Fahd A Rafiq : 27 Tahun Reformasi: Indonesia Takut Bermimpi dan Bertindak Besar, India Berani Menjemput Takdir, Ayo Bangkit

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

Jakarta – Jika seorang anak lahir pada tahun 1998, maka hari ini usianya telah genap 27 tahun. Usia yang sama dengan orde reformasi di negeri ini. Namun, sepanjang kurun waktu tersebut, Indonesia seolah berjalan di tempat, bahkan tertinggal dalam banyak aspek kehidupan, terutama di bidang ekonomi. Di tengah dunia yang kian diwarnai aroma persaingan geopolitik, bangsa ini masih mencari pijakan kokoh untuk berdiri sejajar dengan negara lain. Pernyataan itu disampaikan Fahd A Rafiq di Jakarta, Jum’at (22/8/2025).

 

Ketua Umum DPP BAPERA menegaskan, momentum kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menjadi titik balik penting. Sebuah kesadaran kolektif harus lahir, bahwa keterlambatan pembangunan hanya dapat ditebus melalui keberanian mengambil langkah-langkah besar. Konsistensi Presiden ke-8 RI ini dalam mendorong perubahan memberi sinyal akan dimulainya era baru. Dengan berkaca pada kebangkitan Tiongkok dan India, Indonesia ditantang untuk menata strategi agar tidak hanya menjadi penonton dalam panggung global, ucapnya.

 

Lebih jauh, Fahd memandang bahwa narasi perubahan tidak boleh berhenti pada jargon atau slogan kosong. Ia menekankan perlunya penyampaian pesan yang mendalam, berbasis pengetahuan, agar setiap pembaca tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga memperoleh pemahaman yang membekas. “Inilah mengapa narasi harus panjang, bernas, dan penuh makna,” ujarnya. Menurutnya, kualitas sebuah tulisan terletak pada kekuatan gagasan yang mampu menggugah kesadaran publik.

 

Fahd mencontohkan media internasional seperti CNN, CNBC, BBC, hingga Al-Jazeera yang menulis berita dalam puluhan paragraf, bukan demi panjang semata, melainkan untuk menyajikan perspektif yang kaya dan analisa yang utuh. Dengan cara itu, pembaca diajak berpikir lebih kritis, bukan sekadar dikurung pada headline singkat yang lekas terlupakan. Narasi yang disusun dengan kedalaman analisa, kata Fahd, akan menempel di benak generasi muda dan mendorong mereka terlibat aktif dalam perubahan.

 

Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa Infobapera tidak mencari popularitas semu atau viralitas sesaat. Sebaliknya, tujuan utamanya adalah menyalakan api kesadaran agar generasi Indonesia tidak terjebak dalam kejumudan berpikir. Narasi panjang yang disajikan diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, sekaligus mengingatkan bahwa reformasi tak boleh berhenti pada romantisme sejarah, melainkan harus menjelma menjadi energi besar untuk melompat lebih jauh ke depan, ucap Fahd A Rafiq diawal pembukaan

 

Mantan Ketum PP – AMPG ini melanjutkan, di bulan kemerdekaan ini, Indonesia kembali dihadapkan pada cermin sejarah yakni sebuah refleksi getir tentang perjalanan bangsa yang kerap berjalan lambat, meski waktu terus berlari. Fahd A Rafiq kembali menegaskan, kita nyaris kehilangan nyali untuk berpikir dan bertindak besar. Padahal, dalam dunia geopolitik, hanya bangsa dan negara dengan pikiran besar yang mampu menaklukkan abadnya.

 

 

Mantan Ketua Umum DPP KNPI  melanjutkan, “India, negeri yang lahir dua tahun setelah Indonesia, kini berdiri tegak dengan Produk Domestik Bruto mencapai 4,5 triliun dolar AS, sementara Indonesia masih berkutat di angka 1,3 triliun. Perbandingan itu bukan sekadar angka, melainkan tamparan yang menyadarkan bahwa keberanian membangun visi jauh lebih berharga dari pada kenyamanan retorika politik. Sekali lagi India negaranya lebih besar begitu juga jumlah penduduknya.

