Ranny Fahd A Rafiq, Perempuan dari Parlemen dan Perjuangan Keadilan Sosial

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

Jakarta – kembali menjadi saksi dari suara lantang seorang perempuan parlemen yang menolak diam di tengah ketidakadilan. Ranny Fahd A Rafiq, anggota DPR RI dari Partai Golkar, memilih untuk menyalakan obor kesadaran ketika Pancasila, yang semestinya menjadi mercusuar bangsa, sering hanya berhenti di bibir seremonial, ucapnya di Jakarta pada Sabtu, (16/8/2025).

 

Ranny Fahd A Rafiq mengatakan, “Pancasila sila kelima yakni Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia berulang kali dikumandangkan, namun bagi Ranny kalimat itu masih berdiri rapuh, seolah tiang yang kehilangan pondasi. Ia melihat bagaimana kalimat suci itu lebih sering dijadikan jargon ketimbang diwujudkan dalam realitas sosial yang konkret, ungkapnya.

 

Ranny melihat di ruang politik yang sarat kepentingan, menghadirkan perspektif yang lebih manusiawi. Ia menekankan bahwa “rakyat miskin” bukanlah istilah abstrak, melainkan tubuh-tubuh nyata yang mengantre berjam-jam di puskesmas, anak-anak yang belajar dengan bangku reyot, dan keluarga yang terjebak dalam lingkaran upah rendah tanpa akses pada mobilitas sosial, tegasnya.

 

Presiden Prabowo Subianto pernah menegaskan perlunya mengangkat rakyat miskin. Namun, bagi Ranny, pernyataan itu memerlukan kejelasan: rakyat yang mana? Sebab di republik ini kata “rakyat” kerap dipelintir oleh wacana politik dan media, seakan semua sama rata, padahal jurang kesenjangan semakin menganga.

 

Ranny mengingatkan, wajah kemiskinan Indonesia tak lagi tersembunyi. Dunia kini menyaksikan, melalui media asing, betapa kontrasnya kehidupan di metropolitan dengan realitas pelosok. Indonesia ingin dihormati sebagai negara besar, namun bayangan kemiskinan selalu menjadi catatan kaki yang mencoreng, paparnya

 

Istri dari Fahd A Rafiq ini melihat lebih dalam, ia menoleh pada dua raksasa Asia Tiongkok dan India. Keduanya memiliki populasi di atas satu miliar, sebuah angka yang jauh melampaui Indonesia. Namun mereka mampu melampaui jebakan demografi, mengubah beban populasi menjadi energi produktif. “Jika mereka bisa, mengapa kita terus mencari alasan?” tanyanya.

 

Pertanyaan itu bukan sekadar retorika, melainkan tamparan bagi mentalitas bangsa yang kerap berlindung di balik dalih keterbatasan. Indonesia dengan 300 juta penduduk seharusnya memiliki ruang gerak yang lebih luwes. Namun realitas berbicara sebaliknya, kita masih terjebak dalam birokrasi yang lamban, ruwet, kaku serta politik jangka pendek yang melemahkan visi.

 

Dari sisi teknologi, kesehatan, dan pendidikan, Ranny tak segan mengakui ketertinggalan Indonesia. Ketika India melahirkan insinyur dan dokter yang mendunia, Indonesia masih berkutat dengan fasilitas sekolah yang minim, gizi buruk, hingga kesenjangan digital yang memutus masa depan anak bangsa.

 

Dalam perspektif historis, suara Ranny mengingatkan kita pada pesan Soekarno: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berdiri di atas kaki sendiri.” Namun setelah delapan dekade merdeka, bangsa ini masih berdiri di persimpangan, bimbang antara menjadi pemain utama atau sekadar penonton dalam panggung global.

 

 

Ranny menegaskan, perubahan bukanlah hadiah dari langit, melainkan hasil perjuangan kolektif. Kalimat yang ia kutip dari kitab suci Al – Qur’an “Tidak akan berubah nasib suatu kaum jika bukan mereka sendiri yang mengubahnya”, menjadi cermin bahwa tanggung jawab terbesar ada di tangan anak negeri saat ini, bukan pada negara asing atau elite semata.

 

Perempuan ini mengajak kita berkaca. Dunia bergerak cepat, revolusi teknologi melesat bak komet, sementara Indonesia masih sibuk dengan drama politik internal. Kecemburuan sosial menjadi wajar ketika bangsa lain melesat, sementara kita hanya berlari di tempat.

 

Ranny menuntut keberanian, bukan sekadar kebijakan. Ia menantang publik dengan pertanyaan eksistensial: “Punya nyali atau tidak untuk menjadikan Indonesia negara maju?” Sebuah pertanyaan yang tak bisa dijawab dengan pidato, melainkan melalui kerja nyata lintas sektor dan seluruh elemen.

 

Visi Indonesia Emas 2045 memang hanya berjarak dua dekade. Namun waktu dua puluh tahun dalam sejarah sebuah bangsa sama singkatnya dengan kedipan mata. Jika dalam tempo itu Indonesia tidak melakukan lompatan besar, maka cita-cita emas hanya akan menjadi slogan di dinding sekolah.

 

Dalam kacamata filosofis, perjuangan keadilan sosial adalah upaya menyeimbangkan kosmos kehidupan bangsa. Sebab ketidakadilan bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan luka eksistensial yang membuat manusia kehilangan martabatnya.

 

Keadilan sosial adalah denyut yang menyatukan rakyat dalam kebersamaan. Tanpa itu, bangsa terjebak dalam jurang elitisme di satu sisi dan marginalisasi di sisi lain. Ranny memilih berdiri di tengah jurang itu, mencoba menjembatani, meski ia tahu jembatan yang dibangunnya sering diguncang oleh kepentingan politik.

 

Ketika berbicara tentang ketertinggalan, ia tidak sekadar menunjuk jari, melainkan mengajak bangsa untuk bercermin. Betapa Indonesia sering terlena dalam narasi kebanggaan masa lalu dari kejayaan maritim, kekayaan rempah, keragaman budaya namun gagal menerjemahkannya menjadi kekuatan ekonomi modern.

 

Ia menggunakan metafora luka yang dibiarkan terbuka. Bangsa ini sering menutupinya dengan perban slogan, namun infeksi sosial tetap menyebar. Kemiskinan, ketimpangan, dan keterbelakangan adalah darah yang mengalir dari luka itu, menuntut tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata.

 

Dari sudut pandang geopolitik, Indonesia berada di posisi strategis. Laut Nusantara adalah jalur perdagangan dunia, tanahnya subur, populasinya produktif. Namun keunggulan ini bisa menjadi kutukan jika tak diolah dengan visi jangka panjang. Negara lain melihat potensi itu, tetapi apakah bangsa ini menyadarinya?

 

Anggota banggar DPR RI ini menyuarakan kegelisahan yang juga dirasakan banyak intelektual, bangsa ini terlalu sering terjebak dalam siklus jangka pendek lima tahunan politik, bukannya seratus tahunan peradaban. Padahal untuk membangun negara maju, dibutuhkan kesabaran historis dan keberanian.

 

Ia menyerukan agar politik berhenti menjadi ajang transaksi, dan mulai menjadi arena transformasi. Sebab tanpa politik yang sehat, visi sebesar apa pun akan kandas di tengah jalan, terjebak dalam perdebatan tanpa ujung.

 

Bagi Ranny, perjuangan di parlemen bukan hanya soal undang-undang, tetapi soal menyuarakan hati nurani. Ia menempatkan dirinya bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai corong bagi mereka yang selama ini bungkam karena dilumpuhkan keadaan.

 

Keberanian seorang perempuan untuk bersuara lantang di arena politik yang maskulin adalah metafora tersendiri. Ia menegaskan bahwa perjuangan keadilan sosial tidak mengenal jenis kelamin, melainkan keberanian intelektual dan moral.

 

Di balik nada geramnya, ada cinta yang dalam kepada tanah air. Kemarahan itu lahir dari kepedulian, sebab hanya mereka yang mencintai bangsanya yang mampu marah atas ketidakadilan yang merusaknya.

 

Indonesia emas bukan sekadar visi, tetapi pertaruhan eksistensial apakah bangsa ini akan dikenang sebagai raksasa yang bangkit, atau sebagai mimpi yang tak pernah menjadi kenyataan.

 

 

 

Ranny Fahd A Rafiq, perempuan dari parlemen, menyadarkan kita bahwa keadilan sosial bukanlah utopia. Ia adalah pekerjaan rumah yang harus dituntaskan, bukan hanya demi 2045, melainkan demi martabat manusia Indonesia hari ini. Suaranya adalah pengingat, bahwa kemerdekaan tanpa keadilan sosial hanyalah kemerdekaan semu, tutupnya.

 

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita