Jakarta – Di tengah dunia yang kian bising oleh kompetisi global, identitas bangsa kerap diuji bukan lewat senjata, melainkan melalui simbol olahraga, film, musik, dan narasi. Di titik inilah usulan pendobrak tentang Pencak Silat dan film The Raid menemukan relevansinya sebuah ikhtiar menempatkan budaya Indonesia bukan sebagai artefak museum, melainkan sebagai subjek aktif peradaban dunia, ucap Fahd A Rafiq di Jakarta pada Selasa,16 Desember 2025.
Ketua Umum DPP BAPERA, “melihat gagasan ini bukan sekadar romantisme nasionalisme. Ia adalah pernyataan eksistensial bangsa yang besar tidak menunggu pengakuan, tetapi memaksanya hadir lewat konsistensi, keberanian, dan logika diplomasi yang matang, paparnya.
Lebih dalam Mantan Ketum PP-AMPG ini melihat ” Pencak Silat bukan sekadar rangkaian jurus. Ia adalah filsafat tubuh dan jiwa, lahir dari sejarah perlawanan, disiplin batin, dan harmoni dengan alam”. Ketika UNESCO mengakuinya sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2019, dunia sejatinya telah memberi tanda. Indonesia memiliki sesuatu yang bernilai universal.
Lebih dalam Suami dari Ranny (Anggota DPR RI KOMISI IX) ini memaparkan lebih dalam, pengakuan budaya tidak otomatis berbanding lurus dengan pengakuan olahraga. Olimpiade adalah arena politik global yang tersenyum ramah, tetapi menuntut syarat kejam sebaran lintas benua, standar teknis tunggal, kepatuhan antidoping, dan kepastian tata kelola. Di sinilah perjuangan silat kerap tersendat, ungkapnya.
Fahd A Rafiq membaca situasi ini dengan jujur. Ia menyebut silat sebagai diplomasi budaya yang harus “naik kelas”. Sebuah frasa sederhana, tetapi sarat makna. Naik kelas berarti keluar dari rasa puas diri, meninggalkan romantisme lokal, dan berani bermain di meja global dengan aturan global. Paparnya.
Organisasi pencak silat seperti IPSI telah lama bernegosiasi dengan IOC. Pengakuan dari AIMS adalah batu loncatan penting, meski belum cukup. Fakta di lapangan menunjukkan silat memang telah menyebar ke lebih dari 80 negara, tetapi konsistensi organisasi, kualitas kompetisi, dan afiliasi ke Komite Olimpiade Nasional di tiap negara masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Target Olimpiade Los Angeles 2028 terdengar ambisius, bahkan bagi sebagian orang terkesan utopis. Namun sejarah olahraga membuktikan bahwa cabang-cabang seperti taekwondo dan karate pun menempuh jalan panjang, penuh lobi, resistensi, dan kompromi sebelum akhirnya diterima. Apapun caranya dan bagaimanapun caranya Pencak Silat harus dimainkan di Olimpiade Los Angeles 2028, paparnya.
Di sinilah negara ini diuji, apakah ia sekadar menjadi penonton dari warisan sendiri, atau menjadi aktor yang dengan sadar menginvestasikan energi politik, finansial, dan intelektual untuk mendorong silat ke panggung tertinggi.
Paralel dengan olahraga, Mantan Ketum DPP KNPI ini mengangkat kembali ingatan kolektif tentang The Raid. Film ini bukan sekadar tontonan brutal, ia adalah teks budaya. Pencak Silat dipresentasikan bukan sebagai folklor eksotis, melainkan sebagai seni bela diri modern yang efektif, keras, dan berkelas dunia itu pesannya.
Pelarangan The Raid di beberapa negara, dengan dalih kekerasan, layak dibaca lebih kritis. Dunia perfilman global dipenuhi adegan berdarah, dari kungfu hingga tinju jalanan ala Hollywood. Kekerasan sering kali hanya alasan aman untuk menutupi kegelisahan yang lebih dalam, ini ketakutan akan pengaruh budaya yang tak bisa dikendalikan, papar Mantan Ketum GEMA MKGR ini.
Film adalah seni, dan seni bekerja dengan kejujuran emosi. Menuntut film bela diri tanpa kekerasan sama absurdnya dengan meminta laut tanpa ombak. Mantan Ketum DPP KNPI ini sangat tepat ketika menyebut dunia film sebagai ruang berkarya untuk negeri, bukan ruang steril tanpa konflik.
Kungfu dari Tiongkok, taekwondo dari Korea Selatan, dan tinju dari Inggris. masuk ke Indonesia tanpa hambatan berarti. Mereka datang bersama film, industri, dan legitimasi internasional. Tidak ada yang mempertanyakan “moralitas” ketika kepentingan ekonomi dan geopolitik bermain rapi di belakang layar, cetus Fahd.
Pertanyaannya kemudian sederhana, tetapi menohok mengapa kita begitu keras pada milik sendiri, tetapi begitu lunak pada budaya luar? Di sinilah nasionalisme diuji, bukan sebagai slogan, melainkan sebagai keberanian mengambil risiko.
Fahd menyentuh titik sensitif ketika menyebut bahwa pelarangan sering kali menandakan ketakutan. Dalam perspektif geopolitik budaya, ketakutan muncul saat sebuah identitas mulai terasa kompetitif, mampu mempengaruhi selera global, dan berpotensi menggeser dominasi lama.
Pencak Silat dan The Raid berada di simpul yang sama yakni keduanya menawarkan narasi Indonesia yang tidak inferior, tidak meminta izin, dan tidak berusaha menyenangkan semua orang. Narasi seperti inilah yang kerap dianggap mengganggu, tegasnya.
Namun, mengganggu bukan berarti destruktif. Dalam filsafat, gangguan adalah awal kesadaran. Dunia perlu diganggu oleh silat yang disiplin, film yang jujur, dan musik yang hidup agar Indonesia tidak terus terperangkap dalam citra eksotis yang jinak.
Upaya memasukkan silat ke Olimpiade juga menuntut kedewasaan internal. Standarisasi aturan berarti kompromi pada ego aliran. Kepatuhan WADA berarti profesionalisme total. Penyebaran global berarti kerja sunyi bertahun-tahun, bukan euforia sesaat.
Di sinilah peran pejabat negara menjadi krusial. Bukan pejabat yang pandai berpidato, tetapi yang berani pasang badan, konsisten melobi, dan tidak gentar pada kritik. Diplomasi budaya bukan kerja populer, tetapi memiliki dampak yang strategis dan sistemik.
Fahd yang percaya pada nalar, melihat gagasan ini bukan sebagai nostalgia tentang bela diri, melainkan sebagai strategi soft power. Dunia modern dimenangkan oleh siapa yang menguasai imajinasi, bukan sekadar kekuatan fisik.
Silat di Olimpiade akan mengubah cara dunia memandang Indonesia dari negara konsumen budaya menjadi produsen nilai. Film Pencak silat yang kembali berjaya akan menegaskan bahwa kita tidak malu pada ekspresi tubuh, konflik, dan keberanian bercerita, ungkapnya.
Hal ini tentu akan ada penolakan. Selalu ada Sejarah dan tidak pernah ramah pada ide besar di awal kemunculannya. Tetapi bangsa yang matang tidak berhenti karena ditolak ia memperbaiki strategi, bukan menyerah pada ketakutan, ungkap Putra Mendiang A Rafiq ini.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan apakah silat layak masuk Olimpiade atau The Raid layak diproduksi ulang. Pertanyaannya: apakah kita siap berdamai dengan identitas kita sendiri, lengkap dengan keras, liar, dan jujur.
Jika jawabannya ya, maka Pencak silat bukan hanya akan bertanding di arena dunia, tetapi juga menancap di kesadaran global sebagai simbol bangsa yang berpikir, berani, dan tahu persis siapa dirinya. Dan di sanalah, diplomasi sejati menemukan maknanya, papar Dosen yang mengajar di negeri Jiran ini.
Penulis: A.S.W