Jakarta – Di tengah bisingnya dunia yang terus menuntut kebaruan, muncul sebuah anomali perilaku yang menarik secara intelektual ketekunan seseorang untuk mengurung diri dalam satu lagu yang sama, diputar berulang-ulang hingga melampaui batas kebosanan kolektif. Bagi pengamat awam, ini adalah monotonitas; namun bagi pengamat kritis, ini adalah sebuah ritual pemulihan eksistensial, demikian pandangan Fahd A Rafiq, di Jakarta pada Rabu, (7/1/2025).
Fenomena ini bukanlah sekadar kemalasan kurasi musik, melainkan sebuah bentuk homeostatis emosional di mana otak manusia mencari titik ekuilibrium di tengah entropi kehidupan yang melelahkan. Ketika realitas eksternal menjadi terlalu acak dan tidak terprediksi, lagu yang familiar hadir sebagai satu-satunya variabel yang bisa dikendalikan sepenuhnya oleh individu, ujar sosok yang dikenal sebagai Pengusaha Muda tersebut.
Secara neurosains, otak kita adalah mesin pengenal pola yang saat mendengarkan melodi hafal luar kepala, ia sedang memberikan “istirahat kognitif” kepada prefrontal korteks. Tidak ada kejutan atau disonansi yang menuntut adaptasi yang ada hanyalah keamanan dalam prediksi yang menenangkan saraf-saraf yang tegang, tegas Mantan Ketua Umum DPP KNPI ini.
Manusia selalu terikat pada ritme yang repetitif mulai dari detak jantung ibu di dalam rahim hingga ritme alam semesta yang presisi. Pengulangan musik adalah upaya bawah sadar untuk kembali ke “rahim” emosional tersebut, sebuah ruang di mana waktu seolah berhenti berdetak linear dan berubah menjadi sirkular, tutur Mantan Ketua Umum PP – AMPG tersebut.
Dalam kacamata psikologi evolusioner, hal baru seringkali diasosiasikan dengan ancaman potensial, sementara sesuatu yang familiar adalah tanda keamanan yang hakiki. Maka, memutar lagu yang sama berminggu-minggu adalah mekanisme pertahanan diri primitif yang dimanifestasikan melalui teknologi modern untuk meredam kecemasan eksistensial, cetus Putra dari Musisi Legend A Rafiq ini.
Musik memiliki akses langsung ke sistem limbik, pusat emosi dan memori, di mana lagu tertentu bukan sekadar gelombang suara melainkan kunci brankas ingatan spesifik. Mendengarkannya berulang kali adalah upaya sadar untuk tetap terhubung dengan fragmen diri kita yang tertinggal dalam jejak waktu masa lalu, papar Ketua Umum DPP BAPERA tersebut.
Ada semacam metafora katarsis di sini, di mana seseorang yang memutar lagu sedih secara berulang tidak sedang berusaha memperdalam lukanya, melainkan sedang melakukan validasi terhadap perasaannya sendiri. Musik tersebut menjadi juru bicara bagi emosi-emosi yang terlalu abstrak untuk dikonversi menjadi kalimat yang lugas, jelas Mantan Ketua Umum GEMA MKGR ini.
Dalam filsafat eksistensialisme, pengulangan ini bisa dipandang sebagai pencarian makna di dalam keheningan yang paling dalam. Di saat kota-kota terasa berat dan hiruk pikuk menuntut produktivitas tanpa henti, lagu tunggal itu menjadi benteng terakhir privasi dan kedaulatan rasa, seloroh pria yang juga dikenal sebagai Artis dan Seniman itu.
Data observasi menunjukkan bahwa lonjakan perilaku ini seringkali bertepatan dengan fase keletihan mental yang tinggi, di mana otak menolak informasi baru demi menghemat energi. Lagu yang familiar adalah “makanan jiwa” yang sudah terkunyah habis, mudah dicerna, dan langsung memberikan efek relaksasi yang instan, ungkap Suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komisi IX) tersebut.
Secara kimiawi, repetisi ini memicu pelepasan dopamin secara berkala, menciptakan paradoks psikologis di mana kita mendapatkan kegembiraan justru dari kepastian. Antisipasi terhadap nada yang akan datang memberikan kepuasan emosional yang sangat langka ditemukan di dunia nyata yang penuh ketidakpastian, tandas Fahd A Rafiq.
Seringkali, satu lagu mewakili sebuah fase transisi yang krusial, bertindak sebagai “jembatan emosional” yang membantu seseorang menyeberang dari lembah kesedihan menuju puncak penerimaan. Dalam proses ini, musik tidak lagi berfungsi sebagai hiburan belaka, melainkan sebagai terapi psikoakustik yang mandiri dan personal, bebernya dengan nada reflektif.
Kecerdasan emosional menekankan pentingnya kesadaran diri, dan mereka yang terjebak dalam satu lagu sebenarnya sedang melakukan meditasi mendalam. Mereka membiarkan pikiran mengembara di atas karpet musik yang sama, memberikan ruang bagi jiwa untuk mengolah trauma atau kegelisahan secara perlahan, ulas tokoh muda ini.
Bayangkan lagu tersebut sebagai sebuah kamar yang familiar, setiap kali diputar, kita masuk kembali ke sana namun dengan perspektif yang sedikit berbeda. Pengulangan tidak pernah benar-benar identik karena sang pendengar terus tumbuh dan berubah di setiap detiknya, kritik Fahd A Rafiq.
Ada keindahan dalam simplisitas ini, di mana memilih untuk setia pada satu harmoni di tengah dunia yang merayakan kecepatan adalah bentuk pemberontakan diam-diam. Ini adalah pernyataan bahwa kualitas kedalaman emosional jauh lebih berharga daripada kuantitas distraksi yang dangkal dan sementara, imbuhnya dengan mendalam.
Dalam konteks sosiopsikologis, perilaku ini mencerminkan kebutuhan akan “sosok pendamping” yang konstan. Ketika interaksi manusia gagal memberikan rasa aman, frekuensi suara dalam lagu tersebut hadir sebagai pengganti kehadiran yang tidak menghakimi dan selalu setia menemani, tegasnya tanpa ragu.
Lagu tersebut menjadi sebuah jangkar emosional yang memastikan kita tetap berpijak pada identitas diri saat arus kehidupan menarik ke berbagai arah. Ia mencegah kita hanyut dalam arus informasi yang seringkali merusak integritas mental dan mengaburkan jati diri yang asli, saran Fahd A Rafiq.
Secara filosofis, ini adalah manifestasi dari konsep Amor Fati mencintai takdir dan segala yang melekat padanya. Dengan menerima satu lagu sepenuhnya secara berulang, seseorang belajar untuk mencintai momen yang ada, meskipun momen itu terasa pahit atau melankolis, seru tokoh organisatoris tersebut.
Analisis tajam menunjukkan bahwa masyarakat modern cenderung mengidap neofilia, namun kemampuan bertahan pada satu lagu adalah indikasi ketahanan emosional yang unik. Ini adalah bentuk meditatif modern yang tidak membutuhkan posisi lotus, melainkan cukup dengan sepasang earphone dan kejujuran batin, ingatnya dengan penuh empati.
Musik sebagai penyangga emosional bekerja secara subliminal, menemani kita dalam kecepatan kita sendiri tanpa paksaan untuk cepat sembuh. Inilah esensi dari kesehatan mental yang autentik: memberikan izin pada diri sendiri untuk tidak baik-baik saja dalam dekapan nada yang sama, cetus Fahd A Rafiq.
Dilihat dari sudut pandang “ekonomi energi mental,” repetisi adalah bentuk efisiensi emosional di tengah kelelahan psikis yang akut. Mengapa harus mencari lagu baru yang belum tentu cocok, jika ada satu melodi yang sudah terbukti mampu menjahit luka-luka lama dengan sempurna, pungkasnya.
Melalui lensa historis, penyair masa lalu selalu menggunakan repetisi seperti mantra atau dzikir untuk mencapai kedalaman transendental yang melampaui logika. Memutar lagu berulang kali adalah versi sekuler dari pencarian ketenangan spiritual di tengah dunia yang kian materialistik, tegasnya kembali.
Pada akhirnya, ini bukan tentang lagu itu sendiri, melainkan tentang bagaimana harmoni tersebut membuat kita merasa “pulang” ke dalam diri. Pulang ke tempat di mana kita tidak perlu memakai topeng sosial dan bebas untuk menjadi rapuh tanpa takut dihakimi oleh dunia luar, harap Fahd A Rafiq.
Motivasi di balik kebiasaan ini adalah bentuk kasih sayang pada diri sendiri (self-compassion) yang sangat tinggi. Seseorang sedang memberikan waktu bagi hatinya untuk memahami apa yang sedang dirasakan, tanpa tekanan untuk segera pulih atau bergerak maju, ujar tokoh ini dengan dengan retoris.
Dunia mungkin melihatnya sebagai kebosanan, namun bagi sang pendengar, itu adalah simfoni keselamatan yang menggugah jiwa. Di antara ribuan bit data yang masuk setiap hari, hanya ada satu frekuensi yang mampu menyentuh relung jiwa yang paling dalam dan memberikan makna, ajak Fahd A Rafiq menutup narasinya.
Biarkanlah mereka tetap dalam pengulangannya, karena terkadang cara terbaik memahami dunia adalah dengan mengecilkannya menjadi satu lagu tunggal di mana setiap nadanya terasa seperti pelukan yang memahami segalanya, tutup Dosen yang mengajar di negeri Jiran Malaysia ini.
Penulis: Wahid Mubarak