Ranny Fahd A Rafiq Bedah Keilmuan Para Kritikus Program MBG

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jakarta–  Menganalisis kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari kacamata Epoleksosbudhankam (Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pertahanan, dan Keamanan) mengungkap adanya benturan antara “Idealisme Sektoral” dengan “Pragmatisme Nasional”, ungkap Ranny Fahd A Rafiq di Jakarta pada Sabtu, (28/3/2026).

Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar ini melihat dari perspektif ekonomi yakni Efisiensi vs Investasi SDM. Kritikus dari kalangan ekonom arus utama biasanya menggunakan Ilmu Makroekonomi dan Fiskal, paparnya.

 

Ranny kembali memaparkan kritik mereka mengarah pada fokus beban APBN, risiko defisit, dan opportunity cost (biaya kesempatan). Mereka punya titik buta yaitu sering kali melihat pengeluaran gizi sebagai “konsumsi” yang membebani anggaran, bukan sebagai “investasi modal manusia”, ungkapnya.

Disisi lain Istri dari Ketua Umum DPP BAPERA ini melihat (human capital investment) jangka panjang yang baru akan terlihat hasilnya 15-20 tahun ke depan. Perspektif Politiknya dibenturkan  antara Populisme vs Hak Konstitusional. Di sini, kritik datang dari pakar Ilmu Politik dan Kebijakan Publik, ungkapnya.

 

Wakil Ketua Umum PP- KPPG  ini memaparkan, mereka mengarahkan kritiknya pada MBG sering dituduh sebagai kebijakan “populis” untuk menjaga elektabilitas atau sekadar bagi-bagi proyek (klientelisme). Mereka mengkritik tata kelola (governance) yang dianggap terburu-buru, namun mereka punya titik buta yakni dengan mengabaikan bahwa dalam kontrak sosial, negara wajib memenuhi hak dasar warga (pangan). Politik bukan hanya soal prosedur, tapi soal distribusi keadilan yang konkret di meja makan rakyat, cetusnya.

Lebih jauh Ranny melihat kritikan datang dari sisi perspektif Sosial & Budaya, dibenturkannya Teknokrasi vs Antropologi Lapangan. Ini adalah ranah di mana ulasan seperti dr. Tan Shot Yen berada di ranah Sosiologi Kesehatan dan Antropologi), ungkapnya.

Bendahara Umum Ormas MKGR ini memaparkan lebih dalam arah kritik mereka berfokus pada perubahan pola makan (intervensi budaya makan) dan standar medis (UPF, higienitas). Dari pihak mereka ada kekhawatiran akan pemenjaraan selera lokal oleh industri.

Ranny mengungkap titik buta nya ini mengarah pada “keangkuhan teknokrasi,” mereka yang pro dengan hal ini sering terjebak pada fetisisme prosedur. dr. Tan memahami ilmu mikrobiologi, tapi gagal memahami sosiologi lapar rakyat miskin, nutrisi yang tidak sempurna tetap lebih baik dari pada perut yang kosong sama sekali. Tapi disisi lain bukan hanya untuk mengisi perut kosong tapi mencerdaskan dengan program MBG maka harus ada nutrisi masalah kekurangannya bisa diperbaiki sambil jalan, karena ini program nasional, tekannya.

Dari Perspektif Pertahanan & Keamanan (Ketahanan Nasional), Ranny memaparkan
kritik datang dari sisi Geopolitik dan Ketahanan Nasional biasanya menyoroti ketergantungan impor, Untuk beras Indonesia sudah mandiri. bagaimana dengan yang lain, masih dalam proses?

Kritiknya mengarah pada bahan baku MBG (seperti susu atau daging), hal ini bergantung pada impor, maka program ini menjadi titik lemah kedaulatan. Keamanan pangan adalah bagian dari pertahanan negara.

Titik Buta mereka terlalu fokus pada ancaman luar sehingga lupa bahwa ancaman keamanan dalam negeri yang paling nyata adalah degradasi kecerdasan generasi mendatang (lost generation), ungkap artis dan seniman ini.

 

Mereka benar secara teknis di bidangnya (misal: suhu bakteri atau defisit anggaran), tetapi keliru secara strategis dalam melihat urgensi eksistensial bangsa. Mereka terjebak pada “kebenaran korespondensi” (sesuai teks/buku) tapi abai pada “kebenaran pragmatis” (apa yang harus dilakukan agar bangsa ini tidak stunting secara intelektual), terangnya.

Ranny menyimpulkan, Kebenaran medis anda mutlak di atas kertas, tapi keliru di atas tanah. Negara tidak sedang mengelola katering, negara sedang menyelamatkan nyawa bangsa. Berhenti berdebat soal tali rafia, mulailah bicara soal kecerdasan yang terselamatkan, ayo dong naikan level anda, jangan jalan di tempat, tutup Ranny.

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita