Jakarta – Memahami pola pikir kelompok yang seolah-olah tidak ingin Indonesia maju adalah hal yang kompleks. Sikap ini biasanya tidak muncul karena satu alasan, melainkan dari berbagai faktor yang saling berkaitan, ucap Ranny Fahd A Rafiq di Jakarta pada Kamis, (14/8/2025).
Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar ini mengatakan, “menuju Indonesia Emas 2045 memiliki beberapa tantangan dengan pendekatan bijaksana karena fokusnya adalah Manusia itu sendiri, papar Ranny.
Istri dari Fahd A Rafiq memaparkan, tidak ada orang yang secara eksplisit “tidak ingin” negaranya maju. Namun, mereka mungkin memiliki pandangan, pengalaman, dan kepentingan yang membuat mereka menolak perubahan atau kemajuan yang diusung oleh Presiden Republik Indonesia ke -8 yaitu Bapak Prabowo Subianto, paparnya.
Ranny melihat beberapa pola pikir dan motivasi yang sering kali melatar belakangi sikap tersebut diantaranya adalah Status Quo yakni Kenyamanan, Bagi sebagian orang, kondisi saat ini, meskipun penuh ketidaksempurnaan, adalah zona nyaman mereka. Mereka sudah terbiasa dengan sistem yang ada dan tahu cara bertahan di dalamnya, ujar Ranny.
Ranny melihat perubahan sekecil apa pun, dianggap sebagai ancaman yang bisa mengganggu stabilitas hidup mereka. Mereka takut kehilangan apa yang sudah dimiliki dan kuasai, meskipun itu berarti mengorbankan kemajuan bersama, terang Ranny.
Anggota Banggar DPR RI ini mendalami ketidakpercayaan pada sistem dan elit. Kelompok ini mungkin memiliki pengalaman buruk dengan janji-janji pemerintah atau elit yang tidak pernah terwujud, ujar Ranny dalam analisanya.
Mereka melihat bahwa kemajuan yang digaungkan sering kali hanya menguntungkan segelintir orang di puncak kekuasaan, sementara rakyat kecil tetap tertinggal. Ketidakpercayaan ini membuat mereka skeptis terhadap setiap inisiatif baru dan lebih memilih untuk mempertahankan kondisi yang sudah mereka pahami, cetusnya.
Ranny yang melihat dengan detail soal Kesenjangan Sosial sebagai alat kekuasaan. Sayangnya, ada sebagian pihak yang mendapatkan keuntungan dari adanya kesenjangan sosial ini. Indonesia saat ini seperti katak dalam tempurung, tidak berkaca dengan melihat banyak negara yang sudah maju, tegasnya.
Lebih dalam Ranny melihat Kesenjangan ini menciptakan ketergantungan dan memungkinkan mereka untuk terus memegang kendali. Misalnya, seseorang yang memiliki banyak harta bisa menggunakan kekayaan itu untuk memengaruhi politik atau ekonomi, dan ia mungkin tidak ingin ada perubahan yang dapat mengurangi dominasi kekuasaannya, paparnya.
Ranny melanjutkan Kurangnya Akses Informasi dan Pendidikan, kelompok yang kurang beruntung dalam hal pendidikan dan informasi mungkin tidak sepenuhnya memahami manfaat dari kemajuan. Mereka lebih sering terpapar berita negatif atau informasi yang salah (hoaks), yang membuat mereka curiga pada setiap inisiatif baru. Mereka merasa bahwa segala sesuatu yang berbau “kemajuan” adalah agenda tersembunyi yang bertujuan untuk mengambil keuntungan dari mereka, ungkap Ranny.
Ranny memaparkan lagi, Mengapa Mereka Suka dengan Kesenjangan Sosial? Istilah “suka” mungkin terlalu kuat. Lebih tepatnya, mereka melihat kesenjangan sosial sebagai sesuatu yang wajar atau bahkan tidak terhindarkan, paparnya.
Ranny melihat, penerimaan terhadap nasib Sebagian masyarakat terutama di daerah yang terpinggirkan mungkin telah menerima kesenjangan sosial sebagai bagian dari nasib. Mereka merasa tidak memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan dan hanya bisa pasrah menerima takdir, paparnya.
Keuntungan Pribadi, Sebagian kecil dari elit kekuasaan memang mendapatkan keuntungan dari kesenjangan ini. Mereka bisa mendapatkan tenaga kerja murah, mengendalikan pasar, dan memengaruhi kebijakan publik untuk keuntungan pribadi, paparnya.
Disini lain Ranny melihat adanya perbedaan nilai dan prioritas bagi sebagian orang, nilai-nilai tradisional dan kebersamaan mungkin lebih penting daripada modernisasi dan kemajuan ekonomi. Mereka melihat bahwa kemajuan sering kali merusak nilai-nilai luhur tersebut dan menimbulkan masalah sosial baru, inilah yang terjadi saat ini. Pemerintah butuh formula baru dalam melihat sisi yang belum di garap sempurna, ungkapnya.
Ranny memahami hal ini bukan berarti kita harus setuju dengan mereka, melainkan untuk mengetahui akar masalahnya. Dengan demikian, kita bisa mencari pendekatan yang lebih baik untuk mengajak mereka ikut serta dalam upaya memajukan bangsa dan negara bukan dengan cara yang memaksa, melainkan dengan cara yang lebih inklusif dan memanusiakan, tutupnya.
Penulis: A.S.W