Jakarta – Di ruang marmer Kremlin yang dingin, ketika salju Moskow mengendap di tepian musim dingin, dua pemimpin berdiri saling menatap bukan sekadar sebagai kepala negara melainkan sebagai penjaga zaman. Prabowo Subianto dan Vladimir Putin bertemu tidak hanya untuk mengukur kepentingan politik, tetapi untuk membuka sebuah pintu yang selama puluhan tahun hanya berdentang samar di imajinasi Indonesia yakni era energi nuklir yang damai, berdaulat, dan memerdekakan masa depan bangsa, Ucap Fahd A Rafiq di Jakarta pada Senin, (15/12/2025).
Ketua Umum DPP BAPERA mengatakan, “Pertemuan yang menandai 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Rusia bukan sekadar ritual diplomasi. Ia adalah momentum dari titik balik sejarah yang lama ditunggu, ketika Indonesia akhirnya berani menatap cahaya yang dulu dianggap terlalu terang maka teknologi nuklir sebagai pilar masa depan, cetusnya.
Mantan Ketua Umum PP- AMPG ini memaparkan lebih dalam, selama puluhan tahun, kata nuklir terperangkap dalam ketakutan kolektif manusia. Kita membayangkan ledakan, bukan penerangan tapi kehancuran dan bukan pula kemajuan. Padahal di tangan bangsa yang disiplin, bermartabat, dan berdaulat, nuklir adalah sumber terang paling stabil yang pernah diciptakan peradaban. Dan Rusia melalui Rosatom adalah salah satu bangsa yang telah menguasai seni menyalakan matahari kecil yang aman di dalam reakto, cetusnya.
Lebih jauh Mantan Ketum DPP KNPI ini melihat Indonesia kini berdiri di ambang transformasi besar. Ketika negara-negara maju kembali berlomba membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) generasi terbaru, kita memilih untuk tidak tertinggal, tetapi melompat.
Kerja sama dengan Rusia bukanlah ketergantungan tapi Ia adalah transfer peradaban, ujar Suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komis IX).
Ada sesuatu yang sangat historis dari pertemuan ini. Ketika Putin menegaskan bahwa Rusia “siap membantu kapan pun Indonesia memutuskan melibatkan Rusia dalam pengembangan teknologi nuklir sipil”, sesungguhnya ia sedang membuka akses terhadap salah satu teknologi paling strategis di dunia, terangnya.
Sementara Presiden Prabowo Subianto dengan visi ketahanan energi jangka panjang memahami satu hal penting bahwa bangsa besar tidak dibangun dengan ketakutan. Bangsa besar dibangun dengan keberanian menguasai teknologi tingkat tinggi.
Maka Kerja sama ini membuka akses teknologi PLTN generasi ke-4 dengan tingkat keamanan berlipat, pelatihan insinyur Indonesia di pusat teknologi nuklir Rusia, kemandirian energi dalam 30–50 tahun ke depan, hilirisasi riset isotop untuk kesehatan, industri, pertanian, dan keamanan pangan. Ini bukan hanya soal listrik—ini tentang kedaulatan peradaban, tegas Mantan Ketum GEMA MKGR ini.
Fahd melanjutkan, sejarah kita mencatat bahwa Soekarno pernah membayangkan Indonesia sebagai bangsa yang tak gentar mengejar teknologi paling mutakhir. Ia membangun Lembaga Tenaga Atom Nasional di masa ketika sebagian dunia bahkan belum mengenalnya. Kini, 70 tahun lebih berlalu Indonesia kembali mengambil napas panjang sejarah itu.
Kerja sama nuklir dengan Rusia bukanlah keputusan terburu-buru, melainkan kehendak historis yang akhirnya diberi tubuh.
Di tengah ketidakpastian energi global, inilah pilihan rasional dari saat batu bara berakhir, minyak menipis, energi terbarukan belum cukup stabil, industri menuntut listrik tanpa henti dan ekonomi ingin melaju lebih cepat dari sebelumnya. Nuklir bukan ancaman, melainkan garansi masa depan, Ucap Fahd dengan nada yakin.
Rusia memiliki lebih dari 70 tahun pengalaman membangun reaktor, membantu puluhan negara
dan menghasilkan salah satu teknologi nuklir paling aman di dunia. Jika Indonesia ingin belajar, maka kita belajar dari yang terbaik.
Seperti halnya bangsa-bangsa besar belajar kepada guru besar, Indonesia memilih Rusia bukan karena ketergantungan tetapi karena kualitas, pengalaman, dan bukti.
Kerja sama ini tidak hanya berlangsung di ruang-ruang dingin diplomasi. Ia akan menyentuh manusia Indonesia secara langsung yakni Rumah sakit akan lebih mudah mendapatkan radioisotop untuk kemo dan radioterapi. Petani akan mendapat varietas unggul hasil iradiasi modern. Industri akan mendapat bahan baku dengan presisi tinggi. Kota-kota akan memiliki listrik yang stabil untuk puluhan tahun. Ini adalah proyek kemanusiaan serta peradaban dan masa depan.
Kerja sama nuklir Indonesia–Rusia adalah pilihan yang matang, berani, dan visioner.
Sebuah langkah yang akan dikenang anak cucu kita sebagai keputusan yang membuat Indonesia akan berdaulat, kuat, tidak mudah diperas oleh krisis energi dunia,dan berdiri sebagai bangsa yang menguasai teknologi tingkat tinggi.
Ketika dua pemimpin di Kremlin itu berjabat tangan, sejarah sesungguhnya sedang menuliskan kalimatnya sendiri Bahwa masa depan Indonesia akan diterangi oleh cahaya yang kita jinakkan bersama bukan cahaya yang memusnahkan, melainkan cahaya yang membangkitkan.
Dan pada saat itulah, dunia akan tahu Indonesia bukan lagi bangsa yang berjalan mengikuti zaman, melainkan bangsa yang menciptakan zamannya sendiri, tutup Dosen yang mengajar di Negeri Jiran ini.
Penulis: A.S.W