Jakarta, Ketegangan antara India dan Pakistan telah meletus menjadi konflik senjata terbuka, Hal ini menandai babak baru dalam dinamika geopolitik Asia Selatan yang mengguncang stabilitas global.
Dalam situasi yang kian memanas , Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Ranny Fahd A Rafiq, mengeluarkan pernyataan keras yang menggugah sekaligus membuka mata kita semua “Indonesia tidak boleh lagi buta geopolitik. Perang ini bukan hanya milik India dan Pakistan. Ini perang yang bisa menyeret kita semua jika kita terus tertidur, ungkap Ranny. di Jakarta pada Kamis (15/5/2025).
Ranny menyebut insiden Serangan Berdarah di Pahalgam, Titik Awal Ledakan pada 22 April 2025 wilayah wisata elite di Kashmir yang dikenal sebagai “Mini Swiss”sebagai pemicu utama. Lima teroris asal Pakistan menyerang brutal, membunuh 26 pria Hindu, setelah menginterogasi agama mereka. “Ini bukan serangan acak. Ini pesan berdarah kepada Narendra Modi,” tegas Ranny.
Serangan ini mengingatkan dunia pada tragedi Yom Kippur di Israel 2,5 tahun yang lalu, ketika Hamas menyerang saat liburan besar. Kali ini, India mengalami hal serupa. Tempat wisata berubah menjadi ladang pembantaian.
India segera membalas langit Pakistan dengan dihujani Rudal merespons dengan kekuatan penuh. Serangan udara menghantam wilayah perbatasan Pakistan, menandai dimulainya babak baru konflik bilateral yang tidak lagi terselubung. “Ini sudah perang. Dan perang ini bukan sekadar soal terorisme. Ini permainan besar antar negara besar. Permainan berdarah yang berpotensi nuklir,” ujar Ranny.
Ranny menyebut saat ini Nuklir di meja perjudian dunia. Baik India maupun Pakistan memiliki persenjataan nuklir dalam jumlah yang nyaris setara yakni sekitar 170 hingga 172 hulu ledak nuklir. “Kalau mereka saling lempar, yang mati bukan cuma mereka. Dunia bisa ikut musnah dan kena dampaknya,” ujarnya.
Istri dari Fahd A Rafiq ini membandingkan kekuatan nuklir Rusia (4.380), Amerika (3.708), Tiongkok (500). “Jangan kira Indonesia aman-aman saja. Kalau ini meletus jadi perang besar, efek ekonomi dan strategisnya pasti ke Indonesia hal itu tidak akan bisa dihindari dan bisa dipastikan perekonomian Indonesia akan jeblok karena efek perang.
Maka dari itu Presiden Prabowo Subianto sangat gencar merealisasikan ketahanan pangan dan energi apabila tombol perang dunia ke III sudah di tekan mana ada negara lain yang mau impor. Pastinya negara – negara penghasil pangan dan energi akan jaga jaga untuk persediaan kebutuhan domestiknya, terang Ranny.
Poros Daya Dunia saat ini yakni Amerika & Inggris ada di pihak India, SedangkanTiongkok dan Turki di Pakistan. Presiden Turki Erdogan mengirim bantuan drone Bayraktar dan arsenal militer melalui 6 pesawat kargo besar. Ini bukan lagi pertarungan dua negara. Ini arena benturan dua blok adidaya dunia yang punya kepentingan, tegas Ranny.
Turki sudah kirim ribuan drone sedangkan Tiongkok semua alat tempurnya dipakai Pakistan. Bahkan Xi Jinping sampai nginap dua malam di Moskow demi bicara dan meyakinkan VladimirPutin. Ini bukan main-main,” ungkap Ranny.
Mengapa perang di India dan Pakistan meletus, karena India saat ini menjadi pusat manufaktur baru dan Tiongkok terancam. Ranny mengangkat dimensi lain yang sering luput dari sorotan perang ini punya akar ekonomi dan strategi global. Hanya tiga hari setelah serangan teroris, Apple memindahkan produksi 60 juta iPhone dari Tiongkok ke India seperti Dell, HP, dan perusahaan-perusahaan raksasa lain juga ikut serta.
“Tiongkok tidak akan tinggal diam. India menjadi pusat manufaktur baru, menggeser posisi Tiongkok. Ini bukan soal agama. Ini soal geopolitik, geoekonomi, dan hegemoni masa depan,” tegas Ranny. Menurutnya, langkah balasan Tiongkok kemungkinan besar adalah mendorong Pakistan menciptakan instabilitas di India. “Kalau India gaduh, siapa mau pindah pabrik ke sana?” ujar Ranny,menyimpulkan motif dalam strategi Tiongkok.
Indonesia jangan terus jadi penonton tapi menjadi penentu di tengah gejolak konflik global saat ini. Nusantara harus naik kelas level permainannya dalam percaturan global tapi untuk hal semacam ini pejabatnya justru sepi komentar, kata Ranny dengan nada getir.
Ia menghimbau untuk semua para pejabat dan stakeholder di dalam negeri yang masih cuek terhadap perubahan tatanan global. “Jangan hanya jadi penonton. Indonesia harus naik panggung dan jadi pemain dalam penyusunan tatanan dunia baru.” Ranny juga melihat kurangnya perhitungan geopolitik dalam kebijakan ekonomi Indonesia, cetus Ranny.
Ranny menyinggung keputusan Amerika yang tiba-tiba mengenakan tarif 47% pada produk ekspor Indonesia karena kita tidak siap dan mengkalkulasi secara detail tiba- tiba dihukum,”. Padahal dibanyak Kesempatan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya berulang kali mengatakan kondisi dunia sedang tidak baik baik saja ini maknanya dalam.
Pesan utama dari kesimpulan kali ini jelas dunia sedang diatur ulang oleh arsitek global. Perang India-Pakistan hanya salah satu potongan puzzle besar. Yang tidak siap akan tergilas jika tidak waspada akan dipermainkan.
Ranny menjabarkan kembali bahwa pola perang Dunia ke III ada banyak kesamaan dengan perang dunia ke II dipastikan hampir diseluruh benua dipastikan ada konflik yang makin besar dan dipastikan ada campur tangan negara adi daya. Seperti Konflik di Asia Timur Tiongkok – Taiwan, Timur Tengah Iran-Israel, semenajung Korea, Tiongkok-AS, Pakistan-India di Asia Selatan dan yang dikhawatirkan adalah konflik di Asia Tenggara cepat atau lambat pasti ada yang menyulutnya, ungkap Ranny.
“Indonesia harus bangun. Geopolitik bukan barang asing. Ini saatnya kita menata strategi, memetakan aliansi, dan berani menjadi bagian dari percaturan dunia,” tutup Ranny, dengan sorotan mata tajam, seperti sedang membaca masa depan yang hanya dipahami oleh sedikit orang di negeri ini.
Penulis: A.S.W