Jakarta – Perang Tarif antara Amerika Serikat dan Prabowo Subianto telah membuahkan hasil, apakah Indonesia kalah? Bagaimana menerjemahkan hal ini ?. Bidak permainan politik domestik dengan geopolitik memang sangat berbeda dan levelnya jauh. Hari ini Indonesia sedang mengembalikan marwahnya sebagai pemain yang sesunggunya dan bukan hanya menjadi penonton, ucap Fahd A Rafiq di Jakarta pada Sabtu, (26/7/2025).
Ketum DPP BAPERA mengatakan, “Di dunia diplomasi modern, perang tak lagi hanya soal senjata dan darah, tapi juga tentang pesanan pesawat dan tarif bea masuk. Skor 19-0 yang disematkan dalam negosiasi dagang Indonesia–Amerika Serikat bukan sekadar simbol kekalahan, melainkan metafora kerasnya pusaran geopolitik ekonomi. Namun, apakah benar Indonesia kalah? Atau justru di balik angka itu tersembunyi strategi subtil yang menyelamatkan lebih dari sekadar harga diri?, tanya Fahd.
Mantan Ketum PP- AMPG melihat, “skor ini muncul setelah kesepakatan perdagangan bilateral, di mana Indonesia didorong untuk menurunkan tarif impor sejumlah produk Amerika. Namun yang paling menyakitkan bukan sekadar angka tarif melainkan fakta bahwa Indonesia “dipaksa” membeli 50 unit pesawat Boeing, perusahaan Amerika yang tengah terguncang reputasi dan kredibilitasnya, paparnya.
Lebih dalam Fahd melihat Boeing seperti dewa yang tengah cacat, tetap disembah karena ia menjadi totem ekonomi Amerika. Dengan lebih dari dua juta pekerja bergantung pada rantai industri aviasi ini, menjaga eksistensi Boeing bukan hanya bisnis tapi misi nasional Amerika. Di sinilah permainan Trump dimulai.
Donald Trump, dengan gaya khasnya yang agresif dan transaksional, menjadikan diplomasi ekonomi sebagai senjata utama. Di tiap perjalanannya ke luar negeri baik ke Asia Timur, Timur Tengah, bahkan Eropa selalu ada satu syarat tersembunyi beli Boeing, atau tak ada kesepakatan, papar suami dari anggota DPR RI ini.
Menurut Informasi yang kami terima,Qatar membeli 200. Arab Saudi 30. Inggris 32 Dreamliners. Indonesia 50. Ini bukan kebetulan. Ini adalah skema. Seperti permainan catur geopolitik di mana Boeing menjadi bidak utama yang dipasang di semua papan, tak peduli siapa lawannya, tegas Fahd.
Lebih dalam mantan Ketum DPP KNPI melihat, mengapa Trump begitu semangat menyertakan Boeing? Jawabannya tak semata pada data ekonomi, melainkan juga sejarah personal. Trump pernah memiliki Trump Shuttle, bisnis maskapai sendiri. Ia tahu ekosistem ini dari dalam dan ia punya teman-teman kuat, termasuk mantan CEO Boeing. Relasi personal berubah jadi agenda nasional, ungkapnya.
Ada nuansa politik, bisnis, dan loyalitas yang menyatu. Ketika China membatalkan pesanan 50 Boeing akibat perang tarif, Trump panik. Ia butuh “pengganti”. Dan Indonesia dijadikan opsi tercepat. Dalam dunia diplomasi paksa, “membeli” bisa jadi bentuk tekanan terselubung yang dikemas dengan senyum diplomatik.
Namun, apakah Indonesia tidak sadar akan jebakan ini? Apakah Prabowo hanya tunduk begitu saja? Justru sebaliknya. Di sinilah letak kecerdikan tersembunyi dari Prabowo dan timnya. Mereka tahu bahwa pesawat Boeing tak akan dikirimkan besok, bulan depan, atau tahun depan melainkan mungkin satu dekade lagi.
Industri pesawat komersial dunia saat ini mengalami krisis pasokan. Dari 12.000 pesanan global, hanya 7.000 yang bisa dikirim oleh Boeing dan Airbus antara 2019 hingga 2024. Keterlambatan hingga 10–11 tahun adalah realitas pahit yang sudah diketahui para pengambil kebijakan. Maka pesanan hari ini adalah peluang untuk mengatur strategi ke depan.
Sementara itu, China justru memanfaatkan momentum ini untuk membuka peluang baru. Setelah membatalkan Boeing, mereka membeli Airbus dan sekaligus membuka dua pabrik raksasa Airbus di Tiongkok. China tak hanya membeli produk, tapi juga mendikte arah industri.
Fahd melihat, Indonesia bisa saja meniru langkah itu. Dan di tengah kesepakatan yang terkesan “berat sebelah”, justru muncul ruang negosiasi yang lebih dalam. Di balik pembelian 50 Boeing, ada kalkulasi menanti kesempatan investasi, transfer teknologi, bahkan pengaruh terhadap arah pasar global yang sedang kekurangan produsen pesawat
Selain dua raksasa Airbus dan Boeing dunia sedang menunggu “pemain ketiga”. Ada Embraer dari Brasil, Bombardier dari Kanada, dan Comac dari China. Yang terakhir ini punya potensi besar yakni ia disubsidi negara, memiliki pasar domestik besar, dan teknologi yang berkembang cepat.
Presiden Prabowo, yang dalam diamnya kerap disalahpahami, sebenarnya sedang bermain dalam spektrum yang lebih luas dari sekadar “deal dagang”. Ia tahu, dengan menandatangani perjanjian itu, ia juga menandatangani satu babak baru bagaimana memutar skema menjadi keuntungan, bukan kerugian.
Jika Boeing terlambat 11 tahun, maka dalam masa tunggu itu, Indonesia bisa melakukan dua hal pertama, menyusun ulang prioritas industri aviasi domestik dan regional kedua, memainkan kartu 19% sebagai leverage negosiasi baru. Dengan kata lain, waktu adalah senjata diplomasi tersembunyi.
Ini bukan tentang siapa mencetak gol lebih banyak, melainkan siapa yang membaca arah permainan. Dan ketika lawan terlalu sibuk mencetak angka, pemain yang diam seringkali sedang menyiapkan serangan balik.
Dalam dunia global saat ini, angka 19-0 bukan akhir, melainkan pembuka babak baru. Di baliknya ada kapital sosial, ekonomi, dan diplomasi yang lebih kompleks dari yang terlihat di permukaan. Dan skor itu justru membuka ruang lebih luas bagi Indonesia untuk bersiasat.
Apakah Prabowo sedang mengorbankan pion untuk menyelamatkan ratu? Bisa jadi. Atau bisa jadi ia sedang membiarkan lawan merasa menang, sementara ia menyusun langkah-langkah strategis jangka panjang. Ini bukan kekalahan, melainkan delay counter-attack.
Narasi publik memang mudah dikuasai oleh headline: “Dijebak,” “Ditekan,” “Dipaksa.” Namun di balik headline, ada diplomasi sunyi yang hanya dipahami oleh mereka yang membaca sejarah, ekonomi, dan geopolitik sebagai satu jalinan sistemik.
Dunia aviasi bukan hanya soal teknologi dan logistik, tetapi juga simbol kekuasaan negara. Dan saat pesanan pesawat dijadikan alat tawar-menawar, kita tahu bahwa ini bukan jual beli biasa ini perang simbolik tentang siapa yang berkuasa, dan siapa yang memimpin arah pasar global.
Maka pertanyaannya bukan lagi “mengapa Indonesia beli Boeing?” melainkan “apa yang akan Indonesia lakukan selama menunggu pesawatnya tiba?” Di sinilah masa depan ditentukan bukan di atas langit, tetapi di bawah meja, dalam sunyi strategi yang mengubah tekanan menjadi kemenangan tersembunyi, tutup dossn yang mengajar di negeri Jiran ini.
Penulis: A.S.W