Fahd A Rafiq: Bhinneka yang Lupa Menjadi Ika, Ini Kisah Negeri yang Membiarkan Luka Membusuk

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BAGIAN IV

 

Ketika Senjata Tak Lagi Cukup, Maka Hati Nurani Harus Menjadi Garda Terdepan

Fahd El Fouz A Rafiq

(Ketua Umum DPP BAPERA)

 

Jakarta — Di negeri yang begitu fasih bicara Pancasila, kadang kita lupa bahwa lima sila itu bukan sekadar slogan, melainkan janji. Janji yang ketika diingkari bisa berubah menjadi bara dalam dada sebagian anak bangsa. Bara itu tidak selalu langsung menyala. Ia bisa mengendap di lorong-lorong sunyi, di kamar sempit kontrakan, di jari-jari yang menggulirkan konten radikal, hingga suatu hari ia meledak bukan hanya dalam bentuk bom, tapi dalam kehilangan rasa menjadi bagian dari republik ini ucap Fahd A Rafiq di Ankara, Turki pada Jum’at, (11/7/2025).

 

 

Ketum DPP BAPERA mengatakan, “Terorisme di Indonesia pasca Reformasi bukan hanya ancaman keamanan. Ia adalah cermin retak dari sebuah sistem yang terlalu lama mendiamkan rasa kecewa dan tertolak. Dalam sejarah bangsa, kita terlalu sering menambal lubang dengan tambal sulam birokrasi. Tapi lubang dalam dada mereka yang merasa tak dianggap tak ada tambalan secepat operasi militer, ucapnya.

 

 

Mantan Ketum PP – AMPG ini mengutip kalimat dari Socrates yakni hidup yang tak diperiksa tidak layak dijalani. Maka pertanyaannya bukan hanya mengapa bom meledak, tetapi mengapa seseorang merasa harus meledakkan dirinya agar didengar? Di sinilah akar yang tak tampak bekerja. Radikalisme bukan datang tiba-tiba seperti petir, ia tumbuh seperti jamur dalam kelembapan frustrasi frustrasi ekonomi, ideologis, sosial, dan spiritual, cetusnya.

 

Fahd melihat, Indonesia bukan kekurangan program, tapi kekurangan makna. Negara ada, tapi tidak hadir. Ia hadir dalam bentuk satgas, tapi absen saat rakyat butuh ruang mendengar dan didengar. Dan dari kekosongan makna itulah ideologi ekstremis mengisi ruang jiwa dengan memberi narasi, musuh bersama, dan “harga diri palsu” melalui kekerasan, cetusnya.

 

 

Penindakan memang penting, tapi penindakan bukan solusi, ia hanya bentuk pengelolaan krisis. Jika akar persoalan tetap dibiarkan, maka kita hanya akan bermain dalam siklus “bunuh satu, tumbuh seribu”. Dalam observasi terhadap kasus-kasus seperti Poso, Surabaya, hingga jaringan JAD yang muncul bukan semata ideologi tapi manusia-manusia yang luka dan kalah oleh ketimpangan sistemik, tegas Fahd.

 

Suami dari anggota DPR RI ini mendalami, “Pendidikan kita selama ini terlalu fokus pada nilai, bukan pada nalar. Anak-anak diajarkan rumus, tapi tidak diajarkan bertanya. Mereka hafal ayat, tapi tak paham kasih. Maka yang harus dibangun adalah pendidikan ideologis yang kritis, bukan dogmatis, sarannya.

 

Fahd menyankan maraknya literasi digital bukan lagi pilihan. Di dunia algoritma, radikalisasi tidak butuh ceramah, cukup video 2 menit dan grup WhatsApp keluarga. Maka generasi baru harus dididik untuk membedakan mana agama dan mana alat kekuasaan yang dibungkus agama, usulnya.

 

Keadilan Sosial: Vaksin Paling Efektif Melawan Radikalisme

 

Mantan Ketum GEMA MKGR menilik analisa dari The Spirit Level (Wilkinson & Pickett) menunjukkan korelasi langsung antara ketimpangan sosial dan kekerasan. Di negara yang timpang, rakyat mudah mencari kambing hitam. Maka keadilan ekonomi bukan bonus, tapi fondasi keamanan. Pemerintah harus berhenti percaya bahwa infrastruktur adalah segalanya. Apa arti jalan tol jika hanya mereka yang punya mobil bisa melintas? Pembangunan harus manusiawi, bukan hanya beton, tegas fahd.

 

Fahd melihat, Densus 88 telah banyak berjasa tapi langkah ke depan menuntut intelijen yang empatik, bukan hanya taktis. Deteksi dini harus berbasis komunitas, bukan hanya pantauan digital. Di penjara, para napi teror harus dibebaskan dari narasi kebencian melalui rehabilitasi psikologis dan teologis yang humanis. Mantan pelaku seperti Ali Fauzi harus dirangkul sebagai agen perubahan, bukan hanya dikurung sebagai ancaman, sarannya.

 

Keluarga dan RT/RW: Garda Terdepan yang Terabaikan

 

Fahd menegaskan kembali, “banyak aksi teror dirancang dari ruang tamu yang sunyi. Dari anak muda yang merasa tidak dilihat, hingga orang tua yang sibuk membayar cicilan dan lupa bertanya: “Kamu belajar apa hari ini?”

Pelatihan orang tua, guru, dan tokoh RT untuk memahami tanda-tanda radikalisasi harus menjadi bagian dari sistem pencegahan nasional. Kita tidak butuh ribuan CCTV jika kita punya sejuta mata kasih di lingkungan sekitar, sarannya.

 

Fahd menyampaikan, “Terorisme adalah narasi kekuasaan yang menyamar sebagai makna. Maka melawannya bukan dengan senjata, tapi dengan narasi yang lebih kuat dan memikat. Film, puisi, musik, dan konten digital harus digunakan untuk membentuk makna baru tentang hidup, cinta, dan Indonesia.

 

Bayangkan jika influencer terbesar di negeri ini menyuarakan empati alih-alih sensasi. Bayangkan jika drama televisi kita menampilkan kisah lintas iman yang menginspirasi, bukan memperkuat stereotip.

 

 

Negara harus berhenti melihat eks-pelaku sebagai virus yang harus diisolasi. Mereka adalah pintu masuk menuju pemahaman yang lebih dalam tentang luka sosial. Libatkan psikolog, antropolog, dan komunitas lokal.

 

Jangan hanya memberi pelatihan keterampilan, tapi berikan juga makna baru tentang hidup. Karena bom bukan hanya dirakit dari bahan kimia, tapi dari luka eksistensial yang tidak disembuhkan.

 

Apakah negara ini rumah untuk semua atau hanya untuk yang mampu membeli properti? Apakah republik ini melindungi semua, atau hanya yang berani membayar perlindungan?

 

Terorisme akan selalu menjadi godaan di negeri yang tidak adil. Maka kita tidak butuh lebih banyak senjata, tapi lebih banyak keadilan. Kita tidak perlu lebih banyak kamera, tapi lebih banyak kehadiran yang manusiawi, bukan hanya administratif.

 

Bangsa ini akan tetap utuh bukan karena bom gagal meledak, tapi karena tak ada lagi yang merasa perlu meledakkan dirinya. Sebab di negeri yang adil, cinta tak lagi menjadi senjata rahasia.

 

Jika negara mampu membungkam pelaku, maka masyarakat harus membungkam sebabnya dengan pendidikan, keadilan, makna, dan di atas semuanya, dengan cinta yang terorganisir.

 

“Ledakan hanya akan berhenti jika yang tak terdengar mulai didengarkan. Karena yang paling mematikan bukan bom, tapi diamnya kita terhadap luka yang kita biarkan tumbuh”, tutup dosen yang mengajar di Negeri Jiran ini.

 

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita