Bagian 2
Jakarta – Dunia hari ini tidak lagi dirajut oleh diplomasi yang manis atau retorika humanis. Ia dibentuk oleh tekanan, skema tersembunyi, dan kalkulasi brutal antar kepentingan. Dalam lanskap inilah muncul pertanyaan besar mengapa Presiden Prabowo Subianto menyetujui kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat, yang bagi sebagian pengamat dianggap sebagai “kekalahan total” Indonesia? Benarkah seperti itu, ucap Fahd A Rafiq di Jakarta pada Minggu, (27/7/2025).
Ketum DPP BAPERA ini mengatakan, “Indonesia bayar 19%, kami bayar nol,” ujar Donald Trump dengan mimik kemenangan. Kalimat itu menampar kesadaran geopolitik kita. Bagi Trump, diplomasi bukan tentang imbang, tetapi tentang dominasi. Baginya, kesepakatan bukan simetris, tapi harus membuat Amerika menang mutlak, cetusnya.
Tapi dunia bukan hanya diukur dari tarif dan angka. Ia bergerak dalam spektrum yang lebih luas yaitu narasi, waktu, potensi, dan arah arus modal. Jika dilihat dari permukaan, Indonesia seperti dijajah ulang tarif naik 400% dibanding tahun sebelumnya, kewajiban belanja 500 triliun rupiah, dan pembelian 50 pesawat Boeing yang bahkan belum tentu bisa dikirim tepat waktu.
Namun dalam politik luar negeri, kadang kekalahan yang dipertontonkan di panggung depan adalah strategi untuk membuka celah di belakang panggung. Dan di situlah, Prabowo memainkan peran diamnya sebagai arsitek strategi yang mungkin tidak populer di headline, tapi penuh peluang dalam jangka panjang.
Ya, tarif 19% itu tinggi. Tapi Indonesia tidak menandatanganinya sebagai korban. Ia menandatanganinya sebagai pintu masuk ke reruntuhan sistem global yang tengah berubah. Saat tarif masuk AS terhadap produk China menyentuh angka 100% lebih, manufaktur besar dunia mencari tempat baru. Dan Prabowo memberi tempat itu, terang Suami dari Anggota DPR RI ini.
Ketika Tiongkok memutar haluan, ia memindahkan pabrik-pabriknya ke Indonesia, bukan karena Indonesia lemah, tapi karena Indonesia menyediakan dua hal penting yakni stabilitas politik dan insentif tarif. Dengan tarif masuk ke Amerika hanya 19%, produk dari Indonesia yang hakikatnya bisa diproduksi oleh modal China menjadi sangat kompetitif.
Maka tarif 19% itu bukan akhir. Ia adalah pintu. Pintu bagi gelombang relokasi industri dari Asia Timur ke Asia Tenggara, khususnya ke Jawa Barat. Dengan bandara Kertajati dan pelabuhan Patimban berdiri kokoh sebagai simpul logistik strategis, skenario geoproduksi baru sedang disusun, ujar Mantan ketum PP AMPG ini.
Dari hanya 8 miliar dolar transaksi perdagangan, Indonesia berpotensi mencapai 100 miliar dolar ekspor ke Amerika dalam 5 tahun ke depan. Bukan dengan menjual lebih banyak barang lokal, tetapi dengan menjadi panggung baru bagi produsen dunia yang membutuhkan pasar bebas tarif dan jalur distribusi yang efisien, tegas Mantan Ketum DPP KNPI ini.
Para pemimpin dunia saat ini sedang memperhatikan Indonesia dengan dua rasa yaitu curiga dan kagum. Curiga karena tampak tunduk. Kagum karena mungkin saja di balik keterpaksaan itu, ada skema ekonomis yang cerdik. Indonesia seperti pemain catur yang mengorbankan benteng demi menyiapkan jebakan skak-mat, hal inilah yang jarang dimainkan presiden sebelumnya pasca reformasi.
