Jakarta– Pendidikan bagi anak-anak migran bukanlah sekadar akses terhadap bangku sekolah, melainkan sebuah instrumen eksistensial untuk meruntuhkan tembok determinisme sosial yang selama ini membelenggu mereka dalam pusaran kemiskinan turun-temurun, ujar Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Ranny Fahd A Rafiq, dengan nada lugas di Jakarta pada Sabtu, (4/7/2026).
Dalam spektrum sosiologis, setiap individu membawa beban historis dari ketimpangan ekonomi orang tuanya, sehingga kehadiran institusi pendidikan yang inklusif menjadi katalisator paling krusial untuk mengubah nasib keluarga mereka di masa depan, tutur Anggota DPR RI Komisi IX DPR RI tersebut.
Sejarah mencatat bahwa mobilitas vertikal yang paling efektif sering kali berakar dari literasi dan keterampilan yang mumpuni, sebuah realitas yang dipahami betul oleh Istri dari Ketua Umum DPP BAPERA ini saat menyoroti kesenjangan akses anak-anak perantau di pelosok negeri.
Sebagai seorang Artis dan Seniman, ia memandang pendidikan sebagai kanvas besar yang memungkinkan setiap anak melukis masa depan mereka sendiri tanpa harus terikat pada stigma atau batasan geografis yang kerap mengekang, cetusnya.
Melalui lirik-lirik yang pernah ia dendangkan sebagai Pemilik Album Cinta dan Jenaka, terpancar empati mendalam terhadap perjuangan kaum marjinal yang kini ia perjuangkan secara konkret di koridor parlemen, paparnya.
Peran strategisnya sebagai Wakil Ketua Umum PP – KPPG memberikan legitimasi kuat untuk mendorong kebijakan yang pro-anak, memastikan tidak ada lagi generasi yang kehilangan hak asasi untuk mendapatkan pengajaran yang layak, ungkap Ranny.
Ketegasan dalam mengelola amanah sebagai Bendahara Umum Ormas MKGR pun ia terapkan dalam pengawasan alokasi anggaran sektor pendidikan, guna memastikan setiap rupiah tepat sasaran bagi mereka yang paling membutuhkan, tegasnya.
Fenomena anak migran yang terputus dari sistem formal sekolah merupakan luka kolektif bangsa yang harus diobati dengan sinergi antara regulasi negara dan kesadaran masyarakat, lanjut Ranny.
Secara filosofis, sekolah adalah ruang untuk merajut harapan di tengah realitas hidup yang sering kali pahit, sebuah komitmen yang selalu ia jaga dalam setiap langkah advokasinya.
Ia melihat bahwa kemiskinan antar generasi bukan sekadar angka statistik, melainkan rantai yang terbuat dari ketidaktahuan, yang hanya bisa dipatahkan oleh tajamnya pedang pengetahuan, sahut Ranny.
Dalam pandangan imajinatif-kontemplatif, ia membayangkan masa depan di mana setiap anak migran memiliki kesempatan yang setara untuk meraih mimpi, terlepas dari latar belakang sosial ekonomi keluarga mereka, terangnya.
Analisis tajamnya menunjukkan bahwa investasi pada anak-anak ini adalah investasi paling bernilai bagi daya saing bangsa di masa depan yang penuh dengan tantangan global, bisiknya.
Ia memahami betul bahwa setiap kebijakan pendidikan yang diambil hari ini akan menentukan rupa wajah bangsa dua dekade mendatang, sebagaimana filosofi pembangunan berkelanjutan yang ia pegang teguh, ungkap Ranny.
Sebagai representasi perempuan yang berdaya, ia mengajak masyarakat untuk melihat isu ini melampaui sentimen politik semata, melainkan sebagai panggilan nurani kemanusiaan yang mendesak, sambungnya.
Di balik setiap angka yang tertera dalam data kependudukan, tersimpan narasi perjuangan panjang para orang tua migran yang mendambakan kehidupan yang lebih baik bagi buah hati mereka, tandas Ranny.
Strategi yang ia tawarkan bukan sekadar membagikan buku, tetapi membangun ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap kebutuhan anak-anak di daerah terpencil dan perbatasan, jelasnya.
Ketekunan Ranny dalam memperjuangkan hak-hak pendidikan anak migran didorong oleh pemahamannya bahwa pendidikan adalah hak asasi yang tidak boleh dinegosiasikan oleh alasan finansial apapun, terangnya.
Ia sering kali mengutip bahwa peradaban sebuah bangsa ditentukan oleh bagaimana mereka memperlakukan anak-anak yang paling rentan, sebuah refleksi mendalam yang sering ia gaungkan dalam rapat kerja, pungkas Ranny.
Dalam perspektif historis, ia merujuk pada masa-masa di mana akses pendidikan menjadi pembeda utama antara mereka yang memimpin dan mereka yang dipimpin, sebuah kenyataan yang ingin ia ubah, ungkapnya.
Ranny meyakini bahwa dengan memberikan alat untuk berpikir kritis, anak-anak migran akan mampu mengambil kendali atas takdir mereka sendiri dan tidak lagi menjadi objek penderitaan, paparnya.
Secara psikologis, keberhasilan anak migran di sekolah akan memberikan dampak domino berupa meningkatnya rasa percaya diri seluruh komunitas migran di lingkungannya, cetusnya.
Ia mencermati bahwa pola pikir pragmatis dalam dunia pendidikan terkadang mengabaikan sisi humanis yang justru menjadi jiwa dari proses belajar mengajar itu sendiri, tuturnya.
Dalam setiap dialognya dengan konstituen, Ranny selalu menekankan pentingnya kolaborasi antara sektor privat, pemerintah, dan elemen masyarakat untuk menciptakan inklusi pendidikan yang nyata, katanya.
Ia tidak memandang pendidikan sebagai tujuan akhir, melainkan sebuah proses perjalanan panjang yang membentuk karakter, integritas, dan martabat seorang individu.
Bahasa yang ia gunakan dalam narasi ini bukan sekadar retorika, melainkan cerminan dari kompleksitas pemikiran yang ia miliki dalam mengurai masalah sosial yang ada, tandas Ranny.
Ketajaman analisa Ranny bersumber dari kemampuannya untuk mendengarkan denyut nadi masyarakat di akar rumput, sebuah kepekaan yang jarang dimiliki oleh pemegang kebijakan, ulasnya.
Dalam setiap kesempatan, ia terus menanamkan ide bahwa setiap anak migran adalah potensi yang belum terasah, yang jika diberikan kesempatan, akan bersinar terang, tegasnya.
Ia melihat pendidikan sebagai bentuk pembebasan dari belenggu ketidakberdayaan yang selama ini sering kali dianggap sebagai takdir permanen bagi keluarga miskin, lanjutnya.
Metafora tentang rantai kemiskinan yang ia gunakan menggambarkan betapa erat dan kuatnya jeratan tersebut jika tidak dipotong sejak dini melalui bangku sekolah, paparnya.
Ranny menekankan bahwa negara harus hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai fasilitator yang menjamin akses pendidikan bagi setiap warga negara tanpa terkecuali, pungkasnya.
Pikiran-pikirannya sering kali melampaui batasan wacana konvensional, membawanya ke arah pemecahan masalah yang lebih fundamental dan struktural, terangnya.
Ia memahami bahwa di balik setiap keterbatasan ekonomi, terdapat energi kreativitas yang luar biasa yang menunggu untuk dilepaskan melalui pendidikan yang tepat, bisiknya.
Dalam konteks global, ia berargumen bahwa negara yang gagal mendidik anak-anak migran secara efektif akan menghadapi konsekuensi sosial yang lebih besar di kemudian hari, tandas Ranny.
Ia menggarisbawahi bahwa setiap investasi pada anak migran adalah upaya preventif terhadap potensi konflik sosial akibat kesenjangan pendidikan yang semakin lebar, ungkapnya.
Konsistensi adalah kunci yang ia pegang dalam setiap agenda perjuangannya di parlemen, memastikan bahwa isu pendidikan anak migran tidak pernah tenggelam dalam riuhnya isu politik lain, paparnya.
Ia percaya bahwa keadilan sosial hanya bisa dicapai jika setiap anak, dari keluarga manapun, memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas, tegasnya.
Ranny mengajak kita semua untuk merefleksikan kembali peran kita sebagai manusia dalam membantu sesama melalui pendidikan yang inklusif dan memanusiakan, katanya.
Dengan narasi yang ia bangun, ia ingin membangkitkan kesadaran kolektif tentang betapa gentingnya situasi pendidikan bagi anak-anak migran di negeri ini, cetusnya.
Setiap kata yang ia ucapkan adalah kristalisasi dari observasi mendalam, analisa ilmiah, dan empati tulus yang ia miliki terhadap nasib anak-anak bangsa, tutupnya.
Solusi Strategis (Problem Solving)
Untuk memutus mata rantai kemiskinan antar generasi, langkah pertama adalah mengintegrasikan sistem data kependudukan migran dengan basis data sekolah nasional secara real-time, sehingga setiap anak migran terpantau dan terdata akses pendidikannya.
Kedua, diperlukan skema beasiswa afirmasi yang khusus menyasar keluarga migran dengan pendekatan jemput bola, memastikan hambatan biaya operasional sekolah tidak lagi menjadi alasan bagi orang tua untuk menarik anak mereka dari bangku sekolah.
Ketiga, pemerintah harus menyediakan pusat kegiatan belajar masyarakat yang fleksibel di kantong-kantong pemukiman migran, yang tidak hanya berfungsi sebagai sekolah formal, namun juga sebagai pusat literasi digital untuk meningkatkan daya saing keterampilan mereka.
Keempat, kolaborasi lintas sektor harus diperkuat dengan pelibatan pelaku usaha melalui program CSR yang berfokus pada pembangunan infrastruktur pendidikan berkualitas di daerah asal atau daerah tujuan migrasi orang tua.
Kelima, memperkuat peran kurikulum pendidikan agar lebih relevan dengan tantangan zaman, yang memberikan kecakapan hidup life skills sehingga lulusan sekolah tidak hanya memiliki ijazah, namun juga kompetensi yang mampu mengangkat taraf hidup keluarga mereka dari jurang kemiskinan secara mandiri dan bermartabat.
Masa depan bangsa ini sedang ditenun saat ini, dan pendidikan anak buruh migran adalah benang emas yang harus kita pastikan tertenun dengan kuat dan indah, tutup Ranny.
Penulis: A.S.W
