Ranny Fahd A Rafiq Sosialisasikan Germas, Jejak Sehat dan MBG dari Diri Sendiri untuk Negeri yang Berdaya

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Bekasi — Dalam upaya membangun bangsa yang tangguh dari akar rumput, Anggota DPR RI Komisi IX, Ranny Fahd A Rafiq, menggandeng Kementerian Kesehatan RI untuk menyapa langsung masyarakat melalui program bertajuk “Sosialisasi Deteksi Dini dan Faktor Risiko Kesehatan yang Berpotensi KLB/Wabah serta Program Makan Bergizi Gratis”, yang digelar Selasa, (22/7/2025) di Medan Satria, Kota Bekasi, Jawa Barat.

 

 

Di tengah gempuran ancaman penyakit dan ketimpangan gizi yang kian nyata, Ranny hadir bukan sekadar membawa pesan kebijakan, melainkan menyulut kesadaran kolektif bahwa menjaga kesehatan bukan lagi pilihan, tapi keharusan untuk menyelamatkan masa depan. Sosialisasi ini menjadi ruang dialog antara negara dan rakyat tempat informasi medis bertemu harapan, dan tempat empati bertumbuh di antara data dan realitas.

 

 

Dalam suasana yang hangat dan partisipatif, masyarakat diajak membuka mata atas bahaya laten penyakit yang sering tersembunyi, namun bisa meledak menjadi bencana bila diabaikan. Lebih dari sekadar sosialisasi, kegiatan ini menggugah batin setiap individu untuk menyadari bahwa tubuh sehat adalah modal utama dalam membangun keluarga yang kuat dan bangsa yang unggul.

 

Melalui Program Makan Bergizi Gratis, Ranny tidak hanya bicara soal angka, tapi tentang wajah-wajah kecil yang harus tumbuh dengan harapan, bukan kekurangan. Ini adalah panggilan untuk kembali pada nilai kemanusiaan yaitu bahwa setiap anak bangsa berhak mendapatkan asupan gizi yang layak, dan setiap warga berhak hidup dalam sistem kesehatan yang melindungi, bukan mengabaikan.

 

 

“Negara hadir tidak hanya dalam kata-kata, tapi dalam langkah nyata yang bisa dirasakan rakyat,” tegasnya Ranny menyadarkan kita semua bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil yang ditanam di hati masyarakat.

 

Disisi lain di tengah riuhnya peradaban modern yang tak henti berlari, manusia kerap kali lupa pada tubuh yang menggendong jiwa dan lupa pada jiwa yang menopang seluruh peradaban. Kita sibuk membangun gedung, mengejar target ekonomi, dan mengutamakan kemajuan teknologi, namun di balik layar, detak jantung masyarakat Indonesia justru perlahan melemah. Penyakit tidak menular (PTM) seperti jantung koroner, diabetes, hipertensi, dan kanker semakin mendominasi angka kematian. Dalam sunyi statistik yang dingin itu, sebuah suara bening menyeruak dari Senayan: Ranny Fahd A Rafiq menegaskan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil dan dari diri sendiri.

 

Sebagai anggota Komisi IX DPR RI, Ranny tidak hanya menggenggam data, tapi menyelami makna di baliknya. Ia memahami bahwa pembangunan kesehatan tak bisa ditumpukan semata pada anggaran, apalagi pada kebijakan teknokratis yang abstrak dari rakyat.

 

Ia mengajak publik kembali ke akar: membangun peradaban sehat melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) sebuah inisiatif nasional yang tampak sederhana, namun menyimpan kekuatan revolusioner dalam menyelamatkan masa depan bangsa.

 

“Germas bukan sekadar kampanye, tapi sebuah kesadaran kolektif. Ia adalah filosofi hidup yang menempatkan tubuh dan jiwa sebagai aset utama negara,” ujar Ranny dengan sorot mata yang menembus batas teknokrasi. Ia menegaskan, gerakan ini bukan milik pemerintah semata. Ini adalah panggilan personal bagi setiap insan untuk menjadi duta gerak, duta gizi, dan duta kebijaksanaan hidup.

 

 

Langkah awalnya? Sesederhana meluangkan waktu 30 menit setiap hari untuk berjalan kaki. Terdengar remeh, namun riset dari WHO menunjukkan bahwa aktivitas fisik ringan secara rutin mampu menurunkan risiko kematian dini hingga 30%. Jalan kaki menjadi revolusi diam yang mengalir di antara kesibukan urban. Ini sebuah bentuk perlawanan lembut terhadap budaya sedentari yang membunuh dalam senyap.

 

 

Tak kalah penting adalah pola konsumsi. “Buah dan sayur bukan sekadar pelengkap piring makan, tapi fondasi imunologis bangsa,” lanjut Ranny. Dalam riset Kementerian Kesehatan RI tahun 2024, hanya 7 dari 100 orang Indonesia yang mengonsumsi buah dan sayur sesuai rekomendasi WHO. Padahal, keduanya adalah benteng utama dari gelombang penyakit tidak menular yang makin menggila.

 

 

Namun, Germas juga mengajarkan kita untuk berpikir kritis soal ruang personal dan sosial. “Merokok jangan di rumah,” seru Ranny, bukan sekadar larangan, tapi manifestasi empati terhadap orang-orang terdekat. Rumah, yang seharusnya menjadi ruang perlindungan, sering kali menjadi sarang racun tak kasatmata.

 

 

Perokok aktif harus menyadari bahwa setiap kepulan asap bukan hanya merusak paru-paru mereka, tapi juga masa depan anak-anak yang menghirupnya tanpa kuasa.

Tidak kalah esensial adalah upaya mengelola stres dengan bijak. Di dunia yang dibanjiri notifikasi dan target berlapis, kemampuan untuk berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan berdialog dengan batin sendiri menjadi keterampilan paling langka. “Mengelola stres adalah seni mengenali diri di tengah keheningan,” ucap Ranny. Ia sadar, bahwa kesehatan mental adalah akar dari kesehatan sosial dan produktivitas nasional.

 

 

Dan di balik segala rekomendasi tersebut, ada satu musuh yang kini mendominasi dapur masyarakat urban: makanan instan. Cepat, praktis, dan murah—namun menyimpan risiko kesehatan jangka panjang. “Pola makan instan mencerminkan pola pikir instan,” tegas Ranny. Ia mengajak publik untuk merebut kembali kendali atas asupan gizi, bukan menyerah pada kenyamanan semu yang dibalut rasa gurih.

 

 

 

 

Germas, dalam pandangan Ranny, bukan proyek jangka pendek, tapi investasi lintas generasi. Ini tentang bagaimana kita mendidik anak-anak untuk mencintai sayur, menjadikan olahraga sebagai gaya hidup, dan menjadikan kesadaran akan kesehatan sebagai nilai sosial yang prestisius. “Masyarakat sehat bukan sekadar mimpi negara maju. Ini adalah keniscayaan jika kita serius,” katanya.

 

Secara filosofis, Germas mengingatkan kita bahwa tubuh bukanlah sekadar wadah, tapi ladang perjuangan. Dalam tubuh yang sehat, ada akal yang jernih, jiwa yang tangguh, dan etos kerja yang tak gampang runtuh. Negara yang unggul bukan dibentuk oleh senjata atau kekayaan, tapi oleh warga negara yang sadar akan kesehatannya sendiri.

 

Dalam kerangka historis, Ranny menyoroti bagaimana peradaban-peradaban besar di masa lalu runtuh bukan karena perang, melainkan karena penyakit dan lemahnya fondasi sosial. Ia mengajak kita belajar dari Roma, Bizantium, bahkan Majapahit bahwa ketika kesehatan rakyat diabaikan, maka kejatuhan tinggal menunggu waktu.

 

 

Sebagai legislator muda, Ranny tak ingin sekadar menjadi juru bicara anggaran. Ia ingin menjadi bagian dari gerakan kultural yang mentransformasikan cara bangsa ini melihat kesehatan. Germas, dalam penghayatannya, adalah gerakan spiritual dan eksistensial adalah upaya menyatu kembali antara tubuh, pikiran, dan bangsa.

 

“Mari kita semua menjadi duta gerak,” pungkasnya. Bukan dalam arti seremoni, melainkan menjadi teladan di ruang terkecil yakni dalam keluarga, komunitas, dan media sosial. Sebab perubahan tak pernah datang dari langit. Ia tumbuh dari tanah tempat kaki kita berpijak, dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsistensi dan cinta.

 

Dan memang, dalam dunia yang gemar mengukur segalanya dengan angka, Germas hadir sebagai gerakan yang mengingatkan bahwa hidup bukan hanya soal panjang umur, tapi tentang kualitas waktu yang kita habiskan dengan sehat, bahagia, dan berarti.

 

Ranny tahu, ini bukan perjuangan instan. Tapi ia percaya negara besar dimulai dari hal yang paling pribadi yaitu dari cara kita memperlakukan tubuh kita sendiri. Dan dari situ, sejarah baru bisa ditulis yakni sejarah Indonesia yang sehat, kuat, dan tak mudah dikalahkan oleh zaman.

 

 

Maka biarlah Germas menjadi awal, bukan akhir. Menjadi fondasi dari revolusi sunyi yang akan membentuk bangsa ini bukan sekadar bertahan, tetapi juga berdaya saing, unggul, dan bermartabat. Dalam diam, tubuh yang sehat tengah menyiapkan negeri ini untuk melompat lebih tinggi, tutupnya.

 

 

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita