Fahd A Rafiq: Bendera Bajak Laut di Langit Merah Putih Sebuah Refleksi tentang Identitas, Ekspresi, dan Nasionalisme

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jakarta – Di tengah bulan Agustus yang sarat dengan gema perjuangan dan nostalgia kemerdekaan, langit Indonesia tiba-tiba dihiasi bukan hanya oleh sang saka Merah Putih, tetapi juga oleh sebuah simbol fiktif dari dunia lain bendera bajak laut One Piece. Sebuah fenomena yang tak hanya mengundang tanya, tapi juga mengguncang ruang publik dengan berbagai tafsir, emosi, dan prasangka, Ucap Fahd A Rafiq di Jakarta pada Selasa, (5/8/2025).

 

 

 

 

Ketua Umum DPP BAPERA ini mengatakan, “Fenomena ini seperti jendela yang terbuka menuju pertanyaan eksistensial bangsa: apakah generasi kini telah kehilangan makna simbol negara? Ataukah, mereka hanya sedang mencari bahasa baru untuk menyampaikan keresahan lama yang tak kunjung didengar? Di persimpangan ini, suara akal dan hati kembali diuji.

 

 

Fahd A Rafiq, politisi muda yang dikenal vokal dan reflektif, mencoba memberi konteks atas gejala ini. Baginya, pengibaran bendera One Piece bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan ekspresi yang perlu dilihat dengan lensa yang lebih luas. Ia menegaskan, selama tidak ada niat memecah belah, negara tidak perlu alergi pada ekspresi budaya populer.

 

 

Namun, Mantan Ketua Umum PP – AMPG ini juga mengingatkan bahwa selalu ada kemungkinan ruang-ruang ekspresi digunakan sebagai panggung provokasi. “Di balik simbol yang tampak main-main, bisa saja tersembunyi agenda yang serius,” ujarnya dengan nada waspada, mengajak masyarakat agar tidak terjebak pada romantisme simbol tanpa membedah maknanya, cetusnya.

 

 

Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto, melalui juru bicaranya, menegaskan bahwa Merah Putih adalah keniscayaan, bukan pilihan. Simbol ini, kata Prabowo, lahir dari darah dan air mata, bukan dari dunia fiksi. Di balik selembar kain dua warna itu, tersimpan semangat perjuangan yang tak bisa digantikan oleh tokoh kartun manapun.

 

 

Apa yang disampaikan Presiden Prabowo adalah panggilan untuk kembali ke akar sejarah. Sebuah pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hasil ilustrasi, melainkan pengorbanan konkret. Namun demikian, pemimpin negara juga menunjukkan keterbukaan ekspresi diperbolehkan, asalkan tidak menggerus kesakralan.

 

 

Pemerintah melalui Mensesneg Prasetyo Hadi juga bersuara senada. Ia menyatakan bahwa kebebasan berekspresi adalah hak, tapi harus berdiri di atas landasan nasionalisme. “Jangan sampai semangat merayakan justru merusak makna kemerdekaan,” katanya, menyeimbangkan antara hak individu dan tanggung jawab kolektif.

 

 

Dalam dunia yang makin cair antara realitas dan virtualitas, kita menyaksikan pergeseran paradigma. Generasi muda lebih dekat dengan Naruto ketimbang Soekarno. Mereka lebih mengenal Luffy ketimbang Ki Hajar Dewantara. Apakah ini krisis, atau sekadar transformasi identitas nasional?, ungkap Suami dari Ranny (Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar) ini.

 

 

Lebih dalam Fahd melihat mungkin, bendera One Piece yang berkibar itu bukan bentuk penghinaan, tetapi seruan yang belum kita pahami. Sebuah metafora dari generasi yang merasa jenuh dengan narasi kebangsaan yang kaku dan tidak relevan dengan hidup mereka. Mereka tidak anti-nasionalis, hanya ingin berbicara dalam bahasa yang mereka pahami, ucap Fahd.

 

 

Namun, tak bisa dipungkiri pula bahwa setiap simbol memiliki daya magisnya. Bendera, seperti kata Benedict Anderson, adalah sarana membayangkan bangsa. Jika simbol itu dipermainkan tanpa pemahaman, maka akan lahir kekosongan makna yang berujung pada pengikisan identitas.

 

 

Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, turut angkat suara. Ia menilai bahwa selama pengibaran bendera One Piece tidak dimaksudkan untuk mencederai persatuan, maka tak perlu dibesar-besarkan. Tapi, Dasco juga menggarisbawahi pentingnya menjaga kehormatan simbol negara, terutama saat Hari Kemerdekaan.

 

 

Pernyataan itu seperti benang merah yang menjahit sudut pandang para pemimpin bangsa menghormati ekspresi, tapi tidak mengorbankan esensi. Di sinilah tantangan kebangsaan kita hari ini bagaimana menjadi bangsa yang inklusif tanpa menjadi permisif.

 

 

Filsuf Prancis, Jean Baudrillard, pernah menyebut era ini sebagai masa simulakra, di mana simbol lebih nyata daripada kenyataan. Bendera bajak laut yang berkibar di dinding rumah warga mungkin lebih menggugah emosi mereka dibanding cerita perjuangan 1945. Ini bukan karena lupa, tapi karena narasi sejarah seringkali terasa asing.

 

 

Mantan Ketua Umum DPP KNPI ini mengajak publik untuk bertanya, mengapa simbol fiksi terasa lebih dekat dari pada simbol perjuangan? Apakah karena sejarah kita telah dibekukan dalam buku teks dan upacara formal yang kering? Ataukah karena imajinasi kita tak diberi ruang untuk berkelindan dengan kebangsaan?

 

 

Jawaban mungkin ada di antara keduanya. Sejarah yang tidak dihidupkan hanya akan menjadi museum. Dan kebangsaan yang tak mampu berdialog dengan zaman hanya akan menjadi artefak. Maka yang dibutuhkan hari ini adalah reimajinasi nasionalisme yang tetap berpijak pada akar, tapi bisa menjulang seperti pohon yang merangkul angin zaman.

 

Mengibarkan Merah Putih harus tetap menjadi pusat perayaan Agustus. Tapi mengapa tidak membuka ruang dialog tentang simbol-simbol alternatif yang lahir dari generasi sekarang? Bukan untuk mengganti, melainkan untuk menjembatani antara kenangan dan harapan.

 

Apa yang tampak sebagai “kenakalan simbolik” dari generasi muda bisa jadi adalah cermin. Kita yang dewasa perlu berkaca. Apakah kita sudah cukup memberi makna pada kemerdekaan, ataukah kita hanya mengulang seremoni tanpa refleksi?

 

Fahd A Rafiq dengan keberanian intelektualnya, memilih jalan tengah. Ia tidak buru-buru mengecam, tapi juga tidak menormalisasi. Baginya, setiap gejala sosial adalah pintu diskusi, bukan palu vonis. Ia mengajak publik untuk cerdas dalam membaca simbol dan tidak terjebak pada sensasi.

 

Narasi kebangsaan harus hidup, harus lentur, harus bisa merangkul generasi yang tumbuh dengan internet dan anime. Tapi lentur bukan berarti lemah. Ia harus memiliki tulang belakang, yang tak lain adalah nilai-nilai perjuangan dan semangat persatuan.

 

Di sinilah pentingnya peran negara, bukan hanya sebagai penjaga batas, tapi juga sebagai pengarah makna. Negara tidak boleh membungkam ekspresi, tapi juga tak boleh membiarkan kebingungan menjadi norma.

Bulan kemerdekaan adalah saat yang sakral. Sebuah momentum kontemplatif untuk menimbang ulang makna kebangsaan. Dan kadang, simbol-simbol asing yang menyelinap di sela perayaan justru menjadi pemantik untuk bertanya lebih dalam apa arti merdeka hari ini?

 

One Piece, pada akhirnya, bukan musuh. Ia hanyalah cermin. Apakah kita siap bercermin? Ataukah kita akan terus menolak wajah baru dari anak-anak bangsa yang tengah mencari jalannya sendiri menuju nasionalisme?

 

Perayaan kemerdekaan tak melulu harus kaku dan normatif. Tapi ia juga tak boleh kehilangan arah. Dalam tarian antara ekspresi dan etika, bangsa ini diuji, bisakah ia tetap merdeka tanpa tercerai?

Seperti laut yang luas dalam cerita One Piece, Indonesia adalah samudera ide, ekspresi, dan identitas. Tapi ia tetap butuh mercusuar bendera Merah Putih. Tanpanya, kita hanya kapal yang tersesat, mengikuti angin tren tanpa tahu arah pulang.

 

Maka kibarkanlah Merah Putih setinggi langit, dan biarkan simbol-simbol lain berdialog, bukan mendominasi. Karena kemerdekaan bukan tentang memilih satu warna, tapi tentang menjaga agar warna-warni tetap berada dalam bingkai yang sama yakni Indonesia, tutup Dosen yang mengajar di negeri Jiran ini.

 

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita