Jakarta – Di tengah gemuruh beton yang terus menyedot napas kehidupan, Indonesia kini berdiri di persimpangan jalan demografis yang menentukan, di mana lebih dari 60 persen dari 287,2 juta jiwa memilih memadati labirin perkotaan, menciptakan paradoks ruang yang sesak, ujar Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar di Jakarta pada Jum’at, (3/7/2026).
Angka 172,3 juta jiwa diperkotaan bukan sekadar statistik dingin, melainkan detak jantung yang berdenyut tidak merata, menuntut redefinisi mendalam mengenai bagaimana kita memandang kedaulatan wilayah, tutur Anggota DPR RI Komisi IX DPR RI.
Ketimpangan akses ini sejatinya adalah luka sejarah yang belum mengering, warisan sentralisasi yang telah lama meminggirkan peradaban desa demi gemerlap lampu kota yang terkadang semu, ungkap Istri dari Ketua Umum DPP BAPERA ini.
Sebagaimana seorang Artis dan Seniman yang peka terhadap estetika ketimpangan, saya melihat kota kini bukan lagi sebagai rumah, melainkan panggung besar yang mementaskan drama eksistensial manusia-manusia yang terasing, papar Pemilik Album Cinta dan Jenaka.
Dalam ruang gerak yang semakin sempit, Wakil Ketua Umum PP – KPPG merasa perlu adanya koreksi arah kebijakan yang bukan hanya membangun tembok, tetapi membangun akses bagi mereka yang berada di cakrawala terjauh, cetus Bendahara Umum Ormas MKGR ini.
Ranny merenungkan bahwa setiap langkah kaki di trotoar ibu kota adalah narasi tentang kerinduan pada tanah kelahiran yang kini ditinggalkan, seraya menatap nanar pada gedung-gedung pencakar langit yang angkuh, bisiknya.
Jika kita menarik benang merah historis, Ranny meyakini bahwa kegagalan mengelola urbanisasi adalah ancaman nyata bagi stabilitas sosial di masa depan, paparnya.
Filosofi pembangunan harus bergeser dari sekadar membangun fisik menjadi memanusiakan individu di pelosok negeri, tegas Ranny, sembari menyisir ingatan tentang akar rumput yang kini meranggas.
Ranny memandang pentingnya desentralisasi ekonomi sebagai jantung dari upaya memeratakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, ungkapnya.
Dalam kacamata Ranny, desa bukan sekadar penyangga, melainkan unit produksi mandiri yang seharusnya mampu berdiri tegak di kaki sendiri, uraiannya.
Analisis tajam Ranny menyoroti bahwa ketergantungan pada kota besar menciptakan jebakan kemiskinan sistemik bagi kaum urban baru yang tak memiliki bekal mumpuni, tandasnya.
Ranny menegaskan bahwa setiap individu memiliki hak konstitusional untuk mendapatkan penghidupan layak tanpa harus bermigrasi secara paksa ke pusat metropolitan, sambungnya.
Sebagai intelektual, Ranny melihat pola migrasi ini sebagai kegagalan negara dalam menyediakan pemerataan kesejahteraan yang inklusif, pungkasnya.
Ranny menelisik lebih dalam pada fakta lapangan di mana pendidikan dan fasilitas kesehatan menjadi barang mewah di desa, menyebabkannya menjadi magnet kepergian, tukasnya.
Keberanian untuk membangun dari pinggiran adalah bentuk nyata dari janji kemerdekaan yang selama ini hanya tersimpan dalam arsip usang.
Ranny merajut argumen bahwa investasi pada infrastruktur perdesaan akan memangkas beban biaya hidup yang menekan penduduk di kota, analisanya.
Secara psikologis, Ranny mengamati bahwa keterasingan di kota besar seringkali melahirkan individu yang kehilangan jati diri dan akar tradisi.
Ranny berpendapat bahwa narasi pembangunan harus kembali pada esensi kemanusiaan yang menjunjung tinggi keadilan distributif seperti yang selalu digaungkan Presiden Prabowo Subianto. Dalam setiap dialektika, Ranny selalu menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan pusat dan potensi lokal yang tersebar di pelosok, cetusnya.
Kepekaan Ranny terhadap isu sosial lahir dari pengamatan mendalam terhadap pola hidup masyarakat yang kian terhimpit ekonomi. Ranny meyakini bahwa teknologi digital dapat menjadi jembatan untuk memeratakan akses informasi dan ekonomi ke desa, optimisnya.
Melihat kompleksitas masalah ini, Ranny mengajak semua pihak untuk berhenti berdebat dan mulai bekerja secara taktis di lapangan, ajaknya.
Ranny merujuk pada konsep pembangunan berkelanjutan yang meletakkan desa sebagai pusat pertumbuhan baru yang organik Ketajaman intuisinya mampu melihat keterkaitan antara kebijakan pangan dan nasib petani yang kini kian terpinggirkan dan di Era pemerintahan Presiden Prabowo hal itu sedang digarap secara konsisten dan berkelanjutan.
Ranny menegaskan bahwa tidak ada masa depan yang kokoh tanpa fondasi desa yang kuat dan mandiri, tegasnya.
Dalam pandangannya , kota harus dikembalikan fungsinya sebagai pusat peradaban, bukan penimbun populasi yang tak terkendali. Ranny merangkai mimpi tentang masa depan di mana setiap orang bisa sukses di desanya sendiri tanpa perlu merantau jauh, harapnya.
Kritik konstruktif Ranny terhadap sistem pemerintahan adalah dorongan agar lebih berpihak pada keadilan rakyat jelata.
Ranny mendalami setiap kebijakan kesehatan sebagai upaya preventif untuk mengurangi beban rumah sakit yang sesak di kota.
Keberpihakan Ranny pada kaum marginal adalah janji yang selalu dipegang teguh dalam setiap peran yang dijalani. Ranny menilai bahwa ketimpangan adalah musuh bersama yang harus dihadapi dengan langkah kolektif, paparnya.
Melalui dialog yang jujur, Ranny ingin memastikan suara rakyat dari pinggiran terdengar sampai ke ruang sidang tertinggi.
Srikandi ini merenung bahwa kepemimpinan yang baik adalah mereka yang mampu merasakan denyut nadi rakyat di pelosok.
Fokus Ranny saat ini adalah bagaimana mengintegrasikan ekonomi kreatif desa ke dalam rantai pasok global. Dia mengingatkan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada bagaimana kita mengelola aset demografi yang melimpah ini.
Solusi Strategis: Menjemput Kedaulatan Desa
Pertama langkah paling fundamental adalah melakukan restrukturisasi anggaran dengan memprioritaskan transfer dana desa secara masif dan tepat sasaran untuk pembangunan infrastruktur konektivitas yang memicu pertumbuhan ekonomi mandiri, sehingga warga tidak lagi menjadikan kota sebagai satu-satunya tujuan bertahan hidup. Untuk point ini harus ada pengawasan super ketat
Kedua, diperlukan penciptaan ekosistem ekonomi digital yang terdesentralisasi, di mana akses pasar global bagi produk UMKM perdesaan dipangkas hambatannya melalui platform yang dikelola oleh komunitas, didukung oleh pelatihan teknis yang intensif dari otoritas terkait.
Tiga, transformasi sektor kesehatan dan pendidikan menjadi layanan yang setara kualitasnya dengan standar metropolitan, dengan menempatkan tenaga ahli dan infrastruktur canggih langsung di pusat-pusat komunitas perdesaan, guna mengeliminasi arus migrasi yang didorong oleh kebutuhan akan fasilitas dasar.
Empat, penguatan tata kelola lahan dan reformasi agraria yang adil menjadi imperatif untuk memastikan produktivitas tanah perdesaan tetap dinikmati oleh warga lokal, bukan pihak luar, sehingga rasa kepemilikan dan keterikatan terhadap daerah asal tetap terjaga dengan kokoh.
Lima, pembentukan kebijakan insentif pajak dan modal bagi pelaku usaha yang berani membangun unit industri di luar pulau Jawa atau di kawasan perdesaan, dengan tujuan menciptakan pusat gravitasi ekonomi baru yang lebih merata, sehingga keseimbangan demografi dapat tercapai secara alami dan berkelanjutan.
Dengan visi yang jernih, Ranny terus berupaya merumuskan regulasi yang menjamin aksesibilitas bagi masyarakat desa, paparnya.
Ranny percaya bahwa perubahan besar dimulai dari kesadaran untuk membangun dari tempat di mana matahari terbit pertama kali bagi mereka yang selama ini terabaikan, tutupnya.
Penulis: A.S.W
