 era Pandemi COVID-19 menggeser konflik ke perang narasi dan diplomasi vaksin. Tahun 2025 Trump kembali menjabat, menandai transisi dari konflik terbuka menuju negosiasi keras bersyarat.
Suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komisi IX) ini menganalisa pertarungan ini tidak terjadi di satu medan tunggal. Ia berlangsung Di WTO ketika Tiongkok memenangkan gugatan tarif terhadap AS, Di laboratorium dan pusat data AI, melalui chip, satelit, dan algoritma.
Di negara berkembang, lewat diplomasi vaksin Sinovac–Sinopharm versus Pfizer–Moderna.
Dan si Busan, Korea Selatan, Oktober 2025, ketika Trump dan Xi bertemu dan menyepakati relaksasi tarif, paparnya.
Pengusaha muda ini melanjutkan kembali, karena ini bukan konflik personal, melainkan benturan struktur kekuasaan global. Bagi Trump, perang ini adalah alat untuk memaksa renegosiasi tatanan dagang dunia, menarik kembali industri strategis ke AS dan menjual citra “America First” tapi bagi Xi Jinping, ini adalah ujian ketahanan ekonomi nasional, kemandirian teknologi dan Legitimasi politik dalam negeri, cetusnya.
Ketika COVID-19 hadir, konflik bergeser dari angka ke narasi siapa yang transparan, siapa yang memimpin dan siapa yang dipercaya dunia. New Cold War kali ini Tidak ada tank dan misil. Yang ada adalah perang tanpa suara dalam bentuk Perang Narasi & Intelijen dengan AS menyelidiki ulang asal-usul virus Tiongkok menuding balik, termasuk isu Fort Detrick.
Dan dilanjutkan dengan Diplomasi Vaksin. Vaksin menjadi alat pengaruh geopolitik, bukan sekadar solusi medis. Selain itu ada Aliansi vs Kemandirian Biden memperkuat AUKUS dan Quad sementara Xi mempercepat swasembada teknologi, terang putra legenda musisi Indonesia A Rafiq ini.
Lebih lanjut fahd memaparkan lebih dalam bahwa teknologi sebagai senjata baru seperti
Chip AI, komunikasi satelit, dan energi pusat data menjadi medan tempur utama. Di lain sisi ada Gencatan Senjata Produktif di tahun 2025 dengan Trump menurunkan tarif menjadi 47%, membuka ekspor chip AI dengan pajak lisensi 25% dan Xi membuka ekspor rare earths dan menekan krisis fentanyl.
Yang jadi pertanyaan siapa yang menang dalam pertarungan kali ini hingga desember 2025?
Trump menang dalam memaksa Tiongkok duduk di meja perundingan. Xi menang dalam membuktikan ketahanan dan kemandirian teknologi. Dunia kalah sebagian, karena globalisasi tak lagi netral ia kini terbelah, ujar Mantan Ketum PP-AMPG ini.
Di akhir 2025, dunia berdiri di antara dua kutub yakni barat, unggul di desain chip dan software global timur, dominan di manufaktur, satelit, dan skala industri.
Apa yang oleh Fahd A Rafiq disebut sebagai awal Era New Cold War bukanlah hiperbola. Ini adalah perang tanpa deklarasi, konflik tanpa dentuman, tetapi dengan dampak yang jauh lebih panjang.
Jika Perang Dingin abad ke-20 dipicu oleh ideologi dan senjata nuklir, maka Perang Dingin abad ke-21 digerakkan oleh data, chip, energi, dan narasi kebenaran.
Dan seperti semua perang dingin sebelumnya, pertanyaan terbesarnya bukan siapa yang menang melainkan siapa yang paling siap hidup di dunia yang terbelah dua saat ini, tutup dosen yang Mengajar di Negeri Jiran ini.
Penulis: A.S.W