Home Budaya

Fahd A Rafiq: Bedah Virus Neokolonialisme dalam Epoleksosbudhankam yang Mematikan Nalar Nusantara

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

Mekkah — Gagasan Fahd A Rafiq mengenai “Penjajahan Gaya Baru” di Era Digital dan turunannya bukanlah sekadar retorika politik usang, melainkan sebuah alarm ontologis bagi bangsa yang sedang terlelap dalam buaian globalisme. Kita sedang menyaksikan pergeseran paradigma dari aneksasi teritorial menuju aneksasi kesadaran, di mana kedaulatan tidak lagi dirampas melalui moncong meriam, melainkan melalui algoritma dan pola konsumsi, demikian pandangan sosok yang dikenal sebagai Ketua Umum DPP BAPERA tersebut, Ucapnya dari Kota Mekkah – Arab Saudi pada Minggu, (1/3/2026).

Kolonialisme klasik menyisakan jejak fisik berupa benteng dan rel kereta api, namun neo-kolonialisme meninggalkan jejak yang jauh lebih dalam yakni distorsi identitas.

Penjajahan hari ini bersifat cair, meresap ke dalam pori-pori kehidupan melalui struktur Epoleksosbudhankam (Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pertahanan, dan Keamanan) yang telah terintegrasi secara sistemis dengan kepentingan global, beber Mantan Ketua Umum PP – AMPG ini.

 

Dalam spektrum ekonomi, kita melihat sebuah ironi di mana kemerdekaan finansial seringkali hanyalah ilusi di atas kertas neraca. Kekuatan korporasi transnasional telah memetakan perilaku pasar sedemikian rupa sehingga bangsa ini hanya ditempatkan sebagai pasar konsumsi masif, bukan produsen nilai yang berdaulat secara fundamental, terang Suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komisi IX) itu.

Secara politik, kedaulatan seringkali terbentur pada tembok kepentingan donor dan diplomasi utang yang membelenggu kebijakan strategis nasional. Keputusan-keputusan besar yang menyangkut hajat hidup orang banyak terkadang harus berkompromi dengan standar-standar internasional yang tidak selalu selaras dengan kearifan lokal maupun kebutuhan rill rakyat di akar rumput, tegas Mantan Ketua Umum DPP KNPI dimaksud.

Memasuki ranah sosial-budaya, invasi ini terasa lebih intim namun mematikan, ia menyerang meja makan kita melalui standarisasi rasa. Makanan bukan lagi sekadar nutrisi atau identitas budaya, melainkan komoditas industri yang menyeragamkan lidah anak bangsa dengan rasa artifisial yang diproduksi secara massal di laboratorium jauh di luar sana, ulas Mantan Ketua Umum GEMA MKGR ini.

Gaya hidup anak muda hari ini adalah cermin dari keberhasilan hegemoni budaya Barat dan Timur Jauh yang menggeser poros jati diri Nusantara. Kita melihat generasi yang lebih mengenal estetika luar negeri dari pada filosofi luhur yang tertanam dalam aksara dan tradisi nenek moyangnya sendiri, sebuah amnesia sejarah yang direncanakan, ungkap Pengusaha Muda yang visioner tersebut.

Fahd secara tajam mengobservasi bahwa institusi terkecil, yaitu keluarga, kini menjadi sasaran tembak utama dari penetrasi ideologi asing. Nilai-nilai komunal dan kekeluargaan yang dulu menjadi perekat sosial kini mulai tergerus oleh individualisme ekstrem yang dipromosikan melalui layar-layar digital di genggaman tangan, imbuh Artis dan Seniman multi-talenta ini.

Secara filosofis, kita sedang mengalami “kematian subjek,” di mana manusia Indonesia tidak lagi menjadi subjek atas kehendaknya sendiri, melainkan objek dari data besar (big data). Keinginan kita diprediksi, selera kita dibentuk, dan opini kita digiring oleh mesin kecerdasan buatan yang beroperasi di balik layar gadget, tutur Putra dari Musisi Legend A Rafiq itu.

Dalam aspek pertahanan dan keamanan, ancaman tidak lagi bersifat kinetik di perbatasan fisik, melainkan siber dan kognitif yang menyerang nalar publik. Perang informasi dan disinformasi menciptakan polarisasi yang mampu meruntuhkan ketahanan nasional tanpa perlu meletuskan satu butir peluru pun, menghancurkan kohesi sosial dari dalam, cetus Fahd dengan nada serius.

Imajinasi kontemplatif membawa kita pada gambaran sebuah bangsa yang tampak megah dengan gedung pencakar langit, namun keropos dalam jiwa dan kemandirian berpikir. Kita adalah narapidana dalam penjara tanpa jeruji, yang merasa bebas hanya karena kita diizinkan memilih merek kopi yang sama-sama dimiliki oleh konglomerasi global yang sama, papar tokoh intelektual ini.

Metafornya Indonesia saat ini bagaikan sebuah pohon besar yang dahannya rimbun namun akarnya mulai dicabut dari tanah ibunya sendiri. Kita merayakan modernitas yang dipinjamkan, menggunakan teknologi yang tidak kita kuasai dasarnya, dan bangga pada kemajuan yang sebenarnya memperlebar jarak ketergantungan, jelasnya merujuk pada realitas lapangan. Hal ini sedang ingin dilepaskan oleh Presiden Prabowo Subianto dari penjajahan gaya baru yang mencengkram terlalu lama bumi nusantara.

Analisa kritis terhadap sektor pendidikan menunjukkan bahwa kurikulum seringkali hanya mencetak “sekrup-sekrup” kecil bagi mesin kapitalisme global. Pendidikan kehilangan esensi memanusiakan manusia, beralih fungsi menjadi pabrik tenaga kerja yang patuh dan tidak didorong untuk mempertanyakan struktur kekuasaan yang ada, urainya menyayangkan kondisi tersebut.

Di bidang hukum, kita seringkali mengadopsi nalar legalistik yang asing bagi rasa keadilan kolektif bangsa, menciptakan jurang antara kepastian hukum dan kebenaran substantif. Penjajahan baru ini masuk melalui harmonisasi regulasi yang seringkali lebih berpihak pada proteksi investasi daripada proteksi hak-hak dasar warga negara, sebut Fahd dalam analisanya.

Psikologis pembaca harus digugah untuk menyadari bahwa kenyamanan digital yang kita nikmati adalah alat surveilans paling efektif dalam sejarah manusia. Privasi kita adalah mata uang baru, dan kesadaran kita adalah medan tempur yang sedang diperebutkan oleh kekuatan-kekuatan invisibel yang tidak memiliki wajah namun memiliki kendali, ulasnya memprovokasi kesadaran.

Eksistensi bangsa ini di masa depan bergantung pada kemampuan kita untuk melakukan “dekolonisasi mental” secara total dan terstruktur. Kita membutuhkan resiliensi budaya yang bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan sintesis antara kemajuan teknologi dengan akar nilai-nilai spiritualisme Nusantara yang otentik, tukasnya penuh penekanan.

Fahd mengingatkan bahwa anak bangsa harus kembali menjadi tuan di tanahnya sendiri, bukan hanya secara administratif, tapi secara substansial dalam setiap tarikan napas kebijakan. Kedaulatan energi, pangan, dan digital adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dalam meja perundingan global yang penuh tipu daya, ujarnya memberikan instruksi moral.

 

Secara kontemplatif, marilah kita merenung apakah keberhasilan yang kita raih hari ini adalah benar-benar pencapaian kita, atau sekadar peran yang diberikan dalam naskah besar pihak lain. Kemerdekaan sejati adalah kemampuan untuk berkata “tidak” pada sistem yang merendahkan martabat kemanusiaan dan merusak keseimbangan alam demi keuntungan segelintir elit, pungkasnya mengajak refleksi.

 

Dunia sedang bertransformasi menjadi desa global, namun jangan sampai kita hanya menjadi buruh di desa tersebut sementara orang lain menjadi pemilik tanahnya. Kekuatan literasi dan kecerdasan intelektual harus dibarengi dengan keberanian moral untuk memutus rantai ketergantungan yang telah lama membelit kaki bangsa ini, seru tokoh muda tersebut.

Kita memerlukan pemimpin dan pemikir yang mampu melihat melampaui horizon, yang memahami bahwa setiap produk yang kita beli dan setiap konten yang kita konsumsi adalah pernyataan politik. Kesadaran kolektif adalah senjata terkuat untuk melawan bentuk penjajahan baru yang sangat halus ini, dan gerakan ini sudah dimulai dari Presiden Prabowo Subianto, katanya memberikan apresiasi dan dukungan penuh.

Ditunggu aksi dan kebijakan nyata dari pemimpin-pemimpin di daerah seluruh Indonesia untuk menyelaraskan langkah kedaulatan ini. Penetrasi ideologi melalui industri hiburan telah menciptakan standar keseragaman yang mematikan diversitas pemikiran, sehingga kita terjebak dalam ruang gema yang memicu perpecahan, tambahnya memperingatkan.

Observasi mendalam menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi adalah manifestasi dari logika eksploitatif warisan kolonial yang masih kita lestarikan atas nama pembangunan. Kita mengorbankan masa depan demi syahwat ekonomi jangka pendek yang asing bagi filosofi hidup selaras alam, keluhnya terhadap degradasi ekologi.

Kedaulatan kesehatan pun tak luput dari ancaman, di mana ketergantungan pada teknologi medis dan farmasi asing membuat kita rentan dalam menghadapi krisis global. Bangsa ini memiliki kekayaan hayati yang luar biasa, namun riset mandiri seringkali terhambat oleh birokrasi dan minimnya keberpihakan politik, kritiknya dengan tajam.

Secara historis, setiap perlawanan terhadap penjajahan selalu dimulai dari bangkitnya kesadaran intelektual yang mencerahkan massa. Saat ini, tantangannya adalah menyebarkan pencerahan di tengah hiruk-pikuk disrupsi informasi yang sengaja diciptakan untuk membingungkan nalar publik, pesannya kepada para penggerak bangsa.

Penjajahan baru ini tidak membutuhkan gubernur jenderal, melainkan pengaruh (influence) yang masuk melalui algoritma media sosial yang mengubah persepsi kita tentang realitas. Kita sedang digiring menuju sebuah “masyarakat tontonan” yang lebih mementingkan citra dari pada esensi, tandas Fahd menyoroti fenomena pendangkalan makna.

Fahd memberikan sudut pandang bahwa perjuangan hari ini adalah perjuangan kognitif untuk merebut kembali otoritas atas diri sendiri. Kita harus mampu membedakan antara modernisasi yang memajukan dengan westernisasi dan orientalisasi yang mencabut akar, serta antara kolaborasi internasional dengan subordinasi yang menghina, simpulnya dengan lugas.

Setiap paragraf kehidupan kita saat ini sedang ditulis oleh tangan-tangan asing melalui teknologi yang kita gunakan setiap detik tanpa henti. Jika kita tidak segera menyadari posisi kita dalam rantai makanan global ini, kita akan selamanya menjadi bangsa yang “merdeka namun terpenjara,” ingatnya memberikan peringatan keras.

Imajinasi kita harus melampaui batas-batas yang ditentukan oleh sistem hari ini untuk menciptakan sistem baru yang lebih adil dan bermartabat. Kita perlu merancang masa depan di mana anak muda Indonesia bangga dengan orisinalitasnya, bukan menjadi fotokopi buruk dari tren global, harapnya bagi generasi mendatang.

Akhirnya, narasi ini adalah sebuah ajakan untuk melakukan refleksi radikal atas posisi kita sebagai manusia di tengah arus zaman yang destruktif. Kebangkitan nasional jilid baru hanya akan terjadi jika kita berani mengakui adanya penjajahan ini, dan keberanian itu dimulai dari kejujuran dalam berpikir, tulisnya dalam sebuah catatan pemikiran.

Hanya dengan intelegensia yang tajam dan hati yang teguh pada tanah air, kita dapat meruntuhkan struktur hegemoni ini dan membangun kembali kedaulatan yang sejati. Mari kita jadikan peringatan ini sebagai titik balik untuk menjemput kembali takdir bangsa sebagai mercusuar peradaban yang mandiri, ajak Fahd mengakhiri orasinya.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat mereka yang hanya mengikuti arus, melainkan mereka yang berani melawan arus demi keadilan. Penjajahan baru ini mungkin jarang disadari, namun dampaknya nyata bagi anak cucu jika kita tetap memilih menutup mata, tutup Fahd A Rafiq, Dosen yang mengajar di negeri Jiran Malaysia ini.

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita