Jakarta – Kedaulatan sebuah bangsa seringkali tidak hanya diukur dari luas wilayahnya, melainkan dari sejauh mana ia mampu berdiri di atas kaki sendiri melalui produksi mandiri yang masif, sebuah esensi yang mendalam bagi masa depan kita, cetus Fahd A Rafiq, di Jakarta pada Sabtu, (28/3/2026).
Ketimpangan antara kepemilikan sumber daya alam yang melimpah dengan realitas sebagai konsumen produk asing merupakan anomali sejarah yang harus segera diakhiri demi martabat nasional yang sejati, paradoks materialisme muncul ketika tanah air mengekspor bahan mentah namun mengimpor kembali dalam bentuk komoditas bernilai tinggi, menciptakan sebuah siklus ketergantungan yang melemahkan sendi-sendi ekonomi, paparnya.
Visi Presiden Prabowo untuk mendirikan pabrik mobil domestik bukan sekadar ambisi teknokratis, melainkan sebuah pernyataan eksistensial bahwa Indonesia menolak untuk terus menjadi halaman belakang bagi industri global, kata Fahd.
Secara filosofis, keberanian memproduksi kendaraan sendiri adalah manifestasi dari kehendak untuk berkuasa (will to power) atas nasib ekonomi yang selama ini didikte oleh pasar internasional, ujarnya.
Kita harus melihat melintasi cakrawala, di mana bauksit dan timah yang terkubur di perut bumi Nusantara berubah menjadi kerangka baja yang menggerakkan mobilitas peradaban tanpa perlu tunduk pada lisensi asing sejarah mencatat bahwa bangsa yang besar adalah mereka yang mampu mengonversi potensi laten menjadi kekuatan nyata melalui proses hilirisasi yang berani dan konsisten, imbuhnya dengan percaya diri.
Jika Jepang dan Korea mampu memimpin dunia otomotif tanpa memiliki cadangan mineral sekaya kita, maka satu-satunya variabel yang membedakan adalah keteguhan niat dan keberanian untuk memulai, mobil nasional adalah simbol kemandirian intelektual, sebuah bukti bahwa kecerdasan kolektif bangsa ini mampu merancang sistem mekanis yang kompleks sekaligus kompetitif, terang Fahd.
Transformasi dari sekadar pasar menjadi produsen memerlukan keberanian psikologis untuk memutus rantai inferioritas yang selama ini membelenggu imajinasi kolektif rakyat Indonesia, Setiap inci aluminium yang kita hasilkan di dalam negeri adalah kepingan harga diri yang kita rebut kembali dari dominasi modal transnasional yang selama ini mengisap nilai tambah kita, bebernya.
Narasi ekonomi yang hanya mementingkan konsumsi adalah jalan sunyi menuju stagnasi, sementara inovasi manufaktur adalah jembatan emas menuju status negara maju yang hakiki, ketergantungan pada puluhan merek asing selama puluhan dekade telah menumpulkan insting kompetisi kita, sehingga kehadiran pabrik lokal menjadi katalisator bagi kebangkitan teknis yang tertunda, ulasnya.
Membangun pabrik mobil berarti membangun ekosistem, ia adalah jantung yang memompa darah ke ribuan vendor kecil dan menengah di seluruh pelosok negeri, dalam kontemplasi mendalam, kita menyadari bahwa mobil bukan sekadar alat transportasi, melainkan manifestasi kemajuan peradaban yang mencerminkan etos kerja dan disiplin suatu bangsa, urainya.
Ketua Umum DPP BAPERA ini menekankan bahwa keberpihakan pada produk lokal adalah bentuk patriotisme ekonomi yang paling nyata di tengah gempuran globalisasi yang kian tak terkendali, serunya.
Mantan Ketua Umum PP – AMPG tersebut melihat bahwa transisi menuju energi hijau melalui mobil listrik buatan dalam negeri adalah peluang emas untuk melompati tahap perkembangan industri konvensional, cetusnya.
Suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komisi IX) ini menyadari bahwa ketahanan ekonomi keluarga Indonesia sangat bergantung pada ketersediaan lapangan kerja yang diciptakan oleh industri manufaktur skala besar, timpalnya
Mantan Ketua Umum DPP KNPI tersebut meyakini bahwa generasi muda harus menjadi garda terdepan dalam penguasaan teknologi otomotif agar tidak hanya menjadi penonton di rumah sendiri, ungkapnya dengan penuh keyakinan.
Mantan Ketua Umum GEMA MKGR ini berpendapat bahwa kemandirian alat transportasi akan menurunkan biaya logistik nasional secara signifikan, yang pada gilirannya menyejahterakan rakyat kecil, ucapnya.
Pengusaha Muda ini memahami betul bahwa keberanian mengambil risiko dalam investasi industri berat adalah kunci untuk mengubah struktur fundamental ekonomi dari konsumtif menjadi produktif, tegasnya.
Artis dan Seniman ini memandang bahwa desain mobil nasional harus mencerminkan estetika luhur budaya Indonesia, menggabungkan kecanggihan fungsi dengan keindahan filosofis nusantara, kelakarnya.
Putra dari Musisi Legend A Rafiq ini membawa spirit perjuangan sang ayah ke dalam ranah ekonomi, bahwa setiap nada pembangunan harus selaras dengan napas kemerdekaan yang sesungguhnya, kenangnya.
Fahd A Rafiq menekankan bahwa tiga tahun ke depan adalah masa krusial di mana pondasi industri ini harus diletakkan dengan penuh ketelitian dan kecermatan tanpa ruang untuk kegagalan, tandasnya.
Kita tidak boleh lagi terbuai oleh angka penjualan yang tinggi jika sebagian besar keuntungan tersebut justru mengalir kembali ke kas negara-negara produsen di luar sana, sindirnya.
Imajinasi kontemplatif kita seharusnya mampu membayangkan jalan-jalan raya di Jakarta hingga pelosok daerah dipenuhi oleh kendaraan yang dirakit oleh tangan-tangan terampil putra daerah, dan Asli buatan Indonesia dari semua aspek seperti mesin, oderdil dan sparepart secara utuh, untuk membuka lapangan kerja seluas luasnya.
Secara ilmiah, penguasaan rantai pasok dari hulu ke hilir akan memberikan kedaulatan penuh atas harga dan kualitas, yang merupakan hak dasar bagi setiap warga negara, simpul Fahd.
Dunia sedang memperhatikan apakah raksasa tidur ini akan benar-benar bangkit dan mengambil alih kendali atas pasarnya sendiri atau tetap nyaman dalam buaian produk impor, ingatnya.
Setiap kebijakan yang diambil hari ini adalah warisan bagi masa depan, sebuah investasi moral dan material yang akan menentukan posisi Indonesia dalam peta geopolitik global, tekannya.
Dosen yang mengajar di negeri Jiran Malaysia ini mengingatkan bahwa pendidikan dan riset harus berkolaborasi erat dengan industri agar mimpi memproduksi mobil sendiri bukan sekadar wacana politik, pesannya.
Penulis: A.S.W
