Home Sosial

Ranny Fahd A Rafiq : Rakyat Ingin Hidup, Bukan Sekadar Bertahan, Upaya Negara Merawat yang Ingin Merantau

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Kota Bekasi – di sebuah tempat sederhana namun penuh antusiasme, Gedung Serba Guna RW 07, Harapan Jaya, Bekasi Utara, Jawa Barat hari itu tak hanya menjadi tempat berkumpul. Ia menjelma menjadi altar harapan, tempat di mana mimpi-mimpi rakyat kecil tentang kehidupan yang lebih layak dibisikkan kepada negara. Di sanalah Pada Rabu, (6/8/2025).

 

 

Ranny Fahd A Rafiq, Anggota DPR RI Komisi IX, bersama BP2MI menaburkan benih-benih pengetahuan tentang peluang kerja luar negeri dan migrasi aman.

Di tengah kegelisahan sosial yang mengakar dalam ketimpangan ekonomi dan pengangguran struktural, sosialisasi ini ibarat cahaya kecil di ujung lorong gelap. Cahaya yang menawarkan pilihan bukan sekadar bekerja di negeri orang, tapi bagaimana melangkah ke sana dengan kepala tegak dan hak-hak yang terjamin.

 

 

Ranny bukan sekadar hadir sebagai wakil rakyat. Ia hadir sebagai representasi empati negara. Sosok yang menyapa warga dengan ketulusan, menyebut satu per satu nama anggota DPRD Kota Bekasi yang hadir, bukan untuk sekadar formalitas, tapi menciptakan ruang dialog yang hangat dan egaliter.

 

Disana Hadir Ketua Komisi I DPRD Kota Bekasi, Faisal, bersama H. Eddy, H. Ajo, Adelia, Ibu Wiwi, dan Sarwin Edy. Mereka bukan hanya pelengkap barisan, tetapi turut menjadi bagian dari ekosistem dukungan bagi masyarakat yang hendak merantau sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI). Dalam narasi sosial, mereka adalah simpul-simpul struktural yang bisa mempercepat transformasi kesadaran publik.

 

 

 

BP2MI, sebagai garda pelindung PMI, tidak datang membawa jargon kosong. Mereka membawa data, fakta, serta kejelasan prosedur. Mereka datang dengan kehendak membongkar praktik busuk percaloan yang kerap memanipulasi harapan rakyat menjadi mimpi buruk berkepanjangan.

 

 

Dalam sejarah migrasi manusia, perpindahan bukan sekadar soal ekonomi, melainkan juga eksistensi. Sebagaimana para perantau dalam kisah klasik Indonesia, dari Laskar Pelangi hingga Buruh Hong Kong, hasrat untuk hidup layak bukan dosa, melainkan bagian dari upaya menyelamatkan martabat itu sendiri.

 

Namun martabat itu hanya bisa dijaga jika migrasi dilakukan secara sadar, legal, dan aman. Inilah yang menjadi pesan utama dari sosialisasi yang dilakukan oleh BP2MI yakni migrasi bukan pelarian, melainkan strategi untuk hidup, tapi juga butuh ilmu.

 

Anggota banggar DPR RI ini menguraikan kembali, “salah satu pilar penting yang disampaikan adalah edukasi peluang kerja luar negeri. Banyak warga yang belum tahu bahwa Jepang, Korea Selatan, Jerman, hingga Timur Tengah memiliki kebutuhan tenaga kerja yang besar, asal prosedurnya resmi dan sesuai kualifikasi.

 

Istri dari Fahd A Rafiq ini memaparkan fakta , sepanjang 2024 hingga pertengahan 2025, lebih dari 142.000 PMI resmi telah diberangkatkan oleh negara ke berbagai penjuru dunia (Data BP2MI).

 

Namun, di sisi lain, masih ada ribuan kasus perdagangan orang dan pekerja ilegal yang terus menghantui. Di sinilah pentingnya edukasi dan literasi migrasi.

 

Sosialisasi ini pun mengangkat kesadaran akan pentingnya migrasi aman. Ranny dan BP2MI secara terbuka mengajak masyarakat untuk waspada terhadap janji-janji palsu calo. Faktanya Di depan mereka, ada terlalu banyak cerita luka pekerja yang disiksa, gaji yang tak dibayar, bahkan yang tak pernah kembali.

 

Ranny, dalam penyampaiannya, menekankan bahwa setiap warga negara yang hendak bekerja ke luar negeri berhak atas perlindungan. Negara tidak boleh abai, dan masyarakat harus berani menuntut haknya. “Kita ingin mereka berangkat sebagai duta bangsa, bukan sebagai korban sistem,” ucapnya.

 

Hal yang paling menggugah adalah ketika BP2MI membedah hak dan kewajiban PMI. Penjelasan itu bukan sekadar formalisasi, tapi penguatan identitas pekerja sebagai subjek yang memiliki nilai, bukan objek eksploitasi. Hak atas upah layak, jaminan sosial, perlindungan hukum, hingga bantuan hukum bila bermasalah.

 

Dalam konteks lain pekerja migran adalah manusia yang menanggung dua realitas keberangkatan dan kerinduan. Mereka berangkat demi anak yang sekolah, orang tua yang sakit, dan rumah yang belum lunas. Tetapi mereka juga membawa rindu, air mata, dan keteguhan.

 

Sosialisasi ini juga mengandung satu agenda kemanusiaan yang besar yakni pencegahan perdagangan orang (TPPO). Dalam analisa BP2MI, sindikat TPPO bekerja dalam senyap, menyusup lewat relasi sosial dan kemiskinan. Hanya dengan pendidikan migrasi yang masif, jaringan ini bisa dilumpuhkan, Ranny juga mengusulkan untuk menindak tegas dan memberikan efek jera kepada pelaku TPPO, cetusnya.

 

Lebih dalam Ranny menyampaikan bentuk sosialisasi BP2MI pun tak lagi konvensional. Mereka hadir lewat seminar, media sosial, edukasi visual, dan bahkan pendekatan kultural. Di era digital, mereka menggunakan algoritma untuk menyelamatkan hidup manusia, paparnya.

 

Sosialisasi ini menjadi bagian dari rekayasa sosial yang sangat penting di tengah arus globalisasi kerja. Di mana tenaga kerja tak lagi statis, dan peluang berada di luar batas negara. Namun tetap harus dalam bingkai hukum yang adil dan manusiawi, ucap Ranny.

 

 

Dari perspektif politik kebijakan, sinergi antara BP2MI dan DPR RI Komisi IX adalah contoh konkret bagaimana regulasi tak berhenti di atas meja, tapi menyentuh tanah, menyapa rakyat, dan merangkul realitas.

 

 

Sosialisasi di Kota Bekasi bukan hanya agenda seremonial. Ia adalah miniatur dari pergeseran paradigma pembangunan dari pembangunan fisik ke pembangunan manusia. Dari beton ke pengetahuan. Dari bangunan ke kesadaran dan ini tegak lurus dengan Kebijakan Bapak Presiden Prabowo Subianto.

 

Ada filosofi yang dalam peristiwa ini bahwa bekerja di luar negeri bukan sekadar mengejar gaji dolar, tetapi tentang menjelajahi kemungkinan diri, menguji ketahanan, dan membangun kembali kehidupan dari nol.

 

 

Anggota komisi IX DPR RI ini memahami benar bahwa di balik angka statistik PMI, ada tubuh-tubuh manusia yang rapuh, tetapi tangguh. Ada kisah ibu yang berjuang demi anak, ayah yang tak ingin keluarganya kelaparan, pemuda yang menolak menyerah pada pengangguran, terangnya.

 

 

Ranny Fahd A Rafiq tak hanya hadir sebagai legislator, tetapi sebagai juru bicara harapan. Sebagai fasilitator narasi baru, bahwa migrasi bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi perpindahan kualitas hidup, jika dilakukan secara sadar.

 

 

Kita sedang menyaksikan sebuah perubahan, bahwa negara mulai hadir bukan hanya saat kampanye, tetapi saat rakyat butuh arah. Sosialisasi seperti ini bukan sekadar forum, tapi medan untuk membongkar kebutaan informasi yang selama ini menjerat kaum miskin di Indonesia.

 

 

 

Di tengah krisis global, ketika banyak negara mulai menutup diri, Indonesia justru membangun jembatan keluar. Tapi bukan jembatan yang penuh ranjau, melainkan yang aman, legal, dan bermartabat. Dan Ranny Fahd A Rafiq adalah salah satu arsiteknya.

 

 

Di akhir acara, beberapa warga meneteskan air mata, bukan karena sedih, tapi karena merasa dianggap ada. Dalam dunia politik yang sering melupakan rakyat setelah pemilu, momen seperti ini menjadi pengingat bahwa empati masih bisa menjelma dalam bentuk konkret, tegas Ranny.

 

 

Bekasi hari itu bukan hanya menjadi saksi sosialisasi. Ia menjadi saksi sejarah kecil tentang bagaimana negara hadir bukan untuk memerintah, tapi untuk mendampingi. Dan barangkali, di antara warga yang hadir, ada yang kelak akan mengibarkan bendera Indonesia di negeri orang bukan sebagai buruh tanpa nama, tapi sebagai manusia yang penuh makna.

 

 

Di sisi yang berbeda, narasi migrasi modern, istilah hijrah tak lagi semata bermakna spiritual, melainkan menjadi simbol pergeseran nasib, perjuangan eksistensial dari keterbatasan menuju harapan. Di balik keputusan ribuan anak bangsa meninggalkan tanah kelahiran untuk bekerja di negeri orang, terpatri luka dan tekad. Luka karena realitas ekonomi yang menyesakkan, dan tekad untuk tetap hidup dengan kepala tegak.

 

 

Sekali lagi hijrah para pekerja migran bukanlah pelarian, tapi keberanian untuk menjemput masa depan, meski harus melintasi samudra rindu dan hukum negara asing yang kerap tak ramah. Dalam konteks ini, Ranny Fahd A Rafiq tampil bukan hanya sebagai legislator, tetapi sebagai jembatan harapan seorang duta kebijakan yang mengubah rasa takut menjadi kepastian hukum, dan menjadikan migrasi sebagai jalan mulia, bukan jebakan eksploitasi.

 

 

Dengan menggandeng BP2MI, Ranny merumuskan diplomasi yang tak sekadar formalitas internasional, melainkan diplomasi akar rumput yakni menyapa rakyat di gang-gang kecil, menjelaskan prosedur legal dengan bahasa sehari-hari, dan memastikan bahwa negara hadir sebelum luka terjadi.

 

 

Ia merawat martabat buruh migran bukan dengan pidato kosong, tapi lewat tindakan konkret dari sosialisasi hingga pelindungan hak. Di matanya, para pekerja migran bukan komoditas ekspor tenaga kerja, melainkan wajah-wajah Indonesia yang menebar kehormatan di tanah asing. Dan dari Bekasi, sebuah pesan dikirim ke dunia bahwa hijrah yang sadar, aman, dan bermartabat bukan hanya mungkin, tapi harus diperjuangkan, tutup Ranny.

 

 

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita