Otak di Atas Otot, Analisis Tajam Ketua Umum DPP BAPERA: Membedah Kegagalan Manajemen Bernegara dan Jalan Menuju Indonesia Maju   

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

Jakarta – Negara bukanlah entitas dagang yang sekadar menghitung neraca laba-rugi di atas meja kayu yang rapuh. Ia adalah sebuah kapal besar bernama Indonesia, yang seharusnya dinahkodai oleh visi peradaban, bukan sekadar kalkulasi pragmatis para saudagar yang kehilangan kompas moralnya, tegas Fahd A Rafiq di Jakarta pada Jum’at (3/7/2026).

 

Seringkali, di tengah riuhnya demonstrasi yang membara di jalanan beberapa hari terakhir, kita menyaksikan sebuah ironi yang memilukan. Kritik yang seharusnya menjadi suluh penerang kebijakan, justru tereduksi menjadi caci maki yang kering akan substansi, paparnya.

 

Apakah nalar kritis kita telah mengalami atrofi sehingga yang tersisa hanyalah kebencian yang tidak berakar? Mengkritik tanpa menawarkan antitesis berupa gagasan adalah sebuah kesia-siaan intelektual, tuturnya.

 

 

Tuhan telah menganugerahkan alat paling canggih dalam tubuh manusia bernama otak, namun sayangnya, ia kerap dibiarkan berdebu saat ambisi politik lebih mendominasi dari pada hasrat untuk membangun bangsa, sambungnya.

 

Membully pemerintah bukanlah bentuk partisipasi politik, melainkan pengakuan tersirat atas kebangkrutan ide. Politik yang hebat adalah politik yang melahirkan solusi, bukan sekadar riuh di media sosial yang sesaat, cetusnya.

Teori Machiavelli seringkali disalah pahami sebagai lisensi untuk menghalalkan segala cara. Padahal, jika kamuflase kekuasaan yang dibangun justru cacat secara fundamental, maka keruntuhan adalah konsekuensi logis dari sebuah kepalsuan, ungkapnya.

 

Kita perlu merenung, untuk apa berkuasa jika pada akhirnya hanya meninggalkan jejak kehancuran bagi generasi mendatang? Menciptakan negara maju adalah parameter utama yang tidak bisa ditawar oleh retorika kosong belaka, ulasnya.

 

Sejarah mencatat bahwa kebocoran devisa bukanlah masalah teknis semata, melainkan manifestasi dari pudarnya integritas. Ketika sumber daya alam kita dirampok secara sistematis dan kita hanya diam, itu adalah bentuk pengkhianatan senyap terhadap kedaulatan, tandasnya.

 

Ingatan kita ditarik kembali pada hilangnya Sipadan dan Ligitan. Itu bukan sekadar hilangnya daratan, melainkan kekalahan telak dalam diplomasi yang mencerminkan lemahnya posisi tawar sebuah negara di mata dunia, tegas Fahd.

 

Nasionalisme tidak boleh hanya menjadi pajangan di ruang kelas atau upacara seremonial. Ia harus mewujud dalam tindakan nyata saat martabat bangsa diinjak oleh kepentingan asing yang merayap di balik layar, imbuhnya.

Serangan budaya yang menggerus identitas bangsa sering kali dibiarkan tanpa perlawanan berarti. Keheningan kolektif di hadapan pencurian aset intelektual dan ekonomi adalah bentuk kelumpuhan rasa memiliki, katanya.

 

Fokus makro adalah kunci utama. Keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) memerlukan lompatan pikiran yang melampaui kebiasaan lama yang telah terbukti tidak efektif, beber Fahd dengan nada gamblang.

Kolonialisme tidak pernah benar-benar mati, ia hanya bertransformasi. Pengkhianat yang paling berbahaya bukanlah musuh yang datang dengan seragam militer dari luar, melainkan mereka yang lahir dari rahim ibu pertiwi namun menjajakan bangsanya sendiri, tukasnya.

 

Musuh nyata sering kali beroperasi dengan tangan-tangan lokal yang haus akan rente. Inilah pola yang berulang, dari masa lampau hingga era digital saat ini. Pergeseran pola pikir anak muda menjadi sebuah ancaman ketika pertanyaan “apa untungnya buat gue” mengalahkan “apa yang bisa gue berikan untuk Indonesia”. Negara bukanlah sebuah perusahaan yang mengejar profit, melainkan ruang pengabdian bagi rakyat, cetusnya.

 

Perbedaan mendasar antara mengelola perusahaan dan negara terletak pada orientasinya. Perusahaan mencari keuntungan material, sementara negara mengejar kesejahteraan dan martabat manusia, paparnya.

Ironisnya, meski gaya berdagang telah diadopsi dalam manajemen bernegara, kita tetap saja kalah dalam lobi diplomasi internasional. Ini membuktikan bahwa ada kesalahan fatal dalam sistem manajemen kenegaraan selama ini, nilainya.

