Jakarta – Di suatu sudut Indonesia, berita mengalir bukan seperti air, melainkan seperti darah. Ia mengalirkan kisah yang mestinya tinggal sebagai catatan gelap sejarah kesehatan, namun kini kembali berwujud, nyata, dan menyakitkan, Ucap Ranny Fahd A Rafiq di Jakarta pada Minggu, (25/4/2025).
Anggota DPR RI Dapil Jabar VI ini memaparkan, seorang balita di Sukabumi meninggal, dan di dalam tubuhnya ditemukan gumpalan cacing yang memberatkan, hampir satu kilogram. Tragedi ini, menurut Ranny Fahd A Rafiq, bukan sekadar berita melainkan sebuah alarm nasional. Alarm yang berbunyi nyaring kali ini memanggil kita untuk meninjau kembali apa yang sudah lama kita biarkan salah, cetusnya.
Bukan hanya kematian yang menusuk, tetapi juga pemandangan yang mengikutinya. Di ruang gawat darurat, dokter menyaksikan cacing-cacing keluar dari hidung seorang anak yang dehidrasi parah, sebuah pemandangan yang seharusnya menjadi artefak masa lalu. Inilah wajah bisu dari kemiskinan sanitasi, sebuah kondisi yang lebih dari sekadar “kurang bersih,” melainkan “kurang dilihat.” Kurang terlihat oleh mata birokrasi, kurang tersentuh oleh kebijakan yang seringkali hanya menjangkau permukaan, ungkap anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar ini.
Namun, sains mengajari kita untuk tidak terburu-buru menghakimi. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin datang dengan klarifikasi yang penting, kematian anak itu tidak semata-mata disebabkan oleh cacing. Ada komplikasi infeksi berat, yang kemungkinan besar adalah meningitis atau TBC, yang membuat tubuhnya sangat lemah. Klarifikasi ini menegaskan bahwa kita tidak boleh menyederhanakan tragedi menjadi slogan.
Cacing memang ada, dan kehadirannya adalah gejala, tetapi penyebab kematiannya adalah rangkaian penyakit yang saling berkaitan, berujung pada sepsis (infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh). Bahkan jika cacing bukan penyebab tunggal, ia adalah gejala struktural. Ia adalah lubang besar dalam jaring pengaman kesehatan dasar kita. Sebuah lubang yang tercipta dari sanitasi yang rapuh, edukasi yang tidak merata, dan layanan kesehatan yang gagal menjangkau keluarga paling rentan, papar Istri dari Fahd A Rafiq ini.
Ranny mendalami masalah ini bahwa, “Pemerintah mungkin telah berpuluh tahun mengupayakan pencegahan melalui program deworming massal dan kampanye Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Tetapi Sukabumi menunjukkan bahwa “cahaya” program tidak selalu menembus lorong terjauh, ungkapnya.
Ada pendekatan yang oleh Ranny Fahd A Rafiq disebut “pendekatan mata cacing” atau “super mikro”. Konsep ini diilhami oleh pemenang Nobel Perdamaian Muhammad Yunus tahun 2006. Hal ini bukanlah tentang cacingan, melainkan tentang melihat masalah hingga ke akar terkecilnya. Ini adalah cara pandang yang menuntut kita untuk tidak hanya fokus pada makroekonomi, tetapi juga pada persoalan nyata yang dihadapi oleh individu di tingkat RT/RW.
Ranny menegaskan bahwa suaminya, Fahd A Rafiq, telah menggunakan konsep “mata cacing” ini sejak tahun 2022. Menggunakan sudut pandang super mikro dalam melihat kemiskinan disebuah negara. Jadi bedakan ya antara arti cacingan dengan mata cacing(Sebuah cara untuk melihat dari jarak yang sangat dekat akan sebuat permasalahan yang kompleks), paparnya.
Ranny melihat satu kasus kemiskinan di Sukabumi, Jawa Barat seakan-akan memberikan bukti nyata di lapangan tentang relevansi konsep tersebut. Ini bukan sekadar wacana, melainkan undangan untuk meninjau ulang seluruh sistem birokrasi kita. Sebuah ajakan untuk mendorong koordinasi lintas sektor, membangun data yang hidup yang terintegrasi, serta memberdayakan Posyandu agar tidak hanya menjadi papan nama, melainkan pusat layanan yang benar-benar efektif, ungkapnya.
Di satu sisi Ranny memaparkan ada ritme rapat dan koordinasi di pusat dan daerah yang terdengar begitu teratur. Namun, di luar ruang-ruang ber-AC itu, ada kenyataan yang lain. Ada jamban tanpa air, tangan-tangan kecil tanpa sabun, dan kuku yang memelihara telur-telur parasit, papar Ranny yang mendalami hal ini dengan sudut pandangnya.
Menurut Anggota Banggar DPR RI ini Kebijakan adalah prosa, pencegahan adalah praktik harian. Ia bukan hanya soal regulasi, tetapi tentang kebiasaan yang melekat pada keseharian masyarakat. Secara biologis, siklus hidup Ascaris lumbricoides terbilang sederhana yaitu telur tertelan dari tanah atau makanan terkontaminasi, menetas di usus, dan larvanya berkelana sebelum kembali untuk tumbuh, ungkap Ranny.
Ranny melanjutkan, dampak dari siklus sederhana ini bisa sangat fatal. Jika jumlah cacing massif, usus bisa tersumbat, dan tubuh kecil bisa kehabisan daya. Sumbernya pun jarang tunggal, ia adalah manifestasi dari sanitasi yang rapuh, kebiasaan mencuci tangan yang tidak konsisten, lingkungan padat tanpa drainase yang memadai, dan ketimpangan akses terhadap air bersih.
Kecacingan adalah peta sosial yang tercetak di tubuh manusia.Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memiliki pedoman yang jelas yakni dengan pemberian albendazole atau mebendazole secara berkala di daerah endemik. Intervensi ini aman, murah, dan terbukti efektif asalkan menjangkau mereka yang seharusnya dijangkau.
Peta jalan WHO untuk tahun 2021-2030 bahkan menargetkan pengendalian soil-transmitted helminthiases dengan pendekatan lintas sektor seperti air bersih, sanitasi, gizi, dan pendidikan. Karena obat saja tidak akan bisa mengeringkan sumber masalah. Jadi, wafatnya raya (4 Tahun) menjadi alarm Nasional, ternyata masih ada loh anak cacingan di Indonesia plus ditambah saat ini adalah era digital yang mana informasi bisa menjangkau secepat kilat, netizen tanah air ramai ramai komentari masalah ini, papar Ranny.
Indonesia sendiri memiliki landasan hukumnya, yaitu Permenkes No. 15/2017 tentang Penanggulangan Cacingan. Regulasi ini mengakui kecacingan sebagai masalah kesehatan masyarakat dan menetapkan kerangka pencegahan yang komprehensif. Implementasinya bertumpu pada sekolah dan Posyandu, di mana Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) diberikan satu hingga dua kali setahun.
Meskipun cakupan POPM telah menyentuh puluhan juta anak, masih ada “kantong-kantong kosong” di berbagai wilayah. Wilayah, keluarga, dan anak yang luput karena faktor geografi, stigma, atau sekadar jadwal yang tidak pernah tiba. Artinya, kita tidak hanya butuh “lebih banyak,” tetapi “lebih tepat.” Kita memerlukan peta mikro berbasis RT/RW, dashboard yang mengintegrasikan data posyandu, sekolah, dan Puskesmas, serta kader yang dilatih secara khusus untuk memantau kepatuhan, tegas Ranny.
Prof. Tjandra Yoga Aditama (Mantan Direktur Penyakit Menular WHO untuk Asia Tenggara) merumuskan tujuh pelajaran penting dari investigasi serupa yakni investigasi medis yang resmi, penelusuran lingkungan, identifikasi spesies cacing, sanitasi sebagai benteng pertahanan, gizi sebagai perisai, ketersediaan terapi yang aman, dan yang terpenting, target global yang menuntut kecepatan kita, bukan alasan-alasan kita, ujarnya.
Ranny memaparkan lebih mendalam, di balik kasus ini ada wajah seorang ibu yang mungkin merasa bersalah karena tidak tahu jadwal POPM atau tidak mampu memaksa anaknya mencuci tangan. Kita berutang kepada mereka sebuah sistem yang tidak menyalahkan, melainkan mengajak dan memudahkan. Tragedi ini menjadi pengingat klasik akan ironi kesehatan publik yakni biaya “obat” seringkali murah, tetapi biaya kegagalan kebijakan sangat mahal. Ia dibayar dengan hari-hari sakit, jam belajar yang hilang, dan yang paling parah nyawa balita melayang, paparnya.
Keberhasilan sejati bukanlah penurunan angka, melainkan luruhnya ketakutan seorang ibu ketika anaknya demam. Ini adalah tentang mengubah PHBS dari sekadar poster menjadi ritus keseharian seperti memotong kuku, menggunakan alas kaki, mencuci tangan pada lima momen penting, dan memasak makanan hingga matang. Kebiasaan-kebiasaan ini terlihat remeh, sampai ia menyelamatkan nyawa.
Tentu saja, semua ini tidak akan berarti tanpa infrastruktur yang memadai seperti persediaan air yang aman, jamban layak, dan pengelolaan tinja yang benar. Data global menunjukkan bahwa kemajuan belum merata. Tanpa sanitasi, obat yang kita berikan hari ini akan berhadapan dengan reinfeksi esok pagi. Ketika kita menatap tahun 2045, kasus di Sukabumi menjadi alarm keras bahwa konsep Indonesia Emas tidak boleh dibangun di atas tanah yang masih menyimpan telur parasit.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kematian balita itu bisa dicegah. Program cek kesehatan gratis, yang merupakan prioritas pemerintahan saat ini, seharusnya dimanfaatkan oleh masyarakat. Puskesmas harus menjadi garda terdepan, tidak hanya mendistribusikan obat, tetapi juga aktif turun ke lapangan untuk mendeteksi kasus, termasuk TBC, yang menjadi penyebab utama kematian.
Budi mengimbau masyarakat untuk ikut berperan aktif, menyebarluaskan kesadaran akan pentingnya deteksi dini. Ia menekankan bahwa nyawa tidak boleh hilang hanya karena keterlambatan dalam mendeteksi penyakit yang sebenarnya bisa diobati. Kesehatan adalah hak dasar, tetapi juga tanggung jawab bersama antara negara yang menyediakan kebijakan dan masyarakat yang memiliki kesadaran.
Pada akhirnya, kematian satu anak adalah cermin bagi kita semua. Kita boleh berdebat tentang etiologi, tetapi kita tidak boleh berdebat tentang kewajiban yakni mencegah yang bisa dicegah sekarang juga. Ilmu sudah tersedia, obat sudah ada, peta jalan sudah digambar. Yang tersisa adalah menempuhnya dengan kegigihan.
Hari ini Sukabumi mengajarkan kita nada dasar kesehatan publik yakni tidak ada kata “jauh” bagi negara yang sungguh hadir. Jika satu anak terselamatkan karena kampanye yang konsisten, distribusi obat yang tepat waktu, dan jamban yang akhirnya jadi nyata, maka alarm hari ini telah menjalankan tugasnya membangunkan kita agar tidak tertidur lagi. Ranny Fahd A Rafiq menutup dengan janji konsistensi, untuk mendorong kebijakan yang menyentuh lapisan paling bawah yang bahkan tidak terjangkau oleh mata biasa.
Penulis: A.S.W