Selat Hormuz adalah Napas, Tapi Nusantara adalah Jantung, Saatnya Menjadi Raja di Episentrum Ekonomi Bumi
Fahd El Fouz A Rafiq
(Ketua Umum DPP BAPERA)
Jakarta – Eksistensi sebuah bangsa seringkali ditentukan oleh keberaniannya dalam menafsirkan ulang dogma klasik yaitu Si Vis Pacem, Para Bellum. Di tengah pergeseran geopolitik global yang kian turbulen, persiapan perang bukan lagi sekadar penumpukan amunisi, melainkan penguasaan terhadap titik tekan strategis yang mampu melumpuhkan nalar lawan, cetus Fahd A Rafiq di Jakarta pada Minggu, (12/4/2025).
Indonesia, secara kodrati, berdiri di atas fondasi geostrategis yang tidak dimiliki oleh entitas politik manapun di muka bumi ini. Kita bukan sekadar gugusan pulau, melainkan penjaga gerbang peradaban yang memegang kunci nadi kehidupan bangsa-bangsa di Asia Timur dan Barat, papar Sang Pengusaha Muda tersebut.
Menilik mukaddimah UUD 1945, amanah untuk mewujudkan perdamaian abadi menuntut kita memiliki daya tawar yang melampaui kekuatan bedil. Perdamaian tanpa kekuatan posisi hanyalah sebuah ilusi yang sewaktu-waktu bisa hancur oleh kehendak negara-negara besar, ujar Suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komisi IX) ini.
Sejarah mencatat bahwa militeritas sejati lahir dari kemandirian industrial military complex, namun saat ini kita harus jujur mengakui keterbatasan manufaktur pertahanan domestik yang masih tertatih. Kelemahan ini tidak boleh menjadi alasan untuk tunduk, melainkan pemantik untuk mencari leverage baru di luar paradigma persenjataan konvensional, pungkas Mantan Ketua Umum DPP KNPI.
Lautan adalah jawaban atas kebuntuan deteren power kita, sebuah anugerah cair yang menjadi jalur bagi 70 persen energi dan perdagangan dunia. Di sinilah letak kedaulatan yang sesungguhnya, di mana selat-selat kita adalah leher dari raksasa-raksasa ekonomi global, imbuh Sosok Ketua Umum DPP BAPERA ini.
Bayangkan sebuah skenario di mana Selat Malaka, Sunda, dan Makassar bukan sekadar jalur bebas hambatan, melainkan instrumen diplomatik yang memiliki nilai tawar setara dengan hulu ledak nuklir. Kekuatan maritim ini adalah senjata sunyi yang mampu memaksa dunia untuk duduk dan mendengarkan suara Indonesia, tutur Mantan Ketua Umum PP-AMPG.
Prabowo Subianto telah mengingatkan bahwa satu Selat Hormuz saja mampu mengguncang stabilitas ekonomi dunia melalui kendali satu negara tunggal. Sementara itu, Indonesia memiliki tiga selat utama yang menjadi urat nadi bagi Tiongkok, Jepang, hingga Korea, sebuah potensi yang sepuluh kali lebih dahsyat dari Hormuz, analisis Sang Mantan Ketua Umum GEMA MKGR.
Kesadaran akan posisi episentrum maritim ini harus merasuk ke dalam alam bawah sadar setiap warga negara sebagai bentuk kebanggaan kolektif. Kita adalah pewaris tahta Raja Laut yang jejaknya telah sampai ke tanah Mesir ribuan tahun sebelum teknologi modern ditemukan, ungkap Putra dari Musisi Legend A Rafiq.
Bukti sejarah berupa residu cengkeh pada mumi di piramida adalah pengakuan bisu bahwa nenek moyang kita adalah penjelajah samudra yang ulung. Narasi ini membuktikan bahwa genetika kita adalah genetika penguasa, bukan sekadar penonton di tepian pantai sendiri, terang Fahd.
Kini, saatnya kita mengonversi kejayaan masa lalu menjadi kendali absolut atas wilayah perairan yang secara hukum internasional adalah milik kita. Kita tidak boleh lagi merasa inferior di hadapan aturan-aturan global yang seringkali hanya menjadi instrumen penindasan bagi bangsa yang ragu, tegas Artis dan Seniman tersebut.
Kedaulatan bukan diberikan melalui negosiasi yang lemah, melainkan direbut melalui kebijakan yang berani dan visioner. Jika negara lain berani melanggar konsensus internasional demi kepentingan nasional mereka, mengapa kita harus gemetar untuk menegakkan hak di tanah air sendiri, cetusnya.
Ide untuk mengenakan pajak dalam bentuk mata uang digital atau logam mulia bagi kapal komersial yang melintasi selat kita adalah sebuah revolusi berpikir. Ini adalah bentuk konkret dari kemandirian ekonomi yang akan mengubah struktur finansial nasional secara fundamental, katanya.
Langkah ini memerlukan nyali seorang negarawan yang mampu melihat jauh melampaui cakrawala politik praktis. Keberanian adalah satu-satunya mata uang yang dihargai dalam kancah persaingan global yang tanpa belas kasihan, tambahnya.
Secara filosofis, laut adalah pemersatu, namun secara politis, laut harus menjadi benteng yang memberikan keuntungan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Transisi dari objek menjadi subjek dalam peta maritim dunia adalah perjuangan panjang yang harus dimulai dari sekarang, bebernya.
Dunia selalu mengawasi kita karena mereka tahu betapa krusialnya posisi Indonesia bagi kelangsungan hidup industri mereka. Ketergantungan global terhadap jalur laut kita adalah bargaining power yang selama ini tertidur lelap dalam peti keraguan, sambungnya.
Setiap tetes air di selat-selat Nusantara adalah kedaulatan yang tidak bisa ditawar dengan sekadar bantuan luar negeri atau investasi yang mengikat leher. Kita harus berani mengatakan bahwa siapa pun yang ingin menggunakan jalur kita, harus tunduk pada aturan main kita, tegasnya.
Inilah bentuk persiapan perang yang paling cerdas, melumpuhkan tanpa menghancurkan, mengendalikan tanpa menembakkan peluru. Keunggulan intelektual dalam bernegara jauh lebih mematikan daripada ledakan misil yang paling canggih sekalipun, jelasnya.
Kita harus membangun narasi baru bahwa Indonesia bukan lagi sekadar pasar, melainkan pengendali arus distribusi global. Pergeseran paradigma ini akan mengubah cara pandang dunia terhadap eksistensi bangsa kita di panggung internasional, paparnya.
Secara historis, kebesaran Sriwijaya dan Majapahit dibangun di atas dominasi laut yang tak tertandingi. Kita hanya perlu memanggil kembali memori kolektif tersebut untuk diaplikasikan dalam konteks modern yang penuh dengan jebakan regulasi global, tukasnya.
Jangan biarkan kekayaan strategis ini hanya dinikmati oleh bangsa lain sementara rakyat kita hanya menjadi saksi bisu dari lewatnya kapal-kapal raksasa bermuatan energi. Keadilan sosial harus dimulai dari kedaulatan atas sumber daya dan posisi strategis yang kita miliki, sebutnya.
Kekuatan militer memang penting, namun kekuatan posisi adalah deteren power yang paling efektif dalam mencegah agresi. Ketika dunia bergantung pada stabilitas jalur laut kita, maka mereka sendiri yang akan menjaga agar Indonesia tetap damai dan berdaulat, urainya.
Kita harus belajar dari Iran yang memiliki ketegasan dalam mengelola Selat Hormuz sebagai alat diplomasi tingkat tinggi. Mentalitas berdaulat seperti inilah yang dibutuhkan untuk membawa Indonesia menuju status negara adidaya baru di masa depan, tandasnya.
Rupiah atau emas sebagai alat bayar di selat kita akan memberikan penguatan nilai tukar yang luar biasa bagi stabilitas moneter dalam negeri. Ini bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan pernyataan perang ekonomi terhadap sistem yang selama ini merugikan kita, ucapnya.
Alam bawah sadar bangsa ini harus segera bangun dari tidurnya dan menyadari bahwa kunci dunia ada di tangan kita. Tanpa Indonesia, roda industri di Asia Timur akan berhenti berputar, dan itulah kekuatan sesungguhnya yang kita miliki, kemukanya.
Filosofi laut bagi kita adalah filosofi kehidupan yang memberi ruang sekaligus memberi batas bagi mereka yang ingin mengambil keuntungan sepihak. Kita adalah tuan rumah di rumah sendiri, dan sudah selayaknya kita yang menentukan siapa yang boleh melintas dan dengan syarat apa, singkapnya.
Keamanan maritim tidak bisa hanya mengandalkan patroli rutin, melainkan harus didukung oleh kebijakan politik luar negeri yang ofensif dan berorientasi pada kepentingan nasional. Kita harus menjadi subjek yang menentukan arah angin, bukan daun yang terbang mengikuti arus, tambahnya.
Kemandirian bangsa adalah harga mati yang tidak bisa dikompromikan dengan alasan kemanusiaan semu yang sering digaungkan oleh lembaga internasional. Kepentingan rakyat Indonesia harus menjadi prioritas utama di atas segala aturan yang membatasi gerak kedaulatan kita, tegasnya.
Kita perlu merumuskan kembali apa arti menjadi bangsa maritim dalam konteks abad ke-21 yang sarat dengan kompetisi teknologi dan sumber daya. Inovasi dalam pengelolaan wilayah perairan akan menjadi tonggak baru bagi kemajuan ekonomi nasional, lanjutnya.
Setiap jengkal air yang membasahi garis pantai kita mengandung potensi kekuatan yang jika dikelola dengan benar, akan menyejahterakan seluruh pelosok negeri. Tidak ada alasan bagi rakyat Indonesia untuk hidup dalam kemiskinan di tengah kelimpahan posisi strategis ini, ulasnya.
Para pemimpin bangsa harus memiliki visi yang sama dalam memandang laut sebagai instrumen kekuatan nasional yang paling ampuh. Kesatuan langkah dan pikiran adalah modal utama untuk menghadapi tekanan internasional yang pasti akan muncul, kata Fahd.
Secara imajinatif, kita bisa melihat Indonesia sebagai jembatan yang menghubungkan dua samudra dan dua benua, yang setiap lintasannya bernilai triliunan dolar. Mengambil bagian kecil dari nilai tersebut untuk pembangunan dalam negeri adalah hak yang sangat wajar bagi pemilik wilayah, terangnya.
Keberanian untuk bertindak sekarang akan menentukan posisi anak cucu kita di masa depan, apakah mereka akan menjadi pemimpin dunia atau tetap menjadi buruh di tanah airnya sendiri. Pilihan itu ada di tangan kita hari ini, melalui kebijakan yang kita ambil terkait kedaulatan laut, cetusnya.
Dunia luar mungkin akan mencoba mengintimidasi, namun selama kita berdiri tegak di atas kebenaran hukum alam dan kepentingan rakyat, tidak ada yang bisa menggoyahkan kita. Kekuatan mental seorang pemimpin adalah cerminan dari kekuatan bangsanya, paparnya.
Kita adalah bangsa yang besar, yang lahir dari perjuangan darah dan air mata, maka sangat naif jika kita menyerahkan kedaulatan laut kita begitu saja tanpa perlawanan intelektual. Inilah saatnya untuk membuktikan bahwa kita adalah benar-benar Raja Laut yang terlahir kembali, ujarnya.
Sapioseksualitas dalam kepemimpinan berarti mencintai kecerdasan dalam meramu strategi yang elegan namun mematikan bagi lawan-lawan diplomatik. Kita butuh pemimpin yang mampu berpikir sepuluh langkah ke depan dalam papan catur geopolitik dunia, pikirnya.
Setiap retorika yang kita bangun harus memiliki dasar ilmiah dan observasi yang tajam terhadap dinamika pasar global. Data menunjukkan bahwa kita adalah kunci, maka kita harus memfungsikan diri sebagai pemegang kunci tersebut dengan penuh tanggung jawab, katanya.
Kesadaran maritim harus menjadi kurikulum dasar bagi setiap generasi muda agar mereka tidak lagi memunggungi laut, melainkan menghadapinya dengan penuh harapan. Laut adalah masa depan kita, dan masa depan itu harus kita kendalikan sepenuhnya, tambahnya.
Mari kita berhenti menjadi bangsa yang pemalu dalam menuntut hak-hak kedaulatannya di kancah internasional. Keberanian adalah prasyarat utama bagi terwujudnya keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, tegasnya.
Perjuangan ini bukan hanya milik militer atau pemerintah, melainkan perjuangan seluruh elemen bangsa yang mencintai tanah airnya. Kesadaran kolektif adalah mesin penggerak yang akan membawa kita menuju puncak kejayaan yang baru, pungkasnya.
Esensi dari kedaulatan maritim adalah kemampuan untuk melindungi dan memanfaatkan setiap potensi yang ada demi kehormatan bangsa di mata dunia, tutup Fahd A Rafiq, Dosen yang mengajar di negeri Jiran Malaysia ini.
Penulis: A.S.W
