Home Religi

Fahd A Rafiq : Idul Adha 2025 Lebih dari Sekadar Ritual, Merajut Makna Hakiki Pengorbanan Persaudaraan dan Persatuan 

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

 

Jakarta – Pada pertengahan tahun 2025 ini tepatnya pada tanggal 10 Zulhijjah 1446 Hijriah jutaan umat Muslim di seluruh penjuru dunia kembali akan menyambut Hari Raya Idul Adha. Gaung takbir akan membahana, mengiringi jutaan hati yang bersiap merayakan hari raya besar ini. Lebih dari sekadar penanda akhir ibadah haji di Tanah Suci, Idul Adha adalah perayaan spiritual yang mendalam sebuah momentum refleksi atas nilai-nilai luhur yang telah diwariskan dari zaman ke zaman, ucap Fahd A Rafiq di Jakarta pada Kamis, (5/6/2025).

 

 

Ketum DPP BAPERA mengatakan, “Inti filosofis Idul Adha berpusat pada kisah epik Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail AS. Kisah ini bukan sekadar legenda masa lalu, melainkan cerminan paling murni dari ketaatan absolut dan keikhlasan tanpa syarat. Dalam menghadapi perintah yang melampaui logika dan perasaan Ibrahim AS menunjukkan penyerahan diri yang total kepada kehendak Ilahi, sebuah teladan yang relevan bagi setiap manusia di tahun 2025 yang serba kompleks ini, ungkapnya.

 

 

Pengorbanan dalam konteks Idul Adha bukanlah semata tindakan fisik, seperti menyembelih hewan kurban. Lebih dari itu ia adalah simbolisasi pelepasan diri dari segala bentuk keterikatan duniawi, termasuk ego, kesenangan pribadi, dan hawa nafsu yang seringkali menjauhkan manusia dari tujuan hakikinya. Di era konsumerisme yang semakin menguat, makna pengorbanan ini mengajak kita untuk merenungkan prioritas hidup dan mengutamakan nilai-nilai spiritual di atas materi, cetus Mantan Ketum PP – AMPG ini.

 

 

Hewan kurban, baik sapi, kambing, maupun domba, yang disembelih pada hari itu, membawa makna simbolis yang mendalam. Setiap tetes darah yang mengalir melambangkan pembersihan diri dari dosa dan kesalahan, sementara dagingnya yang dibagikan secara adil adalah wujud nyata dari kedermawanan dan solidaritas sosial. Ini adalah manifestasi dari ajaran Islam tentang kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang kurang beruntung, terangnya.

 

 

Di tengah arus globalisasi dan individualisme yang cenderung meningkat, praktik pembagian daging kurban menjadi pengingat kuat akan pentingnya kebersamaan dan gotong royong. Daging kurban yang sampai ke tangan fakir miskin dan kaum dhuafa bukan hanya memenuhi kebutuhan pangan mereka, tetapi juga menumbuhkan rasa persaudaraan dan kebahagiaan universal. Ini adalah jembatan yang menghubungkan berbagai lapisan masyarakat, merajut kembali simpul-simpul kebersamaan yang mungkin sempat longgar.

 

 

Filosofi kurban juga mengajarkan kita tentang kesediaan untuk memberi dari apa yang paling kita cintai. Nabi Ibrahim AS bersedia mengorbankan Ismail, yang sangat ia cintai dan nantikan kehadirannya. Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti kesediaan untuk mengorbankan waktu, tenaga, atau harta benda demi kepentingan yang lebih besar, demi kebaikan umat manusia dan demi mendekatkan diri kepada Allah SWT.

 

 

Idul Adha tahun 2025 juga menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi. Kunjungan antar keluarga, saling bermaaf-maafan, dan santap bersama hidangan khas hari raya menjadi tradisi yang tak terpisahkan. Momen ini memperkuat ikatan kekeluargaan dan persahabatan, menegaskan kembali bahwa keharmonisan sosial dimulai dari lingkungan terdekat, kita boleh sibuk dengan pekerjaan tapi keharmonisan dalam keluarga itu harus di jantung tinggi, ungkapnya.

 

 

Di balik kemeriahan takbir dan penyembelihan kurban, terdapat pesan moral yang kuat pentingnya berbagi rezeki dan kebahagiaan. Dalam masyarakat yang seringkali diwarnai kesenjangan sosial Idul Adha berfungsi sebagai pengingat kolektif bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk meringankan beban sesama, menciptakan ekosistem sosial yang lebih adil dan peduli, sesuai sila ke -5 Pancasila yaitu Keadilan Sosial.

 

 

Selain itu, Idul Adha mengajarkan kita tentang ketabahan dan keyakinan dalam menghadapi ujian. Kisah Nabi Ibrahim AS yang diuji dengan perintah kurban, dan Nabi Ismail AS yang pasrah akan takdirnya, adalah teladan bagi umat manusia untuk senantiasa bersabar dan percaya bahwa setiap ujian pasti memiliki hikmah dan jalan keluar.

 

 

 

Di tengah isu-isu lingkungan dan keberlanjutan yang semakin relevan di tahun 2025, Idul Adha juga dapat diinterpretasikan sebagai momentum untuk menghargai kehidupan dan mengelola sumber daya dengan bijaksana. Proses penyembelihan hewan kurban harus dilakukan sesuai syariat, memastikan hewan diperlakukan dengan baik dan tidak disakiti secara berlebihan, mencerminkan etika Islam terhadap makhluk hidup.

 

 

Perayaan Idul Adha juga identik dengan ibadah haji di Mekkah. Para jamaah haji yang menyelesaikan rukun Islam kelima mereka pada hari-hari ini, melambangkan persatuan umat Islam dari berbagai penjuru dunia. Mereka berkumpul tanpa memandang ras, warna kulit, atau status sosial, menegaskan bahwa semua manusia adalah sama di hadapan Allah SWT tanpa memandang status sosial

 

 

 

Filosofi ini mengajak kita untuk melakukan introspeksi diri. Apakah selama setahun terakhir kita sudah cukup memberi? Apakah kita sudah cukup bersyukur? Apakah kita sudah mengikis ego dan lebih mengedepankan kepentingan bersama? Idul Adha adalah waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah, mengevaluasi diri, dan memperbaiki niat serta tindakan.

 

 

Pada akhirnya, Idul Adha adalah perayaan kemenangan spiritual. Kemenangan atas hawa nafsu, kemenangan atas keterikatan duniawi, dan kemenangan atas keraguan. Ini adalah afirmasi bahwa dengan keikhlasan dan pengorbanan, manusia dapat mencapai derajat ketakwaan yang lebih tinggi dan mendapatkan ridha Allah S.W.T

 

 

Di tahun 2025, yang dipenuhi dinamika global dan tantangan sosial, makna Idul Adha semakin relevan. Ia menawarkan solusi spiritual terhadap masalah-masalah kemanusiaan, mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam kepemilikan, melainkan dalam pemberian, ketulusan hati, dan kebersamaan yang erat.

 

 

Maka dari itu mari kita sambut Idul Adha 2025 bukan hanya dengan semarak takbir dan kemeriahan, melainkan dengan hati yang penuh kesadaran akan filosofi dan makna terdalamnya. Semoga setiap pengorbanan yang kita lakukan, sekecil apapun, menjadi jembatan menuju keberkahan dan kebahagiaan yang abadi, serta memperkuat fondasi kemanusiaan dan persaudaraan di bumi ini, tutup dosen yang mengajar di Negeri Jiran Malaysia ini.

 

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita