Fahd A Rafiq Beberkan, Mengapa India Lebih Unggul dari Indonesia dalam SDM, Kita Harus Kejar Ketertinggalan ini 

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jakarta – Di tengah riuh rendah dunia global, ada pertanyaan yang terus menghantui mengapa India mampu melahirkan begitu banyak pemimpin global, sementara Indonesia masih bergulat dengan problem internal yang berulang? Tutur Fahd A Rafiq di Jakarta pada Sabtu, (30/8/2025).

 

Ketua Umum DPP BAPERA ini mengatakan, “Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi fondasi cara bangsa dan negara membangun dirinya. India sejak awal memelihara tradisi intelektual, dari Universitas Nalanda di abad ke-5 hingga revolusi pendidikan modern lewat IIT dan IIM, ucapnya.

 

 

Mantan Ketua Umum PP – AMPG menegaskan, “Indonesia pun punya sejarah keilmuan, dari pesantren, surau, hingga sekolah kolonial. Namun, warisan ini sering diputus oleh politik praktis yang lebih sibuk mengatur kekuasaan ketimbang menanam benih ilmu, paparnya.

 

 

Suami dari Anggota DPR RI membahas lebih dalam India sejak 1950-an sudah sadar bahwa teknologi akan menjadi bahasa dunia. Maka mereka menanam investasi besar pada sains, matematika, dan teknik. Kita? Masih sibuk memperdebatkan hal-hal normatif di ruang publik. Bahkan banyak potensi anak – anak, pemuda, ilmuwan mereka hebat tapi tidak mendapat tempat yang layak di republik ini. bahkan diambil negara Super power untuk memperkuat SDM negara mereka, ini sebuah ironi.

 

 

Fahd melanjutkan di Era Orde Baru Indonesia sudah bisa membuat Pesawat terbang lewat Bapak BJ. Habibie, tapi sekarang kita di nina bobokan, menjadi negara konsumtif, kita terlalu nyaman di posisi ini, cetus Fahd dengan pernyataannya.

 

 

Mantan Ketum DPP – KNPI ini melanjutkan, Kekuatan India bukan hanya pada angka, tapi pada orientasi. Mereka menaruh 4,5% dari PDB untuk pendidikan, jauh di atas Indonesia yang hanya sekitar 1,3%. Perbedaan ini bukan sekadar statistik, melainkan arah sejarah. Tingginya APBN di Indonesia sangat besar tapi belum bisa menuju ke arah sana? tercatat 724,3 Triliun dari APBN Tahun 2025 belum bisa membawa Indonesia menyamai level mereka, apa yang salah? Tanya Fahd kepada publik.

 

 

Lebih dalam Fahd mengikuti perkembangan negeri Bolywood tersebut, dari rahim IIT lahirlah Sundar Pichai, Satya Nadella, Arvind Krishna nama- nama yang kini memimpin Google, Microsoft, hingga IBM. Mereka simbol dari sistem yang konsisten, bukan keajaiban personal, ungkapnya.

 

 

Indonesia memang punya anak-anak brilian, tapi sering terhenti pada birokrasi yang membelenggu, universitas yang minim riset, dan industri yang tidak terhubung dengan inovasi global, kalau kondisinya seperti ini harus segera diperbaiki, tegasnya.

 

 

Perbedaan ini makin kentara saat melihat diaspora. Orang India mudah menembus Silicon Valley karena bahasa Inggris mereka hidup dan otentik. Sementara diaspora Indonesia lebih banyak bertahan di sektor informal.

 

Penghargaan Nobel adalah cermin lain. Dua belas orang India telah menorehkan tinta emas, membuktikan bahwa ekosistem ilmiah mereka subur. Indonesia? Masih menunggu kelahiran ilmuwan yang benar-benar diakui dunia, katanya sambil keheranan karena Indonesia sudah merdeka 80 Tahun.

 

Sebenarnya, bukan karena orang Indonesia kurang

cerdas. Masalahnya terletak pada arah pembangunan yang lebih mengutamakan infrastruktur fisik dari pada infrastruktur pengetahuan, masih nyaman dengan kondisi seperti ini, tanya Fahd lagi.

 

Seorang filsuf pernah berkata, bangsa besar adalah bangsa yang berani berkompetisi dengan dirinya sendiri. India sudah melakukannya sejak lama. Indonesia masih mencari cermin untuk menatap wajahnya sendiri.

 

 

Maka, jika ditanya mengapa India lebih unggul, jawabannya sederhana namun menyakitkan. Mereka lebih dahulu menanam benih, sementara kita masih sibuk meributkan pupuknya, tutup dosen yang mengajar di negeri Jiran ini.

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita