Jakarta – Langit di Asia Tenggara dan Asia Selatan meneteskan air mata paling deras di penghujung tahun 2025, hujan bah, siklon tropis, dan monsun yang nyaris tak pernah berhenti, hujan yang harusnya membawa keberkahan kini menjadi bencana.
Waktu menjadi saksi bisu di antara pekatnya malam dan kabut kelabu, sungai-sungai pecah, tanah longsor menelan rumah, jalan, dan harapan. Bencana ini datang bukan sebagai bisikan melainkan teriakan alam yang tak tertahankan, Ucap Fahd A Rafiq di Jakarta pada Kamis, (11/12/2025).
Ketua Umum DPP BAPERA ini mengatakan, “beberapa negara yang paling terpukul termasuk
Indonesia khususnya Provinsi Aceh, Sumut dan Sumbar dimana ribuan desa terendam, jembatan ambruk, dan komunikasi terputus. Korban tewas dilaporkan ratusan hingga ribuan lagi hilang.
Di Sri Lanka rumah warga terkubur longsor, dataran rendah disapu banjir, ribuan rumah hancur, warga mengungsi ke pusat-relief. Thailand terutama di selatan, beberapa provinsi terkena banjir bandang dan hujan ekstrem, ribuan warga terpaksa mengungsi, infrastruktur lumpuh total. Malaysia meskipun korban tewas relatif kecil dibandingkan tetangga, ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan dipaksa hidup di pengungsian, paparnya.
Mantan Ketua Umum PP- AMPG ini menambahkah, Lebih dari 1.400 jiwa menurut sejumlah laporan telah terenggut, dengan ratusan hingga ribuan lainnya hilang atau terluka.
Bencana ini melanda pada akhir 2025 ketika siklon tropis misalnya Cyclone Senyar dan Cyclone Ditwah bersama monsun, musim hujan kali datang lebih awal dan intens dari biasanya.
Wilayah paling parah di Indonesia adalah: Sumatra Utara, Barat dan Aceh di Indonesia. Dataran tinggi dan dataran rendah di Sri Lanka, provinsi selatan Thailand dan beberapa bagian Malaysia serta Semenanjung yang mudah terendam.
Mantan Ketum DPP KNPI mengutip, “analisis ilmuwan menunjukkan bahwa suhu permukaan laut di Samudra Hindia Utara ~0,2 °C lebih tinggi dari rata-rata dekade 1991–2020, akibat pemanasan global yang menyumbang energi besar dan menghidupkan badai lebih ganas.
Namun itu bukan satu-satunya penyebab. Kerusakan lingkungan, deforestasi, alih fungsi lahan, pembalakan hutan, penambangan membuat “tulang punggung alam” rapuh, tanah tak mampu menahan air, daratan miring mudah longsor, banjir cepat meluap. Seperti benteng yang retak, ketika hujan deras bukan embun yang datang tapi bencana.
Beberapa ahli menyebut bahwa kombinasi antara krisis iklim dan perusakan alam telah mengubah musim hujan dari musibah biasa menjadi senjata mematikan.
Di beberapa negara, respons datang cepat militer dan tim SAR dikerahkan, evakuasi massal dilakukan, bantuan darurat disalurkan, shelter dibuka. Tetapi di banyak wilayah terutama di kawasan terpencil seperti jalan dan jembatan hanyut, medan sulit dijangkau, dan akses bantuan tertunda, ribuan korban terlantar, air bersih sulit, penyakit mengintai.
Di Indonesia, kritik terhadap lambatnya respons pemerintah dan lemahnya mitigasi bencana muncul dari masyarakat. Banyak yang menilai bahwa persiapan dan mitigasi sudah seharusnya dilakukan jauh sebelumnya bukan setelah tragedi terjadi. Kesalahan ini selalu berulang dari satu bencana ke bencana lain. Bahkan ada yang memanfaatkan bencana untuk mendapat keuntungan seperti menjual bensin dari Rp. 10.000 menjadi 12.000. Kok tega ya.
Banjir dan longsor ini bukan sekadar statistik, ini adalah duka ribuan keluarga, rumah musnah, masa depan anak-anak tercabik. Air yang semula memberi kehidupan berubah menjadi monster tak kenal ampun, tanah yang dulu menopang pondasi rumah kini menyeretnya ke dasar lumpur.
Desa-desa yang dulu penuh tawa dan harapan kini sunyi, rumah kosong, jejak banjir, pohon tumbang, debu halus bercampur lumpur menyelimuti jalan-jalan. Wajah-wajah semula cerah, kini cermin duka dan ketakutan.
Anak-anak kehilangan sekolah, orang tua kehilangan penghidupan dan keluarga, hidup diganti puing dan perasaan hampa. Tanah dan air, dua elemen dasar kehidupan, berubah durhaka terhadap manusia.
Bencana ini menegaskan seperti kata pepatah lawas: “Alam memberi tapi bisa juga mengambil kembali” Ketika hutan hilang, akar-akar penahan air lenyap. Ketika tanah dirubah tanpa perhitungan agar sawit, tambang, atau pembangunan maka kita menyiapkan timbunan nisan bagi generasi mendatang, ujarnya.
Fahd melihat bukan hanya mitigasi darurat yang dibutuhkan sekarang melainkan restorasi alam, reforestasi masif, penghentian alih fungsi lahan sembarangan. Negara dan rakyat harus berjanji bukan dengan kata, tetapi dengan pohon, sungai yang diperbaiki, tanah yang kembali hijau bahwa peristiwa seperti ini tak akan diulang.
Kesimpulan
Banjir dan tanah longsor di Indonesia khususnya Asia Tenggara dan Asia Selatan di akhir tahun 2025 bukan sekadar bencana ini panggilan darurat bagi kemanusiaan.
Satu per satu jiwa melayang, ribuan desa hancur bukan karena alam murka tanpa sebab, tetapi karena kita lupa menjaga, mengabaikan, mengeksploitasi akhirnya yang menjadi tumbal generasi mendatang.
Kini, ketika air telah surut dan debu perlahan menghilang saatnya kita introspeksi. Saatnya mendengarkan suara alam yang jauh lebih tua dari peradaban manusia. Karena jika kita tetap angkuh, membiarkan pohon tumbang, hutan hilang, tanah digarap semaunya maka kita menulis undangan bagi bencana berikutnya,cetarnya
“Di balik puing yang sunyi dan tatapan mata yang hampa, bencana ini bukan akhir, melainkan cermin perpisahan yang dingin maka dari itu pilihan ada di tangan kita, apakah akan mendengar bisikan terakhir bumi, atau menunggu air mata langit berikutnya membasuh segala yang tersisa menjadi kenangan.”, tutup Dosen yang mengajar di Negeri Jiran ini.
Penulis: A.S.W