Jakarta – Di bawah langit senja Kota Depok, terselip kenyataan yang tak bisa diabaikan. Sepanjang 2024, tercatat 47 kasus pencurian dengan pemberatan dan 109 kasus curanmor bersumber dari (depokkota.bps.go.id). Angka ini bukan sekadar deret statistik ia adalah denyut nadi warga yang merasa harus berjaga setiap saat.
“Ini bukan hanya soal jumlah, tapi tentang rasa aman yang hilang,” ujar Ranny Fahd A Rafiq di Kompleks Parlemen DPR RI, Selasa (5/8/2025).
Sementara itu, di sebelah barat, Kabupaten Bekasi mencatat peningkatan kasus kriminal dari 2.279 (2023) menjadi 2.343 (2024), atau rata-rata tujuh kejadian setiapp hari (bekasiguide.com). Ini yang melapor, mungkin angkanya bisa lebih jika digabung dengan yang tidak melapor. Modus terbanyak adalah pencurian kendaraan bermotor dan penipuan daring dua bentuk kejahatan yang mencerminkan kerentanan masyarakat terhadap tekanan ekonomi dan perkembangan digital, papar Ranny.
Motif ekonomis menjadi latar belakang yang jelas, namun ada pula dimensi eksistensial sebagian pelaku mencari makna hidup, perhatian, atau bahkan kekuasaan mikro lewat tindak kriminal, ucap Istri dari Fahd A Rafiq ini.
Keberhasilan Operasi Pekat Jaya 2024 di Depok membongkar puluhan pelaku curanmor, begal, dan perjudian ilegal membuktikan bahwa tindakan tegas dapat meredam laju kriminalitas. Namun, operasi semata tak cukup. Diperlukan peta intelijen masyarakat warga yang tak hanya melapor, tetapi mampu memprediksi pola kejahatan, ungkap anggota Banggar DPR RI ini.
Ranny melihat, pola operasinya pun terpetakan siang hari untuk penjambretan gawai, malam hari untuk curanmor. Di Bekasi, sebagian besar kejahatan terjadi di pekarangan minim penerangan dan jalan sepi. Pelaku sering bergerak berpasangan satu mengeksekusi, satu mengawasi jalur pelarian, dengan jaringan penadah lintas wilayah yang rumit.
Ironisnya, semakin sering laporan dibuat, pelaku justru kian berani. Proses hukum yang lamban memberi ruang untuk mengulang aksi. Fenomena “warga letih lapor” menjadi potret kelelahan kolektif yang meruntuhkan semangat penegakan hukum.
Secara historis, kota yang kehilangan solidaritas berubah menjadi ladang alienasi. Tren global menunjukkan, urbanisasi padat penduduk dan mobilitas tinggi kerap menjadi magnet kejahatan terselubung. Depok dan Bekasi kini menjadi miniatur dari kecenderungan itu curanmor marak, penipuan digital meningkat, dan rasa aman kian memudar, tegas Ranny.
Pendekatan represif ekstrem, seperti yang pernah terjadi di masa lalu, memang bisa menurunkan angka, tetapi meninggalkan trauma yang membekas. Keamanan sejati lahir dari kepercayaan data yang transparan, patroli cerdas berbasis partisipasi warga, dan akuntabilitas aparat.
Kota ibarat tubuh hidup. Luka kriminal tidak cukup diatasi dengan “antiseptik” represif, melainkan dengan regenerasi komunitas. Inventarisasi jam rawan, jalur pelarian, dan modus operandi menjadi modal analisis yang nyata bagi patroli strategis.
Keamanan bukan sekadar menindak pelaku, tetapi juga membangun jaringan solidaritas agar warga merasa aman melangkah. Saat data dibuka dan dipahami publik, sinergi antara masyarakat, aparat, dan legislator dapat mengubah zona rawan menjadi wilayah sadar aman.
Di Kota Depok, malam hari kerap bercerita lain dibanding siang yang damai helm, motor, dan dompet raib di lorong-lorong sepi. Kehilangan rasa aman jauh lebih sulit diukur ketimbang jumlah barang yang hilang. Bagi sebagian korban, yang tercuri bukan sekadar harta, tetapi rasa percaya diri dan keyakinan bahwa rumahnya adalah tempat berlindung.
Penipuan daring dan curanmor adalah dua sisi koin yang sama satu mencuri identitas digital, satu mengambil identitas fisik. Ketika warga berhenti melapor, kota perlahan menjadi ruang gelap yang dikendalikan pelaku, Kapan negara bertindak tegas, Tanya Ranny.
Polisi mencatat pengungkapan kasus di Bekasi meningkat 5 persen menjadi 1.975 kasus bersumber dari wowbekasi.id, bekasiguide.com. Namun, senyum warga belum sepenuhnya kembali. Program Polisi RW dan patroli komunitas adalah cahaya kecil di tengah gelap, tetapi sinarnya redup bila warga enggan menjadi saksi.
Ranny menambahkan kejahatan pencurian sangat rawan di wilayah jabodetabek bahkan kotak amal masjid, Ponsel, Laptop tidak luput dari incaran, masjid yang seharusnya tempat Ibadah menjadi arena baru buat pelaku pencurian.
Dalam kerangka lain Ranny memandang manusia melalui data jiwa, motif kriminal sering kali lebih kompleks daripada sekadar ekonomi seperti dendam, kesepian, atau luka batin yang membusuk menjadi agresi. Tanpa akses publik terhadap tren dan titik rawan, kota akan terus berjalan dalam blind spot.
Sejarah mengingatkan, langkah represif instan mungkin menekan angka, tetapi melahirkan luka sosial yang dalam. Keamanan berkelanjutan menuntut ruang bagi warga untuk melapor dan didengar, serta kehadiran aparat di lapangan yang peka terhadap intelijen warga.
Kriminalitas adalah goresan arang di kanvas kota. Tugas bersama adalah mengubahnya menjadi karya reflektif bukan menutupinya, tetapi memaknainya agar dapat diperbaiki. Sistem keamanan yang ideal adalah yang dapat dipahami, dianalisis, dan dirasakan secara rasional maupun emosional.
Presiden, Polri, dan TNI diharapkan mengambil langkah tegas menyelesaikan persoalan sosial yang timbul dan tenggelam. Sebab, permasalahan serupa tak hanya melanda Depok dan Bekasi, tetapi juga banyak kota dan desa di Indonesia.
Angka kejahatan yang terus bergerak bukan hanya alarm statistik, melainkan tanda bahwa kota membutuhkan strategi yang lebih dari sekadar patroli dan operasi sesaat. Tantangan terbesar bagi pemerintah dan aparat adalah mengembalikan rasa aman sebagai hak dasar warga negara.
Ketegasan dalam penindakan harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat, agar ruang publik kembali menjadi milik bersama, bukan medan ketakutan. Jika Depok dan Bekasi berhasil menjawab tantangan ini, keduanya dapat menjadi model bagi kota-kota lain di Indonesia, ini membuktikan bahwa keamanan bukan hanya cita-cita, tetapi kenyataan yang dapat dirasakan di setiap sudut jalan.
Pertanyaannya ? mampukah negara benar-benar memberi rasa aman bagi rakyatnya? Jawabannya menunggu dalam bentuk tindakan yang membuat pelaku jera dan
Keamanan bukan sekadar urusan penegakan hukum, tetapi hasil dari kematangan sosial sebuah kota.
Ketika Era Orde Baru antara tahun 1983-1985 ada sebuah operasi bernama petrus (Petrus) tapi setelah itu di hentikan karena banyak protes. Era Pak Harto yang saat itu ekonomi stabil saja masih banyak gangguan kemanan, bagaimana dengan sekarang?
Kota Depok dan Bekasi adalah penyangga (satelit) ibu kota, kini berada di persimpangan antara membiarkan kriminalitas menjadi bagian dari rutinitas, atau membangun ekosistem keamanan berbasis kepercayaan, partisipasi warga, dan transparansi data, tutup Ranny.
Penulis: A.S.W

