JAKARTA — Di tengah arus globalisasi yang memutarbalikkan kompas ketertiban dunia, kedaulatan sebuah bangsa tak lagi sekadar diukur dari seberapa rapat garis pantai dijaga oleh armada militer. Lebih dari itu, kedaulatan terletak pada ketajaman fondasi berpikir suatu bangsa dalam membaca arah angin geopolitik global, tegas Ketua Umum DPP BAPERA, Fahd A Rafiq, di Jakarta pada Rabu (5/8/2026).
Nusantara berdiri tepat di atas sumbu artikulasi kepentingan dunia titik silang strategis yang mempertemukan ambisi kekuatan besar Pasifik dan Hindia. Posisi geografis ini bukan sekadar berkah alam, melainkan amanat sejarah yang menuntut rasionalitas tingkat tinggi. Memahami geopolitik bukan lagi pilihan akademis, melainkan kewajiban eksistensial. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto meletakkan kesadaran ini sebagai pilar utama navigasi negara mengarungi gejolak zaman.
Ancaman terbesar bagi bangsa kaya bukanlah kemiskinan materi, melainkan kejahilan akan peta kekuatan yang mengepungnya. Ketika suatu negara gagal membaca dinamika eksternal, kekayaan alam yang melimpah kerap berubah menjadi kutukan.
<span;>Sejarah mencatat bahwa wilayah bernilai komoditas vital selalu menjadi panggung perebutan pengaruh hegemoni luar. Benteng pertahanan paling kokoh adalah pemahaman utuh mengenai cara kerja kekuatan asing dalam mengincar sumber daya tersebut.
Industri hilirisasi yang kini dipacu merupakan manifestasi doktrin kedaulatan ekonomi nasional. Pengolahan bahan mentah di dalam negeri adalah ekspresi kemerdekaan sejati agar kekayaan bumi tidak lagi dieksploitasi pihak luar.
Prinsip ini berakar pada Pasal 33 UUD 1945—bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat—sebagaimana ditegaskan Presiden Prabowo Subianto. Konversi komoditas mentah menjadi barang bernilai tambah tinggi memutus rantai ketergantungan struktural, menggeser posisi Indonesia dari penyedia bahan baku menjadi pemain utama rantai pasok global, Papar Mantan Ketua Umum PP-AMPG ini.
Di sisi lain, penundukan modern tidak lagi diwujudkan melalui invasi militer, melainkan infiltrasi wacana, polarisasi media, dan manipulasi isu yang memecah kesadaran kolektif dari dalam. Tanpa navigasi pemikiran geopolitik yang solid, masyarakat mudah terombang-ambing narasi asing. Kesiapsiagaan mental menjadi penawar utama untuk membendung strategi adu domba modern.
Lebih dalam suami dari Ranny (Anggota DPR RI ) memaparkan bahwa kompas diplomasi Indonesia tetap berpegang teguh pada doktrin politik luar negeri bebas aktif. Bebas berarti tidak mengikatkan nasib pada pakta militer atau aliansi yang memicu benturan dan aktif bermakna konsisten merajut perdamaian dunia dengan prinsip “satu lawan terlalu banyak, seribu kawan masih kurang.” Di tengah persaingan blok Barat dan Timur, posisi netral yang kritis adalah landasan menjaga martabat nasional.
Dunia hari ini terikat dalam rantai pasok pangan dan energi yang rapuh terhadap konflik perbatasan regional. Swasembada pangan dan energi menjadi jawaban rasional atas bayang-bayang krisis global, sekaligus parameter pertahanan paling riil untuk menjaga stabilitas sosial dan politik.
Fahd menjelaskan bahwa kedaulatan maritim Indonesia memangkas persimpangan pelayaran internasional paling padat melalui penetapan tiga koridor Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI):
1. ALKI I (Selat Sunda hingga Laut China Selatan) sebagai perlintasan vital arus logistik Asia Timur.
2. ALKI II (Selat Makassar dan Selat Lombok) sebagai rute alternatif berdalam tinggi bagi kapal kargo raksasa.
3. ALKI III (Pasifik Utara hingga Samudra Hindia) yang membelah perairan Kepulauan Maluku yang kaya keanekaragaman hayati.
Setiap chokepoint di jalur ini membutuhkan pengawasan teknologi tingkat tinggi secara nonstop. Melalui Doktrin Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta, kekuatan alutsista modern TNI diintegrasikan dengan kesadaran bela negara seluruh elemen masyarakat, termasuk nelayan di garis terdepan, paparnya.
Mantan Ketua Umum DPP KNPI ini melihat modernisasi pertahanan dilakukan untuk membangun deterrence effect agar Indonesia disegani dalam perundingan internasional.
Peta kekuatan global kini bergeser seiring tingginya kebutuhan akan critical minerals seperti nikel, tembaga, dan bauksit, ungkapnya.
Indonesia memegang kunci transisi energi hijau dunia melalui penguasaan cadangan nikel terbesar. Keberanian menghentikan ekspor bahan mentah memaksa dunia berinvestasi dan membangun fasilitas pemurnian di dalam negeri dengan mematuhi hukum lokal.
Melalui hedging strategy, kemitraan dibuka secara proporsional kepada semua blok Asia, Amerika, maupun Eropa demi mencegah hegemonisme tunggal. Fortifikasi ekonomi lewat pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar terbarukan turut menciptakan perisai dari gejolak harga minyak mentah dunia.
Mantan Ketua Umum Gema MKGR ini memandang penguasaan rantai pasok global ini otomatis meningkatkan posisi tawar diplomasi, di mana transfer teknologi dan keterlibatan tenaga kerja lokal menjadi syarat mutlak yang tidak dapat ditawar lagi, ungkapnya.
Di balik kalkulasi investasi dan pertahanan, kedaulatan sejati tercermin pada isi piring rakyat, keterjangkauan harga kebutuhan pokok, dan ketersediaan lapangan kerja yang bermartabat. Kemakmuran yang merata adalah amunisi sosial ampuh untuk mencegah ideologi radikal dan potensi disintegrasi bangsa.
Pendidikan karakter berlandaskan Pancasila yang dipadukan dengan wawasan global, penguasaan STEM, serta bahasa asing menjadi kunci agar generasi muda memiliki daya saing internasional. Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat harus bersinergi mengakselerasi kemandirian energi terbarukan dan menjaga kelestarian lingkungan agar pembangunan berwawasan jangka panjang tetap berkelanjutan.
Indonesia memiliki seluruh syarat mutlak untuk tumbuh menjadi negara adidaya baru yang disegani, kejujuran dalam memimpin, kecerdasan mengelola potensi, dan keberanian mengambil keputusan strategis demi rakyat. Dengan pemikiran jernih, landasan ilmiah, dan keberanian bertindak, Indonesia akan keluar sebagai pemenang di tengah pusaran persaingan global, tutup Dosen yang mengajar di Negeri Jiran Malaysia ini.
Penulis:A.S.W
