Jakarta – Di balik gegap gempita angka pertumbuhan ekonomi dan retorika pembangunan yang terus digaungkan, terselip satu kata kunci yang menguak wajah gelap sistem itu yakni serakahnomics. Fahd A Rafiq menyebutnya sebagai arsitektur tak kasatmata, di mana pasar bukan lagi sekadar ruang pertukaran nilai, melainkan arena perebutan kendali oleh mereka yang rakus akan keuntungan, ucapnya di Jakarta pada Selasa, (19/8/2025).
Fakta di lapangan tak bisa dipungkiri,papar Ketua Umum DPP BAPERA ini, harga beras melonjak di tengah surplus panen,beras dioplos, minyak goreng dioplos, dari dan kartel komoditas kerap lolos dari jerat hukum. Realitas ini bukan sekadar anomali, tetapi cermin dari desain yang sengaja diciptakan, sebuah skema kezaliman ekonomi yang melucuti hak rakyat kecil demi memperkaya segelintir elite, cetusnya.
Mantan Ketum PP-AMPG ini menjabarkan, “Narasi serakahnomics bukanlah jargon kosong, melainkan sebuah pembacaan tajam atas paradoks keseharian masyarakat. Dari pasar tradisional di pelosok hingga supermarket di jantung kota, rakyat merasakan denyut yang sama yakni kelangkaan yang artifisial, inflasi yang dirancang, dan distribusi yang dimonopoli. Seperti benang merah sejarah kolonialisme ekonomi yang dulu menjerat Nusantara, kini wajahnya bertransformasi dalam bentuk baru lebih rapi, licin, dan lebih menyakitkan. Di sinilah kritik eksistensial itu lahir, ekonomi bukan lagi instrumen kesejahteraan, tetapi medan hegemoni di mana manusia dipaksa tunduk pada logika kelangkaan buatan, ungkapnya.
kata yang kini menggema di ruang publik Indonesia yaitu serakahnomics. Ia bukan sekadar istilah baru, melainkan pisau analisis yang menyingkap wajah asli perekonomian bangsa. Diciptakan dari akar kata “serakah” dan “economics”, neologisme ini memperlihatkan bahwa keserakahan bukan sekadar dosa moral, tetapi telah menjelma menjadi mazhab ekonomi terselubung, tegas Mantan Ketum DPP KNPI ini.
Presiden Prabowo Subianto mengucapkan istilah ini bukan sebagai guyon politik, melainkan peringatan keras. Baginya, kesenjangan dan kelangkaan tidak selalu lahir dari kegagalan sistem, tetapi dari desain yang disengaja. Sebuah rancangan ekonomi gelap yang dibangun oleh segelintir elite untuk mempertahankan kekuasaan dan akumulasi harta, ini adalah hal yang gila. India pernah ada di fase ini, saat ini Indonesia, ungkapnya.
Prabowo menyebut mereka vampir ekonomi. Frasa yang mengguncang, sebab ia menempatkan pengusaha rakus sebagai sosok parasit yang menghisap darah rakyat. Mereka bukan sekadar pelaku pasar, melainkan predator yang sengaja menciptakan kelangkaan minyak goreng, manipulasi harga beras, hingga spekulasi pangan demi keuntungan pribadi.
Data Kementerian Perdagangan tahun 2024 menunjukkan bahwa kelangkaan minyak goreng yang sempat mengguncang pasar tidak semata akibat faktor produksi, tetapi juga karena distribusi yang sengaja ditahan. Laporan Ombudsman menyebut ada indikasi kuat manipulasi pasar oleh sekelompok pelaku usaha besar. Fakta ini memperkuat apa yang dimaksud Presiden sebagai sabotase ekonomi.
Fenomena serakahnomics memperlihatkan betapa ketidakadilan bukanlah kebetulan, melainkan produk dari rancangan. Kemiskinan bukan sekadar akibat malas bekerja, melainkan hasil dari sistem yang memastikan kekayaan hanya berputar di lingkaran elite. Jika ada yang lapar, itu karena ada yang sengaja mengunci lumbung pangan.
Suami dari Ranny (Anggota DPR RI Partai Golkar) ini menegaskan bahwa kezaliman semacam ini nyata adanya. Menurutnya, rakyat miskin tidak pernah benar-benar dilihat sebagai manusia dengan hak yang sama, melainkan sebagai objek ekonomi-politik yang bisa diperas, dimanipulasi, lalu dilupakan, ungkapnya.
“Jalan Tengah” yang dipilih Presiden menjadi kritik terhadap dua kutub ideologi besar. Kapitalisme murni dianggap hanya melahirkan jurang sosial, sementara sosialisme murni berpotensi membunuh motivasi individu. Maka ia mengusulkan jalan yang bercorak gotong royong, pasar dibiarkan kreatif, tetapi negara harus hadir sebagai penyeimbang dan pelindung, terang mantan Ketum Gema MKGR ini.
Konsep ini sejalan dengan prinsip koperasi yang digagas Bung Hatta. Sejarah mencatat, koperasi adalah instrumen ekonomi yang dirancang untuk melawan praktik kolonialisme dan monopoli. Namun hari ini, koperasi terpinggirkan, digantikan oleh raksasa-raksasa pasar yang mengatur harga dari balik layar.
Rasio gini Indonesia pada Maret 2025 masih berada di kisaran 0,389, hal ini nyaris tidak bergerak dari tahun sebelumnya. Artinya, distribusi kekayaan masih timpang. Di satu sisi, muncul miliarder baru dengan kekayaan fantastis, sementara jutaan rakyat berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Fenomena serakahnomics juga dapat dipahami sebagai bentuk kolonialisme internal. Jika dahulu penjajah datang dari seberang lautan, kini penjajah lahir dari rahim bangsa sendiri. Mereka adalah segelintir yang bersekutu dengan kekuasaan, memanfaatkan regulasi untuk melanggengkan monopoli, dan menyingkirkan kompetitor kecil, apakah ini makna dari keadilan ekonomi? , hal inilah yang dimaksud Presiden Prabowo Subianto.
Dalam pandangan eksistensial, tragedi ini mengajarkan bahwa manusia bisa kehilangan sisi kemanusiaannya ketika keserakahan menjadi prinsip hidup. Ekonomi yang seharusnya sarana menyejahterakan rakyat berubah menjadi arena pemangsaan. Inilah absurditas dimana negeri yang disebut tanah surga justru membiarkan rakyatnya lapar.
Metafora vampir ekonomi menggambarkan lebih dari sekadar keserakahan. Vampir tidak sekadar meminum darah, ia juga membuat mangsanya hidup dalam ketakutan. Demikian pula rakyat dipaksa percaya pada narasi kelangkaan yang diciptakan, seakan-akan kemiskinan adalah takdir, bukan rekayasa.
Dari uraian diatas tidak mengherankan bila publik kehilangan kepercayaan. Media sosial menjadi ruang ledakan kemarahan, setiap isu harga pangan menjadi bahan bakar kebencian terhadap pemerintah. Padahal sering kali, kekacauan itu didesain oleh kelompok yang sakit hati karena kepentingannya terusik.
Sejarah modern Indonesia membuktikan hal itu. Krisis moneter 1998 tidak hanya lahir dari faktor global, tetapi juga dari manipulasi spekulan domestik. Runtuhnya harga rupiah bukan sekadar kegagalan pasar, melainkan hasil guncangan yang dipicu oleh elite yang memainkan kepanikan publik, papar Fahd.
Hari ini pola itu kembali terlihat. Isu PHK massal, berita kelaparan, dan narasi “Indonesia gagal” sering dimunculkan secara sistematis untuk menciptakan suasana hopeles. Ini adalah war of perception, perang yang tidak menumpahkan darah, tetapi menguras kepercayaan rakyat.
Fahd menyebut ini sebagai “kezaliman yang nyata.” Kezaliman bukan sekadar menindas dengan kekuatan fisik, tetapi menciptakan struktur ekonomi yang memaksa jutaan orang hidup dalam penderitaan. Ini adalah bentuk kekerasan yang tak kasat mata, tetapi lebih menyakitkan dari pada peluru, permainan seperti ini hanya bisa difahami bagi orang memiliki analisa yang mendalam dan super detail.
Fahd A Rafiq mendalami, rakyat kecil selama ini hanya dijadikan tontonan. Mereka dieksploitasi sebagai angka statistik dalam laporan pembangunan. Ketika pemilu tiba, suara mereka diperebutkan mati-matian. Namun setelah itu, suara mereka tenggelam, diganti oleh kepentingan mereka yang duduk di kursi kekuasaan.
Dalam perspektif filosofis, kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar, untuk siapa sebenarnya negara ini berdiri? Apakah republik ini lahir untuk menyejahterakan segelintir elite, atau untuk seluruh rakyat dari Sabang hingga Merauke? Pertanyaan itu menggema di jalan-jalan kampung, di warung kopi, hingga di ruang akademis.
Ketika elite ekonomi menguasai sumber daya alam, rakyat hanya menerima remah. Padahal Pasal 33 UUD 1945 jelas menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Namun dalam praktiknya, pasal itu berubah menjadi slogan kosong.
Jika dibiarkan terlalu lama serakahnomics bukan hanya menciptakan kesenjangan, tetapi juga merusak fondasi bangsa dan negara. Sebab jurang kaya-miskin tidak hanya melahirkan ketidakadilan ekonomi, melainkan juga potensi konflik sosial. Ketika rakyat merasa keadilan hilang, maka stabilitas politik pun ikut rapuh.
Namun, di balik kritik keras, ada harapan. Presiden berulang kali menegaskan komitmennya untuk memutus mata rantai ini. Ia menyadari bahwa pertempuran melawan oligarki bukan perkara mudah, tetapi harus dimulai agar republik tidak selamanya menjadi ladang eksploitasi keberingasan mereka.
Kebijakan jalan tengah yang ditawarkan bukan sekadar kompromi, melainkan upaya membangun sistem ekonomi beradab. Sistem yang memadukan efisiensi pasar dengan perlindungan sosial, kreativitas individu dengan gotong royong kolektif. Sebuah jalan yang mencoba menghadirkan keseimbangan.
Pertanyaannya, apakah bangsa ini cukup berani untuk menghadapinya? Karena melawan serakahnomics berarti melawan kepentingan besar yang sudah mengakar puluhan tahun. Butuh keberanian politik, kecerdasan sosial, dan keberpihakan moral yang teguh.
Pada akhirnya, serakahnomics adalah cermin yang memperlihatkan wajah asli kita. Apakah kita bangsa yang berani menghadapi vampir ekonomi, atau bangsa yang memilih berdiam diri menjadi ternak bagi keserakahan? Jawaban itu tidak hanya ada di Istana, melainkan di hati setiap warga negara yang ingin melihat Indonesia berdaulat atas kekayaan negerinya sendiri.
Presiden yang memberi “kode keras” lewat peringatan terhadap praktik manipulasi pangan, sejatinya sedang menyingkap topeng persekongkolan lama yang menindih demokrasi ekonomi. Pernyataan itu bukan sekadar respons politik, tetapi alarm moral yang menegaskan bahwa keadilan sosial harus kembali ke jantung kebijakan, bukan dikooptasi oleh kerakusan. Jika tidak, bangsa ini hanya akan menjadi sandiwara panjang yang memperbarui kolonialisme dalam versi domestik.
Dalam kesadaran historis yang pahit, serakahnomics adalah pengingat bahwa keserakahan selalu menemukan cara untuk berkamuflase dalam sistem. Namun, sejarah juga mencatat, setiap kezaliman ekonomi yang terlalu jauh pada akhirnya akan menyalakan api perlawanan. Kini pertanyaannya tinggal satu apakah rakyat akan kembali membiarkan dirinya digiring dalam lingkaran kelangkaan buatan, atau memilih menyalakan obor kesadaran untuk meruntuhkan desain yang menghisap napas kehidupan mereka?, tutup dosen yang mengajar di Negeri Jiran ini.
Penulis: A.S.W