 

Presiden Prabowo kini memikul beban berat untuk membenahi puing-puing kegagalan manajemen masa lalu. Dibutuhkan transformasi radikal untuk mengembalikan arah bahtera bumi Nusantara ini agar tidak karam, jelasnya.

 

Demonstrasi yang berlangsung beberapa hari ini adalah sebuah cerminan frustrasi sosial. Namun, tanpa gagasan yang tajam, demonstrasi tersebut berisiko kehilangan momentumnya untuk menghasilkan perubahan yang substansial, kata Fahd.

 

Sapioseksual dalam politik seharusnya tidak hanya melihat pada tampilan luar kekuasaan, tetapi pada kedalaman visi yang mampu mengubah nasib rakyat jelata, terangnya.

 

Manajemen bernegara adalah seni menyeimbangkan antara stabilitas dan keadilan. Jika yang dipertontonkan hanya ilmu tipu-tipu, maka rakyat cilik akan selalu menjadi korban yang paling menderita, imbuhnya.

 

Filosofi kepemimpinan menuntut adanya kejujuran. Tanpa itu, kebijakan hanyalah topeng untuk menutupi kerakusan yang terus menggerogoti struktur ekonomi bangsa, tambahnya.

 

Secara historis, setiap negara besar yang bangkit selalu dimulai dari kemurnian ide. Kita sedang menanti lahirnya kembali pemikiran-pemikiran besar yang mampu mensejajarkan Indonesia dengan bangsa maju lainnya, tuturnya.

 

Kontemplasi tentang masa depan bangsa ini haruslah beranjak dari pengakuan jujur akan kelemahan kita. Menolak mengakui kesalahan adalah langkah awal menuju jurang kehancuran, paparnya.

 

Imajinasi kolektif kita untuk menjadi negara maju seringkali terhambat oleh mentalitas pecundang yang selalu menyalahkan keadaan tanpa mau berbenah, cetusnya.

 

Sudah waktunya kita membuang jauh-jauh budaya “tipu-tipu” kepada rakyat. Rakyat bukanlah objek eksperimen, melainkan subjek utama yang berdaulat atas nasib negaranya sendiri, paparnya.

 

Analisis mendalam mengenai kebocoran anggaran menunjukkan bahwa tanpa reformasi birokrasi yang drastis, kita hanya akan jalan di tempat.  Politik yang beradab adalah politik yang mengedepankan adu ide, bukan adu domba. Di situlah letak kematangan seorang negarawan, katanya.

 

Ketua Umum DPP BAPERA ini melihat bahwa keberanian untuk berargumen berdasarkan data jauh lebih bernilai daripada teriakan lantang yang kosong tanpa makna, tambahnya.

Mantan Ketua Umum PP – AMPG tersebut menaruh harapan besar bahwa generasi penerus mampu mengintegrasikan kecerdasan intelektual dengan nurani kemanusiaan, imbuhnya.

 

Sebagai suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komisi IX), Fahd merasakan betapa krusialnya kebijakan berbasis kesehatan dan kesejahteraan bagi keluarga Indonesia, paparnya.

 

Pernah menjabat sebagai Ketua Umum DPP KNPI, ia memahami dinamika pemuda yang sering kali terjebak dalam euforia sesaat tanpa visi jangka panjang, tuturnya.

 

Pengalamannya sebagai Mantan Ketua Umum GEMA MKGR menjadikannya sosok yang kenyang akan intrik politik, namun ia tetap memilih jalan pengabdian, sambungnya.

Sebagai seorang Pengusaha Muda yang sukses, ia paham bahwa profit harus selalu bersandingan dengan tanggung jawab sosial terhadap negara.  Sentuhan kreatif sebagai seorang Artis dan Seniman membuat Fahd memiliki kepekaan estetika dalam memandang sebuah fenomena sosial, nilainya. Darah yang mengalir dari sang ayah, musisi legend A Rafiq, memberikan warisan keteguhan karakter yang kini ia manifestasikan dalam perjuangan politiknya.

 

Fahd A Rafiq percaya bahwa Indonesia memiliki segalanya untuk menjadi bangsa pemenang, asalkan kita berani jujur dengan diri sendiri, tandasnya.

Kini, melalui berbagai forum intelektual, ia terus menggemakan pentingnya penguatan kapasitas bangsa untuk menghadapi persaingan global yang semakin tidak menentu, imbuhnya.

Ia menegaskan bahwa setiap individu yang mengaku mencintai negeri ini harus berani mengambil peran, bukan sekadar menonton dari pinggiran, paparnya.

 

 

Semangat bernegara yang ia bawa bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan implementasi nyata yang ia ajarkan pula sebagai Dosen yang mengajar di negeri Jiran Malaysia ini, tutupnya.

 

Penulis : A.S.W

 

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita