Ranny Fahd Arafiq bangga atas peran sentral Indonesia dalam melawan resistensi antimikroba, ancaman global yang mengintai masa depan kesehatan dunia.
Jakarta – Di tengah dunia yang kian diguncang oleh ancaman penyakit menular, muncul bahaya yang senyap namun berbahaya: resistensi antimikroba (AMR). Sebuah kondisi ketika bakteri, virus, dan parasit menjadi kebal terhadap obat-obatan yang selama ini menjadi penolong manusia. Dalam menghadapi tantangan global ini, Indonesia tampil mengambil peran sentral, sesuatu yang membuat Ranny Fahd Arafiq, Anggota Komisi IX DPR RI, merasa bangga dan optimis.
“Perlawanan terhadap resistensi antimikroba bukan hanya tugas sektor kesehatan, tetapi juga perjuangan seluruh bangsa. Indonesia yang mengambil peran sentral dalam agenda ini membuktikan bahwa kita tidak hanya ikut serta, melainkan berdiri di garis depan,” ungkap Bu Ranny.
Ia menekankan bahwa resistensi antimikroba adalah ancaman nyata yang dapat menggagalkan upaya pengobatan, meningkatkan angka kematian, serta membebani sistem kesehatan. Karenanya, langkah Indonesia untuk aktif berkolaborasi dengan dunia internasional dianggap sebagai komitmen besar demi menyelamatkan generasi mendatang.
Indonesia menegaskan diri bukan hanya sebagai negara terdampak, tetapi juga sebagai penggerak solusi global. Dengan dukungan WHO, ASEAN, dan jejaring internasional ReAct, kolaborasi diharapkan mampu memperlambat laju resistensi antimikroba serta melindungi generasi mendatang dari ancaman kesehatan global.
Lebih lanjut, Bu Ranny menilai bahwa peran sentral Indonesia dalam perang melawan AMR harus dibarengi dengan penguatan di dalam negeri. Mulai dari pengawasan penggunaan antibiotik, peningkatan kesadaran masyarakat untuk tidak sembarangan mengonsumsi obat, hingga penguatan kapasitas tenaga kesehatan.
“Resistensi antimikroba tidak bisa dilawan dengan slogan semata. Dibutuhkan tindakan nyata: kebijakan yang tegas, edukasi yang berkelanjutan, serta kolaborasi yang kuat antara pemerintah, akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat,” tegasnya.
Dalam pandangannya, Indonesia juga punya keunikan tersendiri: kekayaan alam, herbal, dan kearifan lokal yang bisa menjadi alternatif pengembangan obat alami. Jika dikelola dengan baik, hal ini bisa menjadi kontribusi besar bagi dunia.
“Saya percaya, dari bumi Nusantara akan lahir solusi. Indonesia bisa menjadi mercusuar bagi dunia, menunjukkan bahwa perang melawan resistensi antimikroba adalah perang untuk masa depan kemanusiaan,” pungkas Bu Ranny.
Kini, langkah Indonesia di kancah global bukan sekadar diplomasi, melainkan perjuangan kemanusiaan. Sebuah ikhtiar untuk memastikan bahwa obat yang hari ini menyelamatkan hidup, tetap dapat menyelamatkan generasi esok.