Jakarta – Ada bangsa yang kalah bukan karena senjata, melainkan karena ragu pada dirinya sendiri. Indonesia pernah berdiri di panggung dunia bukan lewat podium diplomasi, tetapi melalui denting gendang, lenggok tubuh, dan suara rakyat yang jujur, musik dangdut. Namun sejarah mencatat, momentum itu justru dipatahkan oleh tangan bangsa sendiri, tegas Fahd A Rafiq di Jakarta pada, Desember 2025.
Ketua Umum DPP BAPERA mengatakan, awal 2000-an menjadi persimpangan penting dalam narasi budaya Indonesia. Dunia menoleh ke Nusantara diawal tahun 2000an lewat sosok Inul Daratista dengan goyang ngebor yakni sebuah ekspresi tubuh yang lahir dari tradisi hiburan rakyat, bukan dari laboratorium moral kelas menengah perkotaan, paparnya.
Alih-alih membaca fenomena tersebut sebagai peluang diplomasi budaya, negara ini terjebak dalam perdebatan etika sempit. Panggung publik berubah menjadi ruang penghakiman, seolah kebudayaan harus steril dari gairah, padahal sejarah seni selalu berkelindan dengan tubuh dan hasrat. Manusia pasti memiliki hasrat, inilah Indonesia dengan segala macam ragam dan keunikannya, paparnya
Suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komisi IX) ini memaparkan, di titik inilah Indonesia kalah dalam perang narasi. Bukan karena dunia menolak dangdut, melainkan karena bangsa ini gagal membela dirinya sendiri di hadapan opini global. Kita sibuk mengadili ekspresi, sementara negara lain merayakan diferensiasi, tegasnya.
Budaya populer sejatinya adalah bahasa universal. Ia melompati sekat ideologi, menembus dogma, dan menyusup ke ruang bawah sadar publik internasional. Dunia mengenal Korea lewat K-Pop, Brasil lewat samba, India lewat Bollywood Indonesia semestinya bisa lewat dangdut, cetusnya dengan nada geram.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dangdut diposisikan sebagai masalah moral, bukan aset strategis. Negara kehilangan keberanian untuk membaca realitas global, di mana budaya bukan sekadar identitas, melainkan instrumen kekuatan lunak.
Fahd A Rafiq, putra dari legenda dangdut A Rafiq, memandang ironi ini dengan kejernihan yang jarang dimiliki elite budaya. Ia membawa memori sejarah sekaligus kesadaran geopolitik tentang bagaimana seni seharusnya diperlakukan oleh negara berdaulat, ungkapnya.
Bagi Mantan Ketum PP – AMPG ini, dangdut bukan sekadar hiburan, melainkan hasil dialektika panjang antara Melayu, India, Arab, dan ritme lokal Nusantara. Ia adalah bukti bahwa Indonesia sejak lama hidup dalam persilangan peradaban, jauh sebelum istilah globalisasi menjadi jargon, cetusnya.
Ketika dangdut diserang oleh bangsanya sendiri, yang sebenarnya dipertaruhkan bukan soal goyang, melainkan keberanian nasional untuk berdamai dengan identitasnya. Moralitas sering dijadikan tameng, padahal yang beroperasi adalah ketakutan terhadap kebebasan ekspresi, kita dijebak alunan bangsa lain, terangnya.
Dalam logika diplomasi budaya, pelarangan adalah pengakuan tak langsung atas kekuatan. Tidak ada yang dilarang jika tidak dianggap berpengaruh. Kritik menandakan perhatian, tetapi pembungkaman menunjukkan kepanikan, ungkapnya.
Fahd A Rafiq melihat lebih mendalam bahwa Sejarah global mencatat bahwa budaya yang awalnya dicemooh sering kali menjadi ikon nasional di kemudian hari. Jazz pernah dianggap liar, rock dituduh merusak moral, hip-hop dicap subversif. Waktu selalu membuktikan bahwa ketakutan sosial jarang berumur panjang, terangnya.
Indonesia gagal belajar dari pola itu. Alih-alih merawat dangdut sebagai arsip hidup kebudayaan, negara membiarkannya terfragmentasi oleh stigma. Akibatnya, peluang untuk mengemasnya sebagai diplomasi budaya berkelas pun menguap, ungkap Fahd dengan nada sedikit kesal.
Fahd A Rafiq membaca kegagalan ini sebagai problem struktural absennya pejabat dengan keberanian kultural. Kita memiliki banyak regulator, tetapi miskin visioner yang memahami bahwa budaya tidak bisa diatur dengan logika sensor semata, ada yang lebih besar yakni Narasi Budaya Indonesia di level global. Kita hari ini butuh pejabat yang punya nyali besar, visi besar dan berani mendobrak zaman, bukannya menyerah dengan Narasi bangsa lain.
Nasionalisme sejati tidak lahir dari larangan, melainkan dari keberanian menunjukkan jati diri ke dunia. Mencintai budaya bangsa berarti melindunginya dari penghakiman berlebihan, bukan memenjarakannya dalam definisi moral yang sempit, faham ya sampai sini.
Dangdut, dengan segala inovasinya, adalah karya anak bangsa yang tumbuh dari akar sosial paling jujur. Ia hidup di hajatan, terminal, warung kopi, dan panggung kampung dan dari ruang-ruang yang sering diabaikan oleh wacana elite, tegasnya.
Menolak dangdut sama dengan menolak suara kelas bawah yang selama ini menjadi penyangga republik. Dalam perspektif sosiologis, pelarangan itu mencerminkan ketimpangan relasi kuasa antara pusat moral dan pinggiran budaya, papar Mantan Ketum DPP KNPI ini.
Jika bangsa lain melarang budaya kita, itu tandanya ancaman bagi budaya mereka. Namun ketika larangan datang dari dalam, itu sinyal krisis kepercayaan diri. Indonesia pernah gentar pada bayangannya sendiri, ini kan aneh. Coba lihat dari perspektif yang berbeda. Kasus Inul yang dulu dikenal dengan goyang ngebornya membuat negara lain yang menjadi Orkestrator bersorak kegirangan, karena bangsa sendiri yang melawan, ini kekalahan loh! Tegasnya.
Saya hari ini berdiri pada posisi yang tidak populer namun penting, budaya tidak boleh terus-menerus meminta maaf atas keberadaannya. Seni tidak lahir untuk disucikan, tetapi untuk dipahami dalam konteks zamannya, Ucap Fahd A Rafiq dengan nada tegas.
Dalam dunia yang digerakkan oleh citra dan persepsi, diplomasi tidak lagi hanya soal perjanjian bilateral. Ia bergerak melalui festival, film, musik, dan ikon populer yang membentuk imajinasi global tentang suatu bangsa.
Indonesia membutuhkan keberanian politik untuk keluar dari trauma masa lalu. Bukan dengan menafikan kritik, tetapi dengan mengelolanya secara dewasa dan strategis. Pejabat bermental birokrat tidak akan mampu membawa budaya ke panggung dunia. Yang dibutuhkan adalah negarawan kultural mereka yang berani mengambil risiko demi identitas nasional.
Segala tantangan dalam memperkenalkan budaya ke level internasional adalah keniscayaan. Penolakan, cibiran, hingga kontroversi merupakan bagian dari perjalanan setiap kekuatan budaya besar, terang Mantan Ketum GEMA MKGR ini.
Bangsa yang matang tidak alergi pada perbedaan tafsir. Ia memahami bahwa kebudayaan adalah organisme hidup, bukan artefak museum yang harus dibekukan. Dangdut mengajarkan satu hal penting yakni bahwa Indonesia tidak harus meniru siapa pun untuk diakui. Kita hanya perlu jujur pada diri sendiri, lalu menyampaikannya dengan percaya diri.
Ketika bangsa ini kelak berdiri tegak di panggung budaya global, sejarah akan mengingat satu pelajaran mahal bahwa kekalahan diplomasi terbesar bukan karena dunia menolak kita, melainkan karena kita sempat ragu untuk membela diri sendiri, tutup dosen yang mengajar di Negeri Jiran ini.
Penulis: A.S.W