Jakarta – Polemik kembali terjadi di jagad sepak bola dunia, negara mana yang layak gantikan IRAN di piala dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Canada dan Mexico, ucapnya di Jakarta pada Jum’at, (24/7/2026).
Dari sisi Amerika Serikat karena mendukung Italia adalah bentuk Oksidentalisme yang absurd. Mendorong Italia menggantikan Iran karena alasan koefisien FIFA adalah bentuk penjajahan mental dalam olahraga. Sepak bola punya konstitusi, dan itu berbasis geografi dan kualifikasi, bukan warisan sejarah atau kasihan karena tim besar tidak lolos, papar Ketua Umum DPP BAPERA tersebut.
Sebagai negara yang sangat dominan dalam percaturan sepak bola dunia, Italia tercatat telah mengantongi 4 gelar piala dunia, untuk di zona eropa, Italia adalah raksasa yang tidur karena telah 2 edisi tidak lolos piala dunia. Disisi lain persaingan di zona eropa super ketat, karena para pemainnya telah mengantongi kekuatan para Individu yang bermain di liga liga top eropa, terang Fahd.
Apa jadinya ketika Amerika Serikat memilih Italia? Bisa jadi ada akan terbentuk kompetisi tandingan, karena lebih memilih kedekatan Aliansi militer.
Bayangkan jika kompetisi tandingan piala dunia di gelar, negara negara seperti China, Indonesia, Rusia, India dengan populasi jumlah penduduk yang sangat besar bersama barisan sakit hati, Piala Dunia 2026 akan kehilangan magnetnya karena kompetisi dunia terbagi dua. Bayangkan jika dukungan dari negara negara besar tersebut dicabut ? , papar Mantan Ketum PP – AMPG ini.
Lebih dalam Suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komisi IX) ini memasukkan Italia ke jatah Asia adalah tindakan ilegal secara logika. Jika Iran didiskualifikasi, haknya tetap milik Asia. Memaksakan Italia masuk hanya karena mereka “glamor” adalah tindakan merusak integritas kompetisi. Itu bukan olahraga, itu namanya showbiz murahan, terangnya.
Italia sudah gagal di lapangan, jangan biarkan mereka lolos lewat jalur pintu belakang birokrasi. Karena Presiden USA saat ini ingin memperbaiki hubungan diplomatik, agar mendapat dukungan terkait serangannya ke IRAN.
Salah satu pengamat sepak bola Indonesia ada yang menggunakan Logika Urutan yang Lumpuh, dia berargumen soal peringkat FIFA (UEA/Oman). Tapi mari kita lihat realitas geopolitiknya. Menempatkan pengganti dari zona yang sama-sama berada dipusaran konflik (Timur Tengah) hanya akan memindahkan masalah dari satu saku ke saku lain.
Jika alasan diskualifikasi Iran adalah stabilitas atau sanksi politik, maka menggantinya dengan negara yang secara geografis dan politik bertetangga langsung dengan zona konflik adalah kekeliruan. Analoginya tidak mengganti tabung gas yang bocor dengan korek api yang menyala.
Indonesia “The Neutral Ground”
Kenapa Indonesia? Di sini kita bicara tentang Etika Geopolitik Sepak Bola,
posisi Indonesia itu netralitas mutlak, Indonesia adalah safe haven. Kita tidak punya keterlibatan langsung dalam proksi perang di Timur Tengah. Secara moral dan politik, Indonesia adalah “kertas putih” di tengah noda konflik Asia, ujar Mantan Ketum DPP KNPI ini.
Jika melihat keadilan distributif maka sepak bola adalah alat pemersatu. Memberikan jatah kepada Indonesia bukan hanya soal teknis, tapi soal menjaga marwah Asia agar tidak didominasi oleh satu sub-region yang sedang bergejolak, ungkap putra usisi legend A Rafiq ini.
Mantan Ketum Gema MKGR ini memaparkan, di era perang dingin seperti saat ini FIFA butuh stabilitas. Indonesia menawarkan stadion yang penuh, antusiasme yang gila, dan yang paling penting, Keamanan tanpa beban politik luar negeri.
Dengan mengusulkan Italia adalah tanda inferioritas. Mengusulkan UEA/Oman adalah tanda kurangnya imajinasi geopolitik. Mengusulkan Indonesia adalah keputusan intelektual untuk menyelamatkan wajah sepak bola Asia dari intervensi kepentingan Barat maupun konflik regional, papar fahd.
Jika sepak bola ingin dianggap sebagai olah raga yang memiliki martabat, ia harus berhenti menjadi budak peringkat FIFA yang seringkali bias.
Fahd mengatakan Kepada Fans Italia, berhenti mengemis jatah negara lain. Belajarlah mencetak gol di babak kualifikasi, bukan di meja sidang. Kita Jangan terjebak pada angka-angka kaku di atas kertas. Lihatlah peta dunia. Peringkat tinggi tidak berguna jika negaranya berada di ambang keterlibatan konflik.
Kepada FIFA Jika ingin turnamen yang bersih dari residu perang dan penuh dengan gairah murni, Indonesia adalah satu-satunya variabel yang masuk akal.
Jadi, kalau ada yang masih berdebat soal Italia atau UEA, artinya IQ nya belum sampai pada level untuk memahami bahwa sepak bola adalah tentang diplomasi perdamaian. Dan Indonesia adalah duta perdamaian itu.”
Jika negara-negara Timur Tengah protes, kita tanya balik, atas dasar apa protesnya? Jika Iran didiskualifikasi karena alasan politis atau keterlibatan konflik, maka secara moral, negara-negara yang berada dalam satu circle ketegangan tersebut kehilangan legitimasi untuk menuntut.
Logikanya kita tidak bisa meminta keadilan di atas meja yang kakinya sedang goyang sendiri. Indonesia datang sebagai “The Third Party”. Kita tidak punya musuh di sana. Kita tidak ikut campur urusan sektarian dan dominasi.
Protes mereka terhadap Indonesia akan terlihat sebagai kecemburuan yang tidak intelek. Indonesia sebagai “Titik Nol” Geopolitik. Dunia butuh buffer zone. Jika FIFA memilih UEA atau Oman, mereka hanya akan memindahkan bara api. Arab Saudi mungkin tidak setuju UEA yang masuk, Qatar mungkin tidak setuju negara lain yang masuk. Ada rivalitas regional yang akut di sana, begitu cara melihatnya.
Indonesia adalah solusi jalan tengah. Kita adalah negara Muslim terbesar yang menganut paham non-blok secara konsisten. Memilih Indonesia justru akan meredam kegemparan, karena tidak ada satu pun kekuatan di Timur Tengah yang merasa terancam secara eksistensial oleh posisi politik Jakarta. Kita adalah “penengah yang pasif namun masif.”, papar tokoh muda nasional tersebut.
Mungkin diluar sana pengamat akan berteriak, Tapi peringkat Indonesia jauh di bawah, Saya jawab, Sepak bola di level Piala Dunia bukan sekadar statistik, tapi soal keberlangsungan peradaban. Apa gunanya membawa tim peringkat 60 kalau kehadirannya justru memicu boikot atau demonstrasi politik di stadion? Indonesia membawa 280 juta pasang mata dan jaminan keamanan ideologis, cetusnya lebih dalam.
Indonesia adalah aset yang jauh lebih mahal daripada angka-angka di tabel FIFA yang seringkali hanya hasil dari utak-atik pertandingan persahabatan. Logisnya Kegemparan itu hanya akan terjadi di level netizen. Di level diplomasi tinggi, mereka akan bernapas lega karena beban persaingan regional mereka dialihkan ke sebuah negara kepulauan yang ramah, terang Fahd.
Jadi, jika Timur Tengah gempar, itu bukan karena Indonesia tidak layak. Tapi karena mereka kaget bahwa ada negara yang begitu stabil dan jauh dari konflik, yang tiba-tiba mengambil panggung karena mereka terlalu sibuk bertengkar. Itu namanya takdir sejarah, dan takdir tidak butuh permisi dari negara-negara yang sedang hobi berperang.
kalau mau yang lebih “gila” dan mematikan secara logika, kita harus masuk ke jantung filsafat hukum dan moralitas olahraga. Fahd menggunakan argumen “The Void of Meritocracy”(Kekosongan Meritokrasi).
Para pemuja statistik bilang UEA atau Oman lebih berhak karena peringkat FIFA? Itu cara berpikir akuntan, bukan cara berpikir negarawan bola. Peringkat FIFA itu akumulasi dari pertandingan -pertandingan di masa lalu yang tidak ada hubungannya dengan urgensi hari ini. Jika Iran didiskualifikasi karena ‘dosa’ geopolitik atau sanksi internasional, maka seluruh klasemen di zona itu otomatis terkontaminasi, terangnya.
Analoginya kita tidak bisa mengambil sisa makanan dari piring yang sudah diracun. Indonesia adalah piring bersih dari rak yang berbeda. Kita membawa kesucian baru ke turnamen paling prestisius di Planet bumi ini.
Fahd menjelaskan ulang, kenapa bukan Italia? Begini logikanya, jika negeri benito Musolini ini diusir dari pintu depan (Kualifikasi Eropa), Italia tidak punya hak untuk memanjat jendela tetangga (Jatah Asia). Memasukkan Italia adalah tindakan incest dalam olahraga. Itu merusak genetika kompetisi.
Eropa sudah punya jatahnya sendiri dan itu paling banyak, membawa Italia ke jatah Asia adalah bentuk kolonialisme estetik. Hanya karena mereka ganteng-ganteng dan main di klub besar, bukan berarti mereka bisa mencuri hak bangsa Asia, terang Fahd dengan nada penuh ketegasan.
Indonesia, meski peringkatnya di bawah, adalah pemilik sah tanah Asia. Secara moral, satu kaki pemain cadangan Timnas Indonesia lebih berhak menginjak rumput Piala Dunia daripada seluruh skuad Azzurri dalam konteks jatah Asia.
Fahd A Rafiq menggunakan The Big Market Theory” (Logika Kapitalisme FIFA). Mari kita bicara jujur di bawah meja. FIFA itu organisasi yang butuh uang dan stabilitas. Timur Tengah (UEA/Oman) Penontonnya sedikit, risikonya tinggi karena dikepung zona perang. Italia, hanya membawa kesedihan dan nostalgia yang sudah basi sedangkan Indonesia membawa fanatisme kolosal.
Memasukkan Indonesia adalah cara FIFA membayar hutang sejarah pada negara yang sepak bolanya pernah ‘dibunuh’ oleh sanksi dan birokrasi masa lalu. Ini bukan sekadar pergantian pemain, ini adalah Restorasi Keadilan. Jika FIFA ingin Piala Dunia yang hidup, mereka butuh gairah 280 juta rakyat, bukan sekadar penonton layar kaca di Roma yang memang makanan sehari hari disana.
Jika masuk pada “Keamanan Geopolitik
negara-negara di zona perang (Oman/UEA), Anda membawa ‘hantu’ konflik ke dalam stadion. Anda butuh keamanan berlapis, ketegangan diplomatik, dan risiko boikot.
Jadi, Indonesia adalah Anestesi Geopolitik. Kita adalah obat bius bagi ketegangan dunia. Memilih Indonesia berarti memastikan bahwa di stadion nanti, orang hanya akan bicara soal ‘Gol’, bukan soal ‘Rudal’. Jadi, kalau ada yang masih protes Indonesia tidak layak, sebenarnya mereka sedang merencanakan kerusuhan di Piala Dunia. Karena hanya orang yang anti-damai yang menolak negara netral untuk tampil.
Jadi, silakan Italia menangis di Milan, silakan UEA menghitung angka di Dubai. Tapi sejarah akan mencatat, Indonesia tidak butuh peringkat untuk lolos, Indonesia hanya butuh kewarasan FIFA untuk menyadari bahwa bola itu bulat, tapi keadilan itu tegak lurus, ujar Fahd.
Fahd melihat dari Manifesto Kedamaian Mengapa Indonesia Adalah Jawaban bagi Dunia. Sepak bola hari ini tidak sedang mencari siapa yang paling pandai menendang bola, karena statistik itu bisa dibeli. Dunia sedang mencari di mana sepak bola bisa bernapas tanpa bau mesiu, ungkapnya lebih dalam.
Dengan Kehadiran Indonesia menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh konflik bukanlah sebuah ‘hadiah gratis’, melainkan sebuah tugas sejarah. Di saat belahan dunia lain sedang sibuk menghitung rudal dan memperdebatkan garis perbatasan, Indonesia datang membawa DNA perdamaian yang sudah teruji selama puluhan tahun melalui politik bebas aktif.
Fahd A Rafiq melihat ada tiga alasan mengapa Indonesia tidak akan menimbulkan kegaduhan. pertama stabilitas tanpa beban, Indonesia adalah satu-satunya kandidat yang bisa masuk ke stadion mana pun di dunia tanpa memicu protes diplomatik atau boikot keamanan. Kami tidak memiliki musuh ideologis. Kami hanya memiliki pendukung yang fanatik namun cinta damai.
Kedua, Memilih Indonesia adalah cara FIFA melakukan ‘sterilisasi’ terhadap politisasi olahraga. Kami adalah neutral ground. Kami bukan bagian dari proksi mana pun. Jika Indonesia masuk, maka yang dibicarakan adalah estetika permainan, bukan agenda politik luar negeri.
Ketiga, Dunia akan lebih bisa menerima negara yang sedang membangun mimpinya (Indonesia) dari pada negara besar yang gagal di kualifikasi namun mencoba ‘mencuri’ jatah lewat jalur birokrasi (Italia), atau negara yang berada di pusaran konflik yang sama (Timur Tengah).
Jika Indonesia lolos tanpa play-off, dunia tidak akan protes. Dunia justru akan menarik napas lega. Karena untuk pertama kalinya, jatah Piala Dunia diberikan kepada mereka yang membawa kegembiraan murni, bukan residu dari peperangan. Jadi, Indonesia adalah ‘obat bius’ bagi ketegangan global. Di bawah merah putih, sepak bola kembali menjadi milik kemanusiaan, bukan milik kepentingan senjata.Untuk para pemuja konflik, biarkan bola menggelinding di tangan mereka yang tangannya bersih dari pelatuk dan rudal, paparnya.
Fahd juga menggunakan persektif Teologi-Politik, Indonesia sebagai “Kiblat Baru” Stabilitas. Kalau alasan geografis dianggap buntu oleh para birokrat FIFA, mari kita bicara soal Etika Religius. Ini bukan soal ritual, tapi soal Marwah Islam di mata dunia.
Indonesia adalah “Wajah Islam yang Tersenyum. Dunia hari ini seringkali secara tidak adil mengidentikkan negara Muslim dengan ketegangan, konflik, dan restriksi. Jika Iran (sebagai representasi negara Muslim) harus keluar karena alasan politik dunia, maka penggantinya wajib datang dari rahim peradaban Islam yang sama agar tidak ada kesan ‘Islamofobia’ dalam keputusan FIFA.
Namun, siapa yang paling layak? Bukan mereka yang sedang bertikai di Timur Tengah. Indonesia adalah representasi Islam Wasathiyah (Moderat). Memilih Indonesia berarti FIFA sedang menunjukkan pada dunia bahwa Islam adalah tentang kegembiraan, stadion yang penuh, dan persaudaraan, bukan soal faksi-faksi yang saling mengunci.
Jika jatah Iran diberikan kepada Italia, itu adalah penghinaan terhadap dunia Islam. Itu namanya pencurian hak kultural. Namun, jika jatah itu diberikan kepada sesama negara Timur Tengah (UEA/Oman), api kecemburuan antar tetangga akan tetap menyala.
Indonesia hadir sebagai ‘Saudara Jauh’ yang tidak punya kepentingan dalam perebutan dominasi di jazirah Arab. Kita adalah ‘titik temu’ di mana seluruh dunia Muslim bisa sepakat. Kita membawa solidaritas tanpa membawa bagasi konflik.
Selama ini, pusat gravitasi Islam seolah-olah hanya di Timur Tengah. Padahal, jantung populasi Muslim terbesar ada di Bumi Nusantara. Secara etis, sudah saatnya suara mayoritas yang tenang ini diberi panggung.
Indonesia masuk ke Piala Dunia adalah Keadilan Kosmis. Kita menggantikan saudara kita (Iran) dengan semangat yang sama namun dengan kondisi yang lebih kondusif. Ini bukan soal mencuri tempat, tapi menjaga agar jatah ‘Dunia Muslim’ tidak hilang ditelan oleh egoisme Eropa (Italia).
Jadi, Jika Pihak timur tengah ada yang protes, kita tanya anda mau jatah ini jatuh ke tangan Eropa yang tidak berhak, atau jatuh ke tangan saudara seiman yang paling stabil di dunia?
Jadi, Indonesia adalah jembatan. Kami tidak datang membawa pedang, kami datang membawa doa dan gairah bola yang suci. Memilih Indonesia adalah cara terbaik untuk menghormati Iran sekaligus menyelamatkan wajah dunia Islam di panggung global.
Indonesia adalah jawaban untuk mereka yang ingin melihat Islam dan sepak bola bersatu dalam kedamaian, bukan dalam berita perang. Satu satunya jalan tengah terkait konflik perang Iran dan Israel adalah Indonesia, kita akan buktikan kepada dunia Indonesia membawa kesejukan dan perdamaian bagi dunia, tutup dosen mengajar di negeri Jiran ini.
Penulis: A.S.W
