Depok — Di bawah langit cerah Kota Depok, kala pagi baru saja memecah keheningan, suara langkah kaki warga bergema di Jalan BTN Pabuaran Indah,Cilodong Kota Depok, Jawa Barat pada Rabu, (30/7/2025) Sebanyak 600 orang dari berbagai penjuru berkumpul, bukan untuk sebuah pesta, tetapi untuk mendengar sebuah seruan yang lebih sakral dari sekadar ritual politik ajakan untuk menyelamatkan hidup melalui kesadaran kolektif akan bahaya nyamuk dan penyakit yang mereka bawa. Di tengah kerumunan itu, berdiri sosok yang tak asing bagi dunia advokasi kesehatan Indonesia, Hj. Ranny Fahd A Rafiq, bukan hanya anggota Komisi IX DPR RI, tapi pemantik api kecil yang menyalakan lentera kesadaran di tengah gelapnya kelalaian kita sendiri.
Dalam sejarah umat manusia, tidak semua pertempuran diwarnai dentuman meriam atau derap pasukan bersenjata. Ada perang yang sunyi, tanpa ledakan, tetapi menyisakan luka yang dalam dan kematian yang perlahan. Malaria dan demam berdarah dengue (DBD) adalah bagian dari perang itu. Musuhnya nyaris tak terlihat, namun taringnya mencabik nyawa tanpa ampun. Di hadapan musuh senyap ini, Ranny memilih untuk tidak diam. Ia turun ke medan pengabdian, menjadikan tubuhnya jembatan antara kebijakan dan kehidupan, antara regulasi dan nurani,
Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang dikumandangkan oleh Kementerian Kesehatan, bukan sekadar jargon birokrasi. Dalam narasi Ranny, Germas menjelma sebagai filosofi kehidupan sebuah ajakan untuk kembali ke akar tubuh yang sehat, jiwa yang bersih, dan masyarakat yang sadar akan tanggung jawab kolektif menjaga kehidupan. “Kebersihan lingkungan adalah awal dari perlawanan,” ujarnya lugas. Namun di balik kata-kata itu tersembunyi kepedihan panjang yakni tentang bagaimana kita selama ini begitu permisif terhadap genangan air, sampah, dan kebiasaan abai yang secara perlahan menyiapkan lahan subur bagi kematian.
Ranny menyadari, pertempuran ini tidak bisa ditangani melalui pendekatan medis semata. Ia harus dimulai dari cara berpikir, bagaimana kita memaknai tubuh sebagai rumah semesta, dan lingkungan sebagai perluasan dari sistem kekebalan itu sendiri. Di sinilah letak daya gugahnya ia tidak menyerukan larangan, tetapi membangkitkan kesadaran tidak sekadar memberi instruksi, tetapi mengajak merenung. Dan itu adalah metode yang paling manusiawi dari semua bentuk advokasi.
Fakta berbicara lantang. Data Kementerian Kesehatan RI pada 2024 mencatat lebih dari 143.000 kasus DBD di Indonesia, dengan angka kematian mencapai 1.180 jiwa. Sementara malaria, meskipun lebih terkonsentrasi di kawasan timur Indonesia, tetap menjadi ancaman dengan lebih dari 400.000 kasus baru. Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah potret rumah yang kehilangan anak, sekolah yang kehilangan murid, dan puskesmas yang kehilangan pasien yang datang terlambat. Di balik tiap angka, ada kisah dan Ranny memilih
Hidup bukan sekadar tentang keberlangsungan biologis. Ia adalah tentang bagaimana manusia membangun makna, tentang bagaimana individu menjelma menjadi simpul kesadaran kolektif. Inilah yang dilakukan Ranny, ia tidak membicarakan malaria semata, tapi membongkar kealpaan sistematis yang membuat penyakit ini terus menemukan rumahnya. Dari perumahan padat yang minim drainase, hingga minimnya edukasi lingkungan di sekolah dasar semua ia gali, bukan untuk menyalahkan, tapi untuk menghidupkan kembali kesadaran.
Ranny bukan satu-satunya pejuang dalam kisah ini. Ia datang mewakili suara Komisi IX DPR RI, yang dalam beberapa tahun terakhir mulai menaruh perhatian serius pada upaya promotif dan preventif dalam sistem kesehatan nasional. Tetapi yang membuatnya berbeda adalah keberaniannya mengaitkan politik dengan moral, regulasi dengan tanggung jawab sosial. Ia memahami, bahwa legislasi tanpa kedekatan dengan rakyat hanya akan berakhir sebagai teks kosong, papar istri dari Fahd A Rafiq ini.
“Perubahan dimulai dari diri sendiri,” ucapnya. Kalimat ini mungkin terdengar klise, namun dalam konteks kampung-kampung di Depok yang setiap musim hujan berubah jadi danau kecil penuh jentik, kata-kata itu menjelma menjadi revolusi. Bayangkan jika setiap keluarga menutup bak mandi, menyingkirkan kaleng bekas, membersihkan got secara rutin bukan karena takut disanksi, tetapi karena merasa bertanggung jawab menjaga anak tetangga tetap hidup. Di titik inilah, kesadaran berubah menjadi etika baru.
Ranny berbicara dengan tenang, namun nada suaranya menyimpan api. Ia tahu, melawan nyamuk berarti melawan budaya malas, melawan sistem perkotaan yