Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. Pemerintah pusat tidak bisa berjalan sendiri. Daerah, sekolah, bahkan komunitas lokal harus dilibatkan secara aktif. Program MBG harus dibangun dengan pendekatan partisipatoris, bukan top-down, agar setiap intervensi gizi tidak sekadar menjadi bantuan temporer, tetapi perubahan perilaku yang berkelanjutan.
Yang lebih esensial, MBG adalah bentuk cinta kolektif bangsa kepada anak-anaknya.
Mengutip filosof Emmanuel Levinas, tanggung jawab terhadap yang lain adalah dasar dari semua etika. Maka memberi makan anak-anak, bukan karena mereka pemilih atau pembayar pajak, melainkan karena mereka adalah wajah masa depan yang tak bisa memilih untuk lahir dalam keluarga miskin atau kaya.
Dalam banyak kasus, gizi buruk bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi budaya, ungkap Ranny.
MBG bisa menjadi medium edukasi bagi orang tua, terutama ibu, tentang pentingnya protein, karbohidrat kompleks, mikronutrien, dan pola makan sehat. Artinya, program ini bukan hanya penyedia makanan, tetapi revolusi kultural dalam cara kita memaknai makanan dan hidup sehat.
Bagi mereka yang skeptis terhadap proyek-proyek besar negara, MBG adalah ujian niat. Apakah negara benar-benar hadir untuk yang paling lemah, atau hanya menciptakan narasi kosong demi popularitas? Di sinilah peran Komisi IX DPR RI menjadi vital, sebagai penjaga integritas dan pengawas moral dari program sebesar ini, papar Ranny.
Di lapangan, suara-suara anak kecil yang akhirnya bisa sarapan dengan telur dan sayur di sekolah adalah puisi harapan. Dalam konteks itu, MBG bukan sekadar kebijakan, tapi liturgi kecil dari masa depan yang tak ingin lagi dibangun di atas perut kosong.
Ranny menutup pernyataannya dengan kalimat yang seharusnya menggema di ruang-ruang kekuasaan: “Ini bukan hanya soal anggaran, tapi soal masa depan bangsa.” Sebuah pengingat, bahwa di balik segala laporan keuangan, grafik, dan rapat-rapat resmi, terdapat nyawa manusia yang sedang bertumbuh, tegasnya.
Dan jika Rp118 triliun itu benar-benar menyentuh anak-anak yang lapar hari ini, maka mungkin kita sedang mencatatkan satu babak penting dalam sejarah bangsa ketika negara tidak hanya hadir dalam pidato, tetapi juga di dalam bekal nasi, lauk, dan sayur yang dihidangkan di meja makan sekolah. Di sanalah republik ini, untuk pertama kalinya, benar-benar menjadi milik semua dan Presiden Prabowo telah melakukan itu, tutup Ranny.
Penulis: ASW