Jakarta – Pernahkah Anda bertanya? mengapa beberapa negara tampak selalu berkonflik, atau mengapa negara adidaya tertentu memiliki begitu banyak pengaruh? Tim Marshall, seorang jurnalis dan penulis ulung, punya jawabannya. Ia percaya bahwa untuk memahami dunia, kita tidak perlu analisis politik yang rumit atau teori ekonomi yang njelimet. Kita hanya perlu peta. Dalam bukunya yang terkenal, Prisoners of Geography (Tawanan Geografi), Ucap Fahd A Rafiq di Jakarta pada Kamis, (19/6/2025).
Ketum DPP BAPERA mengatakan, “The Power of Geography (Kekuatan Geografi), Marshall mengajarkan kita satu hal fundamental yakni geografi adalah takdir. Kedengarannya dramatis kan? Tapi intinya sederhana yakni bentuk tanah, letak gunung, aliran sungai, dan akses ke laut secara mendasar membentuk sejarah, politik, dan masa depan suatu negara. Dan inilah yang terjadi hari ini dalam konflik global seperti negara India dan Pakistan. India mengancam akan memblokir aliran sungai dan membatasi air yang mengarah ke Pakistan, terang Fahd.
Lebih jauh Mantan Ketum DPP KNPI ini menanyakan, Mengapa kita “Tawanan Geografi”? Fahd melanjutkan bayangkan sebuah negara yang dikelilingi pegunungan tinggi membuatnya sulit untuk di invasi tapi juga susah untuk berdagang atau negara lain dengan sungai besar yang jadi jalur perdagangan utama, tapi juga jadi sumber sengketa perbatasan. Marshall menunjukkan bagaimana karakteristik fisik ini bukan hanya latar belakang, tapi justru pemain utama dalam drama geopolitik global.
Mantan Ketum PP – AMPG melihat Rusia sebagai negara terbesar, tapi sebagian wilayahnya beku dan tidak memiliki akses mudah ke laut yang bebas es sepanjang tahun. Ini membuat Rusia merasa tidak aman dan selalu ingin memiliki “zona penyangga” di sekitarnya seperti negara-negara Eropa Timur, terangnya.
Fahd menelusuri secara detail bagaimana sejarah Rusia selalu berulang soal invasi dan pertahanan perbatasan yang luas. Mereka seperti terperangkap dalam kebutuhan akan pertahanan yang dalam yang sangat dipengaruhi oleh geografinya yang terbuka di Barat, terangnya.
Fahd melanjutkan, Bagaimana dengan Tiongkok? negara ini dikelilingi gunung dan gurun di bagian barat, membuat sebagian besar penduduknya terpusat di timur. perhatian utamanya adalah mengamankan sumber daya dan jalur perdagangan maritim, terutama melalui Laut Cina Selatan. Ini menjelaskan mengapa mereka begitu fokus pada pembangunan angkatan laut dan mengklaim pulau-pulau di sana. Mereka ingin memastikan jalur ekspor-impor vital mereka agar aman.
Lantas bagaimana dengan Amerika Serikat?tanya Fahd, mereka beruntung secara geografis karena Dikelilingi dua samudra besar (Atlantik dan Pasifik) yang melindunginya dari invasi. Di utara dan selatan berbatasan dengan negara yang relatif damai (Kanada dan Meksiko). Ini memberi AS kebebasan untuk mengembangkan diri dan memproyeksikan kekuatannya ke seluruh dunia tanpa perlu terlalu khawatir tentang ancaman di dalam negeri. Inilah salah satu kunci mengapa AS menjadi negara adidaya, ucapnya menurut teorinya tim Marshall.
Bagaimana dengan Eropa Barat? negara negara di wilayah ini punya banyak sungai yang bisa dilayari dan garis pantai yang panjang, memfasilitasi perdagangan dan konektivitas antar negara. Tapi di sisi lain, tidak ada hambatan geografis besar yang memisahkan mereka, sehingga sejarahnya penuh dengan konflik perbatasan. Sekarang, geografi ini justru mendukung integrasi ekonomi seperti Uni Eropa karena lebih mudah untuk saling terhubung.
Geografi bukan hanya masa lalu, tapi juga masa depan Marshall tidak hanya melihat ke belakang. Dalam The Power of Geography, ia membawa kita ke masa depan. Ia menyoroti bagaimana perubahan iklim, pencairan es di Arktik, dan perlombaan untuk menguasai luar angkasa adalah isu-isu geopolitik baru yang juga sangat dipengaruhi oleh geografi.
Fahd melihat Arktik (Kutub Utara) mencair membuka jalur pelayaran baru dan akses ke sumber daya alam yang melimpah. Ini menciptakan “perebutan” wilayah baru antara negara seperti Rusia, AS, Kanada, dan Denmark, yang semuanya ingin mengklaim kedaulatan di sana. Peta baru akan terbentuk di kutub utara dalam waktu dekat. Presiden USA Donald Trump berencana akan membeli pulau Greenland dari negara Denmark, paparnya.
Isu terbaru yang lagi hangat dari beberapa tahun terakhir adalah soal luar angkasa Ini adalah “batas terakhir” yang baru. Siapa yang menguasai orbit bumi, satelit, dan bahkan sumber daya di Bulan atau Mars, akan memiliki keunggulan militer dan ekonomi yang luar biasa. Geografi “luar angkasa” kini menjadi arena persaingan kekuatan global.
Intinya? Peta Adalah Kunci!
Fahd melihat pesan utama dari Tim Marshall sangatlah jelas jika anda ingin faham mengapa suatu negara bertindak seperti yang mereka lakukan, mengapa konflik terjadi di suatu wilayah?, atau kemana arah dunia selanjutnya? mulailah dengan melihat peta yakni gunung, sungai, gurun, garis pantai bahkan posisi di luar angkasa, semuanya berperan dalam membentuk nasib negara dan bangsa tersebut.
Mereka bisa menjadi pelindung, jalur perdagangan, sumber konflik, atau pendorong ambisi. Kita semua sampai batas itu adalah tawanan geografi kita sendiri, dan memahami peta adalah langkah pertama untuk memahami dunia, tutup dosen yang mengajar di negeri jiran ini.
Penulis: A.S.W