Ranny Fahd A Rafiq: Dari Piring ke Peradaban, Makan Bergizi Gratis dan Peran BPOM Penjaga Masa Depan Generasi Bangsa

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

Kota Depok – Dalam denyut kehidupan sebuah bangsa, terdapat rahasia yang tak selalu kasatmata apa yang masuk ke dalam piring anak-anaknya hari ini, menentukan wajah peradaban esok hari. Sejarah panjang umat manusia membuktikan, kejayaan sebuah negeri tak hanya ditentukan oleh pasukan perang atau kekuatan ekonomi, tetapi oleh kualitas generasi mudanya yang ditopang oleh gizi, kesehatan, dan pendidikan, ucap Ranny di Beji, Depok, Jawa Barat pada Rabu (31/7/2025).

Di Kota Depok, sebuah forum kecil yang tampak sederhana menjadi cermin dari kesadaran besar itu. Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto dan didukung oleh Kementerian Kesehatan serta Komisi IX DPR RI hadir bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ikhtiar eksistensial memastikan masa depan bangsa tidak runtuh karena kelalaian hari ini.

Ranny Fahd A Rafiq, Anggota Komisi IX DPR RI dari Dapil Jawa Barat IV (Kota Depok dan Kota Bekasi), tampil sebagai suara nurani dalam forum ini. Dengan lantang, ia mengingatkan bahwa kualitas gizi masyarakat adalah pondasi peradaban. Tanpa gizi yang baik, tak akan lahir generasi yang sehat, produktif, dan berdaya saing. Seperti bangunan megah tanpa fondasi, bangsa bisa runtuh dalam diam.

 

Fenomena stunting di Indonesia menjadi luka kolektif yang menggerogoti bangsa secara perlahan. Lebih dari 21% anak Indonesia masih terjebak dalam kondisi gagal tumbuh. Ironisnya, penyebabnya seringkali sepele yakni pola makan instan yang dianggap praktis oleh para ibu, seperti mie instan atau gorengan yang miskin nutrisi. Di sinilah kesalahan kecil berbuah besar melahirkan generasi yang rapuh, ungkap Ranny.

Ranny menyinggung hal sederhana, namun penuh makna makan kerupuk sama saja dengan makan minyak. Sebuah metafora keras tentang kebiasaan buruk yang diwariskan lintas generasi. Apa yang tampak remeh di meja makan sehari-hari, sesungguhnya adalah bom waktu bagi kualitas kesehatan bangsa.

 

Sejarah bangsa-bangsa besar memberi pelajaran berharga. Jepang pasca Perang Dunia II misalnya, membangun kejayaan industrinya bukan hanya dengan reformasi teknologi, tetapi juga dengan revolusi pola makan. Mereka sadar, gizi adalah energi peradaban. Apa yang terjadi di Depok hari ini adalah gema dari kesadaran yang sama, bangsa harus memulai dari perut anak-anaknya.

Turut hadir dalam forum itu para pemangku kepentingan dan kebijakakan dr. Farabi, H. Tajudin Tabri, Supriyati, Samuel(  anggota DPRD Kota Depok), Arif Nugroho( BPOM), Ketua Komisi Kesehatan, dan para tokoh masyarakat. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa urusan gizi bukan sekadar domain medis, melainkan tanggung jawab kolektif. Sebab, menjaga generasi dari ancaman stunting, obesitas, dan malnutrisi adalah menjaga kelangsungan generasi penerus bangsa.

BPOM, sebagaimana diingatkan Ranny, adalah benteng terakhir. Label yang tertera pada makanan bukan sekadar formalitas, melainkan tanda bahwa negara hadir menjaga rakyatnya. Ia menyebut BPOM sebagai “penjaga pintu gerbang”,kalimat yang yang tepat untuk menggambarkan betapa makanan bisa menjadi obat, bisa pula menjadi racun.

Keterlibatan masyarakat menjadi kunci. Sosialisasi ini mengingatkan warga Depok agar tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi pengawas aktif terhadap apa yang mereka dan anak-anak konsumsi. Sebab, dalam dunia modern, musuh tidak selalu datang dengan senjata, tetapi sering menyelinap dalam bentuk makanan instan, minuman berpemanis, atau obat-obatan tanpa izin edar.

Ranny yang juga anggota Badan Anggaran DPR RI menegaskan komitmen dukungan kebijakan dan anggaran untuk membentuk badan gizi yang fokus menangani persoalan ini. Sebab, tanpa lembaga yang serius dan kuat, isu gizi hanya akan berhenti di tataran retorika. Dalam politik anggaran, ia tahu bahwa masa depan bangsa sejatinya bisa ditakar dari seberapa banyak kita berani berinvestasi pada gizi anak-anak.

Pantun yang disampaikannya, tentang buah mangga dan sayur ikan, bukan sekadar hiburan, melainkan strategi komunikasi kultural. Ia mengingatkan bahwa gizi seimbang adalah kunci tubuh prima, yang membuat manusia tidak hanya hidup, tetapi kuat sepanjang zaman. Di balik kesederhanaan pantun itu, tersimpan pesan filosofis: harmoni hidup bermula dari harmoni piring.

Kebijakan makan bergizi gratis yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto menjadi roh utama sosialisasi ini. Namun, Ranny menekankan bahwa kebijakan ini tidak langsung berlaku total. Ada fase uji coba, “cek ombak”, untuk melihat masalah yang muncul di lapangan. Kebijakan besar butuh ketelitian, agar tidak menjadi proyek setengah hati.

Sejarah mencatat, banyak bangsa gagal karena abai pada detail kecil. Rakyat yang lapar tak mungkin berpikir jernih, apalagi mencipta peradaban. Maka, program ini bukan sekadar memberi makan gratis, tetapi membangun kapasitas berpikir dan kreativitas generasi muda. Di titik ini, makan bergizi gratis bukan kebijakan populis, tetapi strategi eksistensial.

Gizi, pada akhirnya, bukan soal kalori semata, melainkan soal peradaban. Plato pernah mengatakan bahwa tubuh yang sehat melahirkan jiwa yang sehat. Di era modern, kalimat itu menemukan relevansinya kembali. Apa arti pendidikan tinggi, teknologi maju, atau ekonomi yang tumbuh, bila generasi mudanya rapuh oleh malnutrisi?

Sosialisasi ini juga mengajarkan satu hal penting yakni bangsa yang besar lahir dari kesadaran kolektif. Pemerintah pusat, daerah, legislatif, eksekutif, bahkan RT dan RW, semua memiliki peran. Di Depok, sinergi itu ditampilkan dengan gamblang. Kehadiran berbagai unsur masyarakat dalam forum ini adalah simbol bahwa kesehatan generasi adalah tanggung jawab bersama.

 

Disisi lain urusan gizi adalah urusan moral. Ia bukan hanya soal makan sehat, tetapi soal hak asasi manusia yang paling dasar hak untuk hidup sehat. Dalam perspektif eksistensial, manusia tidak bisa menggapai potensi penuhnya bila tubuhnya terkekang oleh gizi buruk. Maka, membicarakan gizi sejatinya adalah membicarakan martabat manusia.

Depok menjadi panggung kecil dari sebuah narasi besar bangsa. Apa yang terjadi di forum itu adalah cermin pergulatan Indonesia dalam mencari jalan keluar dari jebakan malnutrisi. Di kota ini, sejarah kecil sedang ditulis yang mungkin kelak dikenang sebagai bagian dari fondasi masa depan Indonesia.

Ranny Fahd A Rafiq, dengan kritik dan pantunnya, seakan ingin mengingatkan bangsa ini tidak boleh lengah. Ancaman gizi buruk adalah ancaman senyap yang bisa meruntuhkan masa depan tanpa disadari. Bangsa yang ingin besar tidak boleh membiarkan anak-anaknya tumbuh dengan perut kosong atau otak yang tidak berkembang karena kekurangan nutrisi.

Pantun penutup yang ia bacakan tentang obat dan kesehatan adalah metafora terakhir sehat adalah cahaya yang membuat hidup berseri. Cahaya itu tidak boleh padam hanya karena lalai menjaga asupan sehari-hari. Dari sinilah eksistensi bangsa ditentukan.

Maka, kegiatan sosialisasi di Beji, Depok, Jawa Barat itu bukan hanya sosialisasi program, melainkan sebuah peringatan keras. jangan biarkan masa depan bangsa ditentukan oleh mie instan dan kerupuk. Sebab, apa yang kita makan hari ini adalah apa yang kita tuai besok. Gizi berkualitas adalah jalan menuju masa depan yang gemilang.

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita