Mekkah– Di ufuk Februari 2026, ketika mega merah mulai bersitungkin dengan azan Maghrib, Indonesia tidak sekadar sedang menahan lapar. Fahd A Rafiq, dengan tatapan tajam yang menembus lapisan geopolitik, memandang Ramadhan tahun ini sebagai sebuah laboratorium eksistensial bagi ketahanan nasional, Ucapnya dari Kota Mekkah, Arab Saudi pada Rabu, (18/2/2026).
Bagi Ketua Umum DPP BAPERA ini setiap detik di bulan suci ini adalah mikrokosmos dari pertarungan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan (Ipoleksosbudhankam) yang tengah bergejolak di panggung global.
Secara filosofis, Mantan Ketua Umum PP – AMPG ini melihat puasa sebagai bentuk dekonstruksi kekuasaan absolut manusia atas hasratnya sendiri. Dalam konteks Politik, Ramadhan 2026 menjadi jangkar kerukunan intern dan ekstern umat beragama di mana narasi persatuan harus dipaksakan untuk melampaui ego sektoral. Ia berpendapat bahwa jika sebuah bangsa mampu menaklukkan insting purba biologisnya selama tiga puluh hari, maka menjaga kedaulatan politik dari intervensi asing seharusnya menjadi tugas yang lebih ringan, paparnya.
Secara Ideologis, Mantan Ketua Umum DPP KNPI ini membedah bahwa Ramadhan adalah antitesis terhadap materialisme buta. Fahd melakukan observasi mendalam bahwa di tengah gempuran digitalisasi yang mendehumanisasi, puasa mengembalikan manusia pada poros transendentalnya. Ini adalah pertahanan ideologi Pancasila yang paling organik, di mana sila Ketuhanan dan Kemanusiaan melebur dalam satu cawan penderitaan yang sama yakni rasa lapar yang kolektif, cetusnya.
Memasuki ranah Ekonomi, Putra dari musisi legend A Rafiq ini menganalisis fenomena perputaran uang yang masif sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, zakat dan sedekah menjadi instrumen redistribusi kekayaan yang melampaui efisiensi teori ekonomi manapun. Namun di sisi lain, ia mengkritisi konsumerisme yang seringkali membalut wajah Ramadhan dengan kemewahan palsu, yang jika tidak dikelola, justru akan memperlebar jurang Gini Ratio di tengah masyarakat, ungkapnyan
Dari Perspektif Sosial-Budaya, Mantan Ketum Gema MKGR ini melihat Bulan Ramadhan 2026 adalah tenunan historis-kontemplatif tentang identitas bangsa yang agraris namun teknologis. Tradisi mudik yang diprediksi mencapai puncak baru di tahun ini dilihatnya sebagai pergerakan massa yang memperkuat kohesi sosial. Fahd mencatat bahwa interaksi antar-kelas di meja buka puasa bersama adalah bentuk modal sosial yang tidak bisa dibeli dengan anggaran negara mana pun.
Dalam aspek Pertahanan dan Keamanan (Hankam), pengusaha muda ini mengajukan tesis bahwa ketahanan nasional sejati berakar pada ketahanan mentalitas warga negara. Ramadhan melatih kedisiplinan massal yang setara dengan latihan militer tanpa senjata. Keamanan negara, menurut analisis kritisnya, tidak hanya dijaga oleh moncong senjata, tetapi oleh perut yang terisi secara adil dan jiwa yang tenang dalam lindungan spiritualitas yang kokoh, ungkapnya.
Beralih pada perspektif yang lebih intim dan menyentuh akar kemanusiaan, Ranny Fahd Arafiq (Anggota DPR RI) membawa narasi ini ke dalam labirin kesejahteraan publik. Baginya, Ramadhan bukan sekadar ritual, melainkan audit tahunan terhadap kondisi Kesehatan bangsa. Ia menyoroti bagaimana pola konsumsi di bulan ini harus menjadi momentum transformasi gizi, bukan sekadar peralihan waktu makan, guna memutus rantai stunting yang masih menghantui masa depan Indonesia.