 

Sejarah menunjukkan, di awal kemerdekaan, India dan Indonesia sama-sama  miskin, rapuh, dan dipenuhi luka kolonialisme. Namun satu hal yang membedakan, India memilih industrialisasi sebagai jalan pembebasan, sementara Indonesia terjebak dalam kompromi politik yang seringkali mematikan imajinasi pembangunan jangka panjang, paparnya.

 

Lebih dalam Suami dari anggota DPR RI ini melanjutkan,  Jawaharlal Nehru perdana menteri pertama India, bukan sekadar birokrat. Ia seorang idealis, pemimpi yang berpijak pada ilmu pengetahuan. Ia membayangkan India menjadi negara industrialis, membangun pabrik baja, bendungan, dan sistem irigasi sebagai fondasi. Indonesia di saat yang sama, sibuk dengan tarik-menarik ideologi yang menggerogoti tenaga bangsa.

 

Jika India hari ini mampu melahirkan Bangalore sebagai “Silicon Valley of Asia”, Indonesia justru masih berkutat pada perdebatan siapa yang berhak menguasai sumber daya alam. India membebaskan kreativitas pasar, sedangkan Indonesia masih mengekang inovasi dengan regulasi berlapis dan dominasi oligarki yang berakar kuat, ungkapnya.

 

Fahd A Rafiq menyebut ada kesalahan konsep dalam pembangunan kita. Definisi “maju” hanya dipersempit pada kelompok yang dekat kekuasaan yang menguasai akses. Masyarakat luas tak pernah benar-benar merasakan kesejahteraan itu. Indonesia menjadi semacam taman yang subur, tetapi hanya segelintir orang yang memetik buahnya.

Fahd membandingkan dengan Singapura. Negara mungil yang lahir 20 tahun lebih muda, kini menikmati GDP per kapita 88 ribu dolar, atau dua puluh kali lipat dari Indonesia. Bukan karena ukurannya kecil, tetapi karena kepemimpinannya berani mengambil keputusan besar dengan konsistensi yang jarang dimiliki para pemimpin kita. Yang jadi pertanyaan apakah semua negara kecil maju, jawabnya belum tentu! Cetusnya.

Fahd memaparkan kembali, “India juga tidak selalu berjalan mulus. Dari 1950 hingga 1980, pertumbuhan ekonominya hanya 3,5% per tahun terlalu kecil untuk negeri sebesar itu. feodalisme politik menjerat, dan birokrasi menjadi belenggu. Namun, meski tersendat, India tak berhenti menanam benih industrialisasi.

 

Green Revolution pada era 1960–1970 menjadi titik balik. India bertransformasi dari pengimpor gandum menjadi negara swasembada pangan. Sementara Indonesia, hingga kini, tetap menggantungkan kebutuhan gandum pada impor, meski masyarakatnya telah menjadi konsumen setia mie instan. Di sini, terlihat kontras antara keberanian menghadapi realitas dan sikap pasrah pada ketergantungan.

 

Selanjutnya Mantan Ketum GEMA MKGR ini memaparkan, pada dekade 1980-an, Rajiv Gandhi muncul membawa semangat baru. Ia mengarahkan fokus India pada sains, teknologi, dan telekomunikasi. Regulasi dipangkas, izin disederhanakan, komputer dimurahkan, dan pendidikan STEM didorong. Dari sanalah lahir generasi baru India yang kelak menjadi motor ekonomi digital global.

 

Lompatan sesungguhnya terjadi pada 1990-an ketika India membuka diri secara besar-besaran terhadap pasar bebas. Rupee didevaluasi, hambatan perdagangan dihapus, izin usaha diliberalisasi. India mengundang dunia masuk, bukan dengan rasa takut, tetapi dengan kalkulasi strategis. Hasilnya jelas pertumbuhan ekonomi India melesat hingga 5–9% per tahun. UKM berkembang pesat, industri digital tumbuh, dan perusahaan raksasa global menjadikan India sebagai basis operasi. Indonesia di waktu yang sama justru terseret krisis moneter 1998 yang menghancurkan banyak fondasi ekonomi.

 

Hari ini, India menatap masa depan dengan optimisme. Diprediksi dalam tiga tahun ke depan, mereka akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar ketiga dunia setelah Amerika Serikat dan Tiongkok. Indonesia? Masih terjebak pada narasi “akan”, “segera”, dan “nanti” yang tak kunjung terwujud.

 

Sejarah panjang India sebenarnya penuh luka. Dari penguasa global abad ke-17 yang menyumbang 20% GDP dunia, India jatuh miskin akibat kolonialisme Inggris. Kekayaan senilai 35 triliun dolar dijarah. Namun, luka itu tak membuat mereka menyerah, justru menjadi bahan bakar kebangkitan. Indonesia pun pernah kaya sumber daya, bahkan dijuluki “Zamrud Khatulistiwa”. Tetapi, kekayaan itu justru menjadi kutukan. Ia diperebutkan, dijual, dan dikelola tanpa visi. Jika India berjuang menata industri, Indonesia kerap tergoda jalan pintas yakni mengekspor bahan mentah dan mengimpor hasil olahan, ini realita.

 

Dari sisi lain Fahd melihat, India memilih jalan “penderitaan produktif”. Mereka rela melewati masa pertumbuhan lambat, tetapi tetap menanam benih yang benar. Indonesia, sebaliknya, terjebak pada “kenyamanan sesaat”, membangun ilusi pertumbuhan dengan utang, konsumsi, dan proyek jangka pendek.

 

Hari ini kita bisa belajar dari keberanian India memelihara rasa lapar akan pengetahuan. Mereka mengirim jutaan insinyur dan ilmuwan ke Silicon Valley, lalu membawa pulang ilmunya. Indonesia, sebaliknya, kerap kehilangan putra-putri terbaiknya yang lebih memilih menetap di luar negeri karena tanah air tak memberi ruang yang layak.

India memilih untuk menjadi. Indonesia masih berkutat antara menjadi atau tetap merasa nyaman sebagai “negara berkembang”. Pertanyaan yang dilontarkan Fahd A Rafiq menjadi relevan: apakah bangsa ini takut berpikir besar dan bertindak besar?

 

Dari kacamata historis, India membuktikan bahwa bangsa yang miskin, korup, dan penuh perpecahan pun bisa bangkit bila ada arah yang jelas. Indonesia memiliki peluang yang sama, bahkan lebih, karena letak geografis strategis, sumber daya melimpah, dan bonus demografi. Namun semua itu sia-sia tanpa keberanian menata ulang visi berbangsa.

 

Sementara India berlari dengan tekad, Indonesia sering berjalan sambil menoleh ke belakang, khawatir melukai status quo. Padahal, sejarah hanya memberi hadiah pada bangsa yang berani memotong jalan, bukan pada mereka yang nyaman berdiri di persimpangan.

 

Dalam bayangan metaforis, India ibarat kapal yang pernah karam, tetapi nakhodanya memilih memperbaiki layar dan mengarungi badai lagi. Indonesia, sebaliknya, sering sibuk memperdebatkan siapa yang layak memegang kemudi, sementara kapal terus terombang-ambing.

 

Ada harga yang harus dibayar untuk maju. India membayar dengan penderitaan puluhan tahun, tetapi kini menuai hasilnya. Indonesia masih menunda pembayaran itu, berharap keajaiban datang dari luar tanpa pengorbanan internal.

 

Sejatinya, bangsa yang besar bukanlah bangsa tanpa luka, melainkan bangsa yang mampu mengubah luka menjadi tenaga sejarah. India melakukannya. Indonesia bisa, bila berani meninggalkan zona nyaman politik transaksional yang telah lama membius.

 

 

Fahd  mengingatkan, dunia tak akan menunggu. Dalam tiga dekade ke depan, peta ekonomi global akan semakin brutal. Jika Indonesia terus terbuai, maka akan menjadi penonton dalam panggung sejarah yang dikuasai India, Rusia, Tiongkok, dan Amerika.

 

Pertanyaan terakhir yang menggantung adalah apakah Indonesia berani mengulang spirit proklamasi, bukan hanya pada tanggal 17 Agustus, tetapi pada seluruh kebijakan dan tindakan nyata? India telah membuktikan bahwa mimpi besar butuh darah dan kesabaran. Indonesia, bila terus takut berpikir besar,tindakan besar hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah dunia, tutup dosen yang mengajar di Negeri Jiran ini.

 

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita