Ranny Fahd A Rafiq Lakukan Anatomi Kanker Domestik, Perceraian Massal di Indonesia Seperti Terorisme Terselubung

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

Jakarta – Eksistensi sebuah bangsa tidaklah berpijak pada megahnya infrastruktur atau angka-angka makroekonomi yang abstrak, melainkan pada ketahanan unit mikroskopis yang kita sebut keluarga. Ketika Ranny Fahd A Rafiq melontarkan alarm tentang tingginya angka perceraian, ia sebenarnya sedang menunjuk pada retakan fondasi peradaban Indonesia yang kian menganga, ucap Ranny Fahd A Rafiq dari Kota Mekkah, Arab Saudi pada Minggu, (1/3/2026).

Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar ini mengatakan, “keluarga adalah institusi purba yang selamat dari berbagai badai zaman, namun kini ia tampak rapuh di hadapan gempuran modernitas. Perceraian bukan sekadar angka di pengadilan agama tapi ia adalah manifestasi dari kegagalan musyawarah dalam ruang paling privat manusia, ungkapnya.

Anggota DPR RI dari Komisi IX melihat fenomena ini dengan kacamata sapioseksual, kita menyadari bahwa ketertarikan intelektual seharusnya melampaui romansa banal. Ada degradasi logika dalam membangun relasi, di mana emosi sesaat seringkali menumbangkan nalar panjang tentang keberlanjutan sebuah komitmen, paparnya.

Secara filosofis, Ranny melihat pernikahan adalah kontrak eksistensial untuk saling melengkapi dalam kekurangan. Namun, narasi media sosial telah menggeser orientasi ini menjadi ajang validasi semu, di mana “kebahagiaan” didefinisikan secara materialistik dan superfisial, ini kekeliruan luar biasa, tegas istri dari H. Fahd A Rafiq ini.

Kita membawa pada gambaran sebuah rumah yang tiangnya mulai keropos dimakan rayap individualisme. Ketika “aku” menjadi lebih dominan daripada “kita”, maka struktur bangunan sosial tersebut tinggal menunggu waktu untuk runtuh berantakan, ungkap Pemilik Album Cinta dan Jenaka.

Data menunjukkan bahwa ekonomi dan perselingkuhan adalah dua hulu ledak utama termasuk judi Online yah.  Secara analitis, tekanan finansial pasca pandemi telah menciptakan efek domino yang meruntuhkan stabilitas psikologis pasangan, memicu friksi yang berujung pada perpisahan (Cerai).

 

Perselingkuhan, di sisi lain, seringkali merupakan pelarian pengecut dari tanggung jawab emosional. Di era digital, pengkhianatan menjadi begitu mudah diakses melalui layar gawai, mengaburkan batas antara fantasi dan realitas komitmen, ungkap Ranny.

 

Narasi media sosial seringkali menjadi racun yang terbungkus madu, mempromosikan standar hidup yang tidak realistis. Banyak perempuan dan laki-laki terjebak dalam perbandingan konstan, membuat apa yang mereka miliki di rumah terasa selalu kurang dan tidak memadai. Sesibuk apapun saya, sangat memahami dan mendalami fenomena ini.

Kritik tajam Ranny Fahd A Rafiq terhadap BKKBN adalah sebuah keniscayaan sosiologis. Program keluarga berencana kehilangan maknanya jika objek yang direncanaka yaitu unit keluarga itu sendiri mengalami likuidasi massal sebelum rencana tersebut sempat diimplementasikan, gimana mau keluarga berencana kalau keluarganya saja sudah bubar jalan, cetus Ranny.

Ranny mengajak untuk merenung secara mikroskopis jika setiap sel dalam tubuh bangsa ini membelah diri secara liar tanpa koordinasi, yang terjadi bukanlah pertumbuhan, melainkan kanker sosial. Perceraian massal adalah anomali yang mengancam kohesi nasional secara sistemik.

Anak-anak dari keluarga yang retak adalah “generasi patah hati” yang membawa luka transgenerasional. Luka ini, jika tidak disembuhkan, akan membentuk karakter bangsa yang rapuh, mudah terprovokasi, dan kehilangan kompas moral, tegasnya dengan nada geram.

Ranny melihat dengan mata cacing bahwa Dunia siber telah menciptakan “ruang gema” di mana pembenaran atas ego individu lebih dihargai daripada upaya rekonsiliasi. Narasi-narasi tentang “pencarian jati diri” seringkali disalahartikan sebagai izin untuk meninggalkan tanggung jawab kolektif dalam rumah tangga.

Saya mengobservasi langsung di lapangan dan menunjukkan adanya pergeseran paradigma tentang kesabaran. Di masa lalu, kesulitan dianggap sebagai ujian yang menguatkan ikatan. kini, kesulitan sering dianggap sebagai kesalahan sistem yang harus segera diakhiri dengan tombol “delete”. Paparnya.

Secara eksistensial, manusia adalah makhluk yang mencari makna. Namun, ketika makna pernikahan direduksi hanya sebatas transaksi ekonomi atau pemenuhan biologis, maka saat transaksi itu merugi, kontrak dengan mudah diputuskan tanpa beban filosofis.

Pemerintah memang memiliki peran dalam meredam narasi negatif, namun intervensi sesungguhnya harus bermula dari rekonstruksi pola pikir individu. Literasi emosional dan finansial menjadi dua pilar yang mendesak untuk diperkuat di tengah masyarakat.

Kita harus berani membedah secara kritis: apakah kita sedang bergerak menuju masyarakat yang lebih bebas, atau justru masyarakat yang kehilangan arah karena telah menghancurkan peta jalan tradisionalnya sendiri? Kebebasan tanpa tanggung jawab adalah jalan pintas menuju anarki domestik.

Secara historis, bangsa yang besar selalu memiliki akar keluarga yang kuat dan stabil. Lihatlah keruntuhan kekaisaran-kekaisaran besar di masa lalu, seringkali dimulai dari dekadensi moral dan hancurnya tatanan keluarga di level elit hingga akar rumput.

Persatuan Indonesia, sila ketiga kita, bukanlah slogan politik semata. Ia adalah hasil akumulasi dari persatuan-persatuan kecil di meja makan, di ruang tamu, dan di balik pintu kamar setiap rakyat Indonesia. Jika di sana tidak ada persatuan, nasionalisme hanyalah kerangka kosong.

Analisa tajam menyimpulkan bahwa kemiskinan memang menjadi pemicu, namun rendahnya kapasitas penyelesaian konflik (musyawarah) adalah penyebab kematian yang sebenarnya. Banyak pasangan memiliki kemampuan teknis untuk bekerja, tapi buta huruf secara fungsional dalam mengelola konflik.

Fenomena “generasi patah hati” yang disebut Ranny adalah peringatan tentang krisis identitas masa depan. Anak-anak yang tumbuh tanpa struktur otoritas dan kasih sayang yang stabil akan kesulitan mendefinisikan arti loyalitas kepada negara kelak.

Psikologis pembaca harus digugah untuk menyadari bahwa setiap keputusan cerai memiliki resonansi sosial yang jauh melampaui dinding pengadilan. Ia adalah getaran yang merusak harmoni lingkungan terkecil dan pada gilirannya, merusak simfoni kebangsaan.

Metafora “perempuan yang salah persepsi soal cinta” menunjukkan adanya kebutuhan akan edukasi nilai yang lebih mendalam. Cinta bukanlah konsumsi statis, melainkan produksi dinamis yang membutuhkan kerja keras, kecerdasan, dan ketahanan mental setiap hari.

Secara kontemplatif, kita perlu bertanya: di mana letak kehormatan sebuah janji di era serba instan ini? Jika sebuah sumpah atas nama Tuhan bisa dengan mudah dibatalkan karena masalah teknis-ekonomi, maka apa lagi yang bisa dianggap sakral dalam hidup ini?

Kita membutuhkan gerakan literasi keluarga yang bersifat intelektual-sapioseksual, di mana individu diajak untuk mencintai pasangan tidak hanya karena rupa, tetapi karena kedalaman visi dan ketangguhan karakter dalam menghadapi badai hidup.

 

Perselingkuhan adalah bentuk pengkhianatan intelektual paling rendah, di mana seseorang gagal mengelola dorongan impulsif demi menjaga integritas janji. Ini adalah bukti nyata dari IQ emosional yang jauh di bawah standar kemanusiaan yang beradab.

Pemerintah, melalui BKKBN dan lembaga terkait, harus mengubah pendekatan dari sekadar pembatasan kelahiran menuju penguatan kualitas relasi. Keluarga Berencana harus dimaknai sebagai “Keluarga Berketahanan”, sebuah benteng yang sulit ditembus oleh narasi destruktif yang saat ini sangat gencar.

Secara filosofis-eksistensial, pernikahan adalah laboratorium untuk mengikis keegoisan manusia. Kegagalan dalam laboratorium ini berarti kegagalan dalam proses pemuliaan diri menjadi manusia yang lebih tinggi tingkat kesadarannya, ungkap Ranny.

Mari kita melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang ekonomi memang sulit, tapi solidaritas domestik seharusnya menjadi jaring pengaman, bukan beban yang pertama kali dibuang saat kapal sedang diterjang ombak ekonomi.

Akhirnya, narasi ini adalah ajakan untuk berefleksi secara jernih tanpa pretensi. Kita sedang berada di persimpangan jalan peradaban, apakah kita akan membiarkan unit terkecil ini luluh lantah, atau kita akan merajut kembali helai demi helai kepercayaan yang mulai rapuh?

Masa depan Indonesia bukan ditentukan di bilik suara lima tahun sekali, melainkan di dalam komitmen harian setiap pasangan untuk tetap bertahan, bermusyawarah, dan menjaga persatuan dari hal yang paling kecil, demi keberlanjutan bangsa dan negara yang kita cintai.

Sebab pada akhirnya, nasionalisme yang paling sejati tidak lahir dari gemuruh orasi di mimbar-mimbar kekuasaan, melainkan dari keberanian kita untuk tetap saling menggenggam di saat badai ego ingin melepaskan.

 

Jangan biarkan meja makanmu menjadi altar pemakaman bagi masa depan bangsa; karena ketika sebuah rumah runtuh karena ketiadaan musyawarah, sebenarnya kita sedang menggali liang lahat bagi peradaban kita sendiri, tutup Ranny.

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita