Info Bapera – Di tengah derasnya arus zaman, ketika dunia terus bergerak tanpa henti, kita menyaksikan satu era yang tak hanya penuh inovasi, tetapi juga penuh tanya: era kecerdasan buatan (AI) dan bioteknologi. Di sanalah Fahd Arafiq, sosok yang dikenal sebagai tokoh berwawasan luas dan berpijak pada nilai kemanusiaan, menempatkan dirinya. Bukan sekadar pengamat, ia hadir sebagai suara yang mengingatkan bahwa teknologi, sehebat apapun, tetap harus tunduk pada etika.
Teknologi ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, AI memudahkan hidup dari diagnosa medis yang lebih akurat hingga pertanian cerdas yang mendukung ketahanan pangan. Bioteknologi pun melesat, menawarkan harapan lewat terapi gen, rekayasa DNA, dan vaksin generasi baru. Tapi di sisi lain, pertanyaan moral mulai bergemuruh. Apakah manusia masih punya kuasa atas takdirnya, atau justru mulai digantikan oleh algoritma?
Fahd Arafiq tidak menolak kemajuan. Sebaliknya, ia mengajak kita untuk merangkulnya dengan hati yang bijak. Dalam berbagai diskusi, ia kerap menekankan pentingnya human-centered technology. Bahwa di tengah kecanggihan robot dan kode genetik, jangan sampai nurani kita terkikis. Bahwa di balik mesin, tetap harus ada manusia yang memutuskan, bukan sebaliknya.
Bayangkan, seorang anak lahir hasil penyuntingan gen. Sehat, sempurna. Tapi di mana batasnya? Apakah kita mulai bermain sebagai Tuhan? Atau saat AI bisa menulis puisi, menggambar, bahkan “merasa” di mana letak keaslian karya dan hak cipta? Di sinilah, menurut Fahd Arafiq, etika bukan sekadar pelengkap, tapi fondasi yang tak boleh retak.
Ia juga mendorong regulasi yang adaptif dan inklusif. Regulasi yang tidak ketinggalan zaman, tapi juga tidak membunuh inovasi. Baginya, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat adalah kunci. Teknologi harus dibingkai oleh keadilan sosial, perlindungan privasi, dan keberpihakan pada kemanusiaan.
Di akhir, Fahd Arafiq menyuarakan harapan yang sederhana namun dalam: “Biarlah teknologi berkembang, tapi biarkan hati tetap memimpin.” Sebab di tengah dunia yang makin cerdas, manusia tetap harus menjadi penjaga nilai—agar masa depan bukan hanya canggih, tapi juga beradab.
Dan mungkin, itulah tugas kita bersama: tidak hanya menciptakan masa depan, tapi memastikan bahwa masa depan itu tetap manusiawi.