Jakarta – Di bawah langit Jakarta yang perlahan mulai menjernih, tepat setahun lebih setelah sumpah diucapkan, kita berdiri di ambang pintu sejarah yang baru. Satu tahun bukanlah sekadar angka dalam kalender linier ia adalah sebuah fragmen eksistensial di mana sebuah bangsa mencoba mendefinisikan ulang takdirnya melalui kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, ucap Fahd A Rafiq di Jakarta pada Rabu, (31 /12/2025).
Secara filosofis Ketua Umum DPP BAPERA ini mengatakan, “kekuasaan bukan sekadar instrumen administrasi, melainkan sebuah kontrak sosial yang hidup. Dalam dua belas bulan ini, kita menyaksikan bagaimana Kabinet Merah Putih berupaya menjahit kembali robekan-robekan sosial melalui kebijakan yang menyentuh akar paling dasar dari kemanusiaan yakni rasa lapar dan kesehatan tubuh, tegasnya.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) muncul bukan hanya sebagai kebijakan fiskal, melainkan sebagai sebuah bentuk “politik nutrisi”. Ia adalah metafora dari orang tua yang memastikan anak-anaknya tidak lagi bergelut dengan kekosongan perut saat mencoba mencerna ilmu pengetahuan, sebuah upaya memutus rantai kemiskinan dari meja makan sekolah, terang Mantan Ketum PP-AMPG ini.
Mantan Ketum DPP KNPI ini melihat secara teknis, “Kehadiran 12.508 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) adalah manifestasi fisik dari kepedulian tersebut. Di sini, negara hadir bukan sebagai entitas abstrak yang jauh di menara gading, melainkan sebagai koki yang meracik masa depan melalui 36,7 juta porsi harapan yang dibagikan setiap hari kepada generasi penerus, terangnya.
Namun, kecerdasan kepemimpinan ini tidak berhenti pada urusan pemenuhan energi fisik. Secara kontemplatif, kebijakan Cek Kesehatan Gratis pada hari ulang tahun adalah sebuah puitika medis. Ia mengubah hari perayaan kelahiran menjadi hari refleksi atas fana-nya raga, sebuah langkah preventif yang jenius untuk menjaga modal manusia nasional, ungkapnya dengan nada gamblang”.
Lebih dalam Fahd melihat, “sekitar 43 juta warga telah menatap cermin kesehatan mereka melalui kebijakan ini hingga Oktober 2025 . Ini adalah pergeseran paradigma dari pengobatan yang reaktif menuju penjagaan yang proaktif, sebuah dialektika antara hak warga negara dan kewajiban negara untuk memastikan “jiwa yang sehat dalam raga yang terjaga.”
“Di sisi lain, transformasi digital melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) adalah jawaban atas kerumitan birokrasi masa lalu. Secara ontologis, data tunggal ini adalah cahaya yang menembus kabut ketidakpastian bantuan sosial, memastikan bahwa mereka yang berhak tidak lagi menjadi bayang-bayang di balik angka yang tumpang tindih.
Digitalisasi bukan sekadar adopsi teknologi, melainkan sebuah efisiensi moral. Dengan menekan potensi kebocoran anggaran hingga Rp300 triliun, pemerintah sedang melakukan pembersihan besar-besaran terhadap parasit-parasit ekonomi yang selama ini menghambat laju gerak bangsa menuju kemandirian, terang Suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komisi IX) ini.
Keberhasilan mencapai swasembada beras pada November 2025 adalah puncak dari perjuangan panjang agraria Indonesia. Setelah puluhan tahun terbelenggu dalam ketergantungan impor, keberanian untuk mencetak 225.000 hektare sawah baru adalah proklamasi kedaulatan pangan yang sesungguhnya.
Produksi 31 juta ton beras adalah angka yang bicara tentang kembalinya martabat petani. Kebijakan memangkas 145 aturan birokrasi pupuk adalah bentuk dekonstruksi terhadap kerumitan yang tak perlu, memberikan nafas lega bagi mereka yang tangannya berlumur lumpur demi memberi makan bangsa.
Dalam dimensi ekonomi makro, stabilitas pertumbuhan di angka 5,04% di tengah badai geopolitik global adalah sebuah anomali yang membanggakan. Ini adalah hasil dari orkestrasi investasi strategis, termasuk kolaborasi baterai raksasa CATL dan ANTAM, yang memposisikan Indonesia bukan lagi sebagai penonton, melainkan pemain utama hilirisasi global.
Fahd A Rafiq mendukung penuh lahirnya Danantara sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) dengan aset lebih dari USD 1 triliun adalah langkah imajinatif kontemplatif dalam mengelola kekayaan negara. Indonesia kini memiliki “jangkar finansial” yang memungkinkan kita berbicara sejajar dengan kekuatan ekonomi besar di forum OECD maupun BRICS, ini ide brilian paparnya.
Dalam sudut pandang pertahanan, penguatan postur militer dengan 100 batalion baru dan komitmen pasukan perdamaian PBB adalah penegasan posisi Indonesia di panggung dunia. Kita adalah negara yang mencintai perdamaian tapi kita harus siap berperang “Si Vis Pacem, Para Bellum” (Jika kau mendambakan perdamaian, bersiaplah untuk perang). Namun tetap siaga menjaga kedaulatan setiap jengkal tanah air dengan kekuatan yang disegani.
Penyitaan kembali 4 juta hektare lahan sawit ilegal adalah simbol dari ketegasan hukum yang tak pandang bulu. Ini adalah pesan psikologis yang kuat kepada para oligarki bahwa ruang gerak untuk menjarah kekayaan alam tanpa izin telah tertutup oleh tirai keadilan yang baru, tegasnya.
Namun, di balik gemerlap angka-angka ini, sang pemimpin tetap mengingatkan kita untuk tidak “ngoyo” atau memaksakan sesuatu yang belum siap. Ada kebijaksanaan timur yang kental di sini, sebuah kesadaran bahwa pembangunan yang berkelanjutan membutuhkan ketelitian, standar kebersihan, dan prosedur tetap yang tak boleh dikompromi.
Satu tahun pertama ini adalah fondasi dari sebuah bangunan besar yang disebut Indonesia Maju. Secara metaforis, Prabowo sedang meletakkan batu-batu kali yang kokoh di dasar sungai yang deras, memastikan bahwa bangunan di atasnya tidak akan goyah saat angin perubahan berhembus lebih kencang di masa depan.
Pemberian beasiswa dan magang bagi 100.000 lulusan S1 adalah investasi pada intelektualitas. Ini adalah pengakuan bahwa tanpa kecerdasan, kekayaan alam hanya akan menjadi jarahan bangsa lain. Upah setara UMR yang ditanggung pemerintah adalah bentuk apresiasi terhadap martabat kaum terpelajar.
Di bidang energi, keberanian melangkah menuju B50 adalah manifestasi dari kemandirian energi. Kita sedang berupaya melepaskan diri dari rantai ketergantungan fosil impor, memanfaatkan kekayaan hijau bumi pertiwi untuk menggerakkan mesin-mesin pembangunan kita sendiri.
Program pembangunan 3 juta rumah adalah upaya menjawab kerinduan mendasar manusia akan tempat bernaung. Rumah bukan sekadar dinding dan atap ia adalah tempat di mana nilai-nilai keluarga dipupuk, dan di mana generasi baru Indonesia pertama kali mengenal arti kenyamanan dan keamanan.
Secara kritis, kita tetap harus mencermati tantangan birokrasi di tengah kabinet yang gemuk. Efektivitas koordinasi antar-kementerian menjadi ujian kecerdasan manajerial yang harus terus dipantau.
Diplomasi bebas aktif yang membawa Indonesia merapat ke BRICS sekaligus memproses keanggotaan OECD menunjukkan kelenturan strategis. Kita tidak lagi memilih pihak, melainkan memilih kepentingan nasional sebagai kompas utama dalam navigasi samudera politik internasional.
Setiap kebijakan yang diambil dalam satu tahun ini tampak seperti potongan puzzle yang mulai menyatu. Dari urusan piring makan anak sekolah hingga meja perundingan ekonomi dunia, semua bermuara pada satu narasi besar: penguatan kedaulatan di segala lini kehidupan.
Psikologi publik kini mulai bergeser dari rasa skeptis menuju harapan yang terukur. Keberhasilan swasembada pangan adalah bukti nyata bahwa mimpi-mimpi besar bisa diwujudkan jika ada kemauan politik (political will) yang keras dan eksekusi yang disiplin di lapangan.
Kita sedang menyaksikan proses alkimia sebuah bangsa, di mana tantangan diubah menjadi peluang, dan janji kampanye ditransformasikan menjadi realitas kebijakan. Ini adalah perjalanan panjang yang baru dimulai, sebuah etape pertama dari maraton menuju visi Indonesia Emas 2045.
Pada akhirnya, 1 Tahun 2 Bulan 11 Hari pemerintahan Kabinet Merah Putih ini adalah sebuah refleksi tentang keberanian untuk bermimpi dan ketangguhan untuk bertindak. “Bermimpilah setinggi langit maka kamu akan jatuh diantara bintang”, kalimat ini yang sedang diperagakan presiden ke -8
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, Indonesia sedang menuliskan bab baru dalam buku sejarahnya sebuah bab tentang martabat, kedaulatan, dan kesejahteraan yang tidak lagi sekadar menjadi utopia dan Presiden seringkali mengatakan dengan tegas konsisten mengamalkan Konstitusi UUD 1945 dan Pancasila secara utuh, Merdeka, tutup dosen yang mengajar di Negeri Jiran Malaysia ini.
Penulis: Wahid Mubarak