Jakarta – Dalam ruang hampa kebijakan yang senantiasa berulang, kita sering kali terpaku pada riak di permukaan, mengabaikan arus bawah yang sesungguhnya sedang menggerus fondasi kedaulatan. Fenomena ekonomi Indonesia bukanlah teka-teki yang rumit, melainkan sebuah siklus prediktif yang sering disalahartikan sebagai anomali oleh mereka yang enggan melihat pola sejarah, ujar Ketua Umum DPP BAPERA di Jakarta pada Kamis, (2 /7/ 2026).
Kita terjebak dalam teater protes yang emosional jempol yang menari di media sosial hingga turun ke jalan menuntut keadilan tanpa pernah benar-benar memahami bahwa sistem ini berjalan di atas rel kepastian yang telah lama dipasang, tutur Fahd A Rafiq.
Data historis sejak era reformasi tidak pernah berbohong, rupiah secara sistematis mengalami depresiasi 5 hingga 7 persen setiap tahunnya sebagai manifestasi dari fundamental ekonomi yang belum beranjak dari ketergantungan eksternal, ungkap mantan Ketua Umum PP – AMPG.
Maka, ketika nilai tukar menembus angka psikologis di masa depan, kita tidak sedang menyaksikan sebuah tragedi, melainkan sebuah konsekuensi matematis dari kebijakan moneter yang pasif dan kurang visioner, papar suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komisi IX) tersebut.
Di saat yang bersamaan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) adalah variabel konstan dalam persamaan ekonomi kita yang tak lagi bisa disubsidi selamanya tanpa menguras cadangan devisa secara percuma, jelas mantan Ketua Umum DPP KNPI.
Pertanyaan substansial yang jarang dijawab oleh para pemangku kebijakan adalah mengapa bangsa ini begitu sulit melepaskan diri dari jeratan subsidi, sebuah tanda tanya besar bagi kompetensi intelektual para teknokrat kita, cetus mantan Ketua Umum GEMA MKGR.
Politikus, dalam banyak kasus, terjebak dalam pragmatisme jangka pendek demi mempertahankan kursi kekuasaan, melupakan bahwa stabilitas negara seharusnya dibangun di atas fondasi kemandirian, tegas pengusaha muda ini.
Akibat dari disorientasi ini sangat nyata, daya beli masyarakat tergerus, daya saing manufaktur kita layu sebelum berkembang, dan investasi asing menjadi barang mewah yang kian sulit didatangkan, urai artis dan seniman tersebut.
Ironi intelektual pun muncul ketika kita menatap data statistik mengenai IQ bangsa yang berada di kisaran rendah, sebuah cerminan dari kurangnya budaya literasi yang seharusnya menjadi napas bagi kemajuan peradaban, imbuh putra dari musisi legend A Rafiq ini.
Di luar sana, demonstrasi kembali memanas dalam beberapa hari terakhir sebagai respons atas kegelisahan yang memuncak, namun aksi jalanan sering kali hanya menjadi katarsis sesaat tanpa menyentuh akar permasalahan yang lebih dalam, analisis Fahd.
Pemerintah sering kali terjebak dalam narasi “kambing hitam” geopolitik, menyalahkan perang di Timur Tengah atau fluktuasi harga komoditas global, padahal masalah utama bersarang di dalam pola pikir kita sendiri, ungkap pria ini.
Menjadi bangsa yang terus-menerus memposisikan diri sebagai korban keadaan (playing victim) hanya akan melumpuhkan nyali kolektif untuk melakukan transformasi struktural yang fundamental, Mari kita rubah cara perspektif kita, maksudnya kita tidak boleh buta dengan Geopolitik global tapi tidak mengkambingkan hitamkan situasi geopolitik.
Lihatlah Vietnam, India, dan Tiongkok, mereka mampu tumbuh pesat karena berhasil menciptakan ekosistem di mana pendapatan berbasis valuta asing namun biaya operasional ditekan menggunakan mata uang lokal, kondisi geopolitik ya sama sedang gaduh juga, jabarnya.
Indonesia, sebaliknya, terjebak dalam paradoks pendapatan rupiah dengan biaya produksi dolar, sebuah mekanisme ekonomi yang secara otomatis akan terus menguras kekayaan nasional jika tidak segera dirombak, paparnya.
Belum lagi kerumitan birokrasi yang tumpang tindih antara pusat dan daerah, menciptakan labirin administratif yang membunuh inovasi dan membuat setiap niat membangun pabrik berakhir dengan frustrasi, tuturnya.
Kita perlu berhenti menoleh ke luar dan mulai menatap ke dalam, memfokuskan segala daya pada penguatan domestik sebelum terhempas oleh ombak geopolitik yang tak bisa kita kendalikan, cetusnya.
Hilirisasi teknologi harus menjadi agenda mutlak, tidak boleh lagi ada bahan mentah yang keluar dari bumi pertiwi tanpa melalui proses industrialisasi yang memberi nilai tambah maksimal, jelas Fahd A Rafiq.
Peran institusi seperti Danantara menjadi krusial di sini, setelah merestrukturisasi lebih dari 800 BUMN, mereka harus bertransformasi menjadi mesin pendanaan bagi pabrik-pabrik manufaktur dalam negeri, tegas Ketua Umum DPP BAPERA tersebut
Mari kita berani memasuki ruang kontemplatif, mungkinkah segala kepahitan ekonomi saat ini adalah sebuah desain besar yang sengaja dibiarkan untuk meruntuhkan dominasi oligarki lama? tanya mantan Ketua Umum PP – AMPG.
Bagaimana jika pelemahan aset-aset korporasi besar adalah cara negara mengambil kembali apa yang selama ini dikuasai segelintir orang agar bisa dikembalikan untuk kepentingan publik melalui korporasi negara? papar suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komisi IX).
Ataukah kesibukan masyarakat mencari sesuap nasi di tengah himpitan ekonomi adalah bentuk pembiaran agar massa tidak memiliki daya kritis dalam berpolitik, sehingga para patriot bisa bekerja senyap? tanya mantan Ketua Umum DPP KNPI.
Jika benar ada skenario “pembersihan lantai” sebelum membangun istana baru, maka kegaduhan di jalanan hari ini hanyalah riak kecil dari perubahan besar yang sedang dirancang, tutur mantan Ketua Umum GEMA MKGR.
Kita harus berani mempertanyakan narasi resmi dan melihat pola-pola tersembunyi yang bergerak di balik kepastian yang tampak pahit, jelas pengusaha muda itu.
Apakah kita sedang menuju kehancuran, ataukah ini adalah proses transformasi yang menyakitkan namun diperlukan demi kedaulatan yang sesungguhnya? cetus artis dan seniman tersebut.
Sejarah mengajarkan bahwa setiap peradaban besar sering kali harus melalui titik nadir sebelum menemukan momentum kebangkitan yang tak terelakkan, tambah putra dari musisi legend A Rafiq ini.
Demonstrasi yang kita lihat hari ini adalah cerminan dari akumulasi kekecewaan yang sudah lama disumbat oleh retorika-retorika manis para penguasa, papar Fahd.
Namun, tanpa visi yang jelas, protes hanya akan melahirkan kekacauan baru, bukan solusi permanen bagi bangsa yang sedang sakit, tuturnya.
Kita butuh kejujuran dalam mendiagnosa penyakit bangsa, bukan sekadar memberikan obat penenang yang justru menciptakan komplikasi baru di masa depan, jelasnya.
Struktur birokrasi yang membelenggu harus dipangkas secara radikal demi memberi ruang bagi pengusaha lokal untuk napas, ungkapnya. Tanpa dukungan nyata bagi sektor formal dan profesional, kita hanya akan terus menyaksikan tumbuhnya ekonomi informal yang rapuh di pinggir jalan, paparnya.
Kebangkitan sebuah bangsa dimulai dari keberanian untuk mengakui kesalahan diagnosis selama bertahun-tahun. Kita harus memutus rantai ketergantungan dan membangun ekosistem ekonomi yang berdaulat, mandiri, dan berkarakter, jelas Fahd A Rafiq.
Sapioseksualitas dalam kepemimpinan bukan tentang teori, melainkan tentang kemampuan membedah data dengan ketajaman pisau bedah dan integritas moral yang kokoh. Kita tidak butuh pahlawan kesiangan yang berteriak di depan kamera, tapi kita butuh arsitek yang mampu membangun fondasi di bawah tanah tanpa perlu dipuji, paparnya.
Dunia mungkin sedang tidak bersahabat, namun kekuatan kita sesungguhnya tidak pernah bergantung pada restu dunia, melainkan pada ketangguhan tangan-tangan rakyatnya sendiri, cetusnya.
Setiap angka yang memerah dan setiap harga yang naik adalah alarm yang memberi sinyal bahwa waktu kita untuk berbenah kian terbatas. Mari kita jadikan keresahan ini sebagai energi untuk membangun tatanan yang lebih berkeadilan, tanpa harus terus-menerus menyalahkan pihak luar, paparnya.
Inilah saatnya bagi para intelektual dan patriot untuk bersatu dalam pemikiran yang ilmiah, objektif, dan berorientasi pada masa depan, tuturnya.
Bahwa di balik kerumitan ini, masih ada secercah harapan bagi Indonesia jika kita berani bertindak dengan rasionalitas yang melampaui kepentingan pragmatis, cetusnya.
Dosen yang mengajar di negeri Jiran Malaysia ini menutup pandangannya dengan keyakinan bahwa masa depan bangsa ada di tangan mereka yang berani berpikir jernih di tengah badai.
Penulis : ASW