Bahkan dalam kewajiban belanja seperti pembelian minyak dan gas senilai 15 miliar dolar, serta produk pertanian Amerika senilai 1,4 miliar dolar Indonesia sebenarnya sedang menutupi kekurangannya sendiri. Kita belum bisa swasembada gandum dan kedelai. Maka yang dibeli adalah kebutuhan riil, bukan sekadar pemaksaan, terang Fahd.
Di balik transaksi yang tampak berat sebelah, ada logika ketahanan pangan dan energi yang sedang dibangun. Dan pesawat Boeing? Itu hanya janji masa depan. Barangnya bahkan belum ada. Estimasi pengiriman mencapai 10–15 tahun. Dan jika presiden AS berganti, semuanya bisa direvisi lagi, papar Fahd.
Artinya, janji itu adalah janji kosong yang sengaja diterima Prabowo. Dalam bisnis global, waktu adalah komoditas. Dan Prabowo memanfaatkan waktu itu untuk menyiapkan ekosistem aviasi yang baru, bahkan mungkin memfasilitasi kompetitor Boeing yang kini sedang menanjak seperti COMAC dari Tiongkok.
Maka dalam lanskap global, kesepakatan 19% bukanlah penjara. Ia adalah ruang tawar. Ia membuka jalan bagi relokasi investasi, pembukaan lapangan kerja, dan peningkatan devisa yang berlipat ganda. Kunci utamanya bukan di angka, tapi di arah arus industri.
Jika dalam satu dekade Indonesia mampu menyerap masuknya modal manufaktur global dan mengintegrasikannya dengan kebijakan industri dalam negeri, maka tarif 19% akan menjadi gerbang emas, bukan palu pemukul.
Inilah cara berpikir non-linear. Inilah yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang belajar dari banyak peperangan baik literal maupun diplomatik. Prabowo tahu kapan harus menunduk agar bisa melompat. Ia paham bahwa dunia tidak selalu memberi kemenangan kepada yang paling keras bersuara, tapi kepada yang paling sabar menyusun langkah, ungkap Fahd.
Dalam sejarah panjang peradaban, ada banyak momen ketika bangsa yang tampak kalah di atas kertas, justru sedang menyiapkan kebangkitannya. Seperti Jepang pasca-Perang Dunia II, atau Vietnam pasca-invasi Amerika. Kekalahan adalah ilusi jika digunakan sebagai alat negosiasi.
Saat produk Amerika masuk ke Indonesia tanpa tarif, itu bukan berarti rakyat akan mengkonsumsinya. Tanpa strategi marketing dan daya beli yang kuat, produk hanya akan menjadi angka di pelabuhan. Dan pasar Indonesia tidak semudah itu dijajah, apalagi di era digital yang kritis dan terdidik.
Maka kini kita kembali pada pertanyaan utama yaitu apakah Prabowo kalah? Atau justru kita semua sedang menyaksikan babak pembuka dari strategi jangka panjang yang tak semua orang bisa baca? Dalam dunia yang berubah cepat, yang terlihat kalah hari ini bisa jadi pemilik peta esok hari.
Fahd Melihat lebih dalam bahwa ekonomi bukanlah garis lurus. Ia adalah jejaring tak terlihat dari data, diplomasi, dan imajinasi geopolitik. Dan Indonesia sedang menenun jejaring itu, pelan-pelan, tapi pasti dengan satu kunci. kita tidak sedang bermain di papan catur milik Amerika, kita sedang membuat papan baru.
Maka dalam narasi besar zaman ini, tarif 19% bukan akhir cerita. Ia adalah titik awal dari permainan sunyi yang mungkin baru akan dimengerti dunia satu dekade dari sekarang, ketika semua pion sudah bergerak, dan Indonesia berdiri sebagai salah satu poros industri global yang baru, tutup dosen yang mengajar di negeri Jiran ini.
Penulis: A.S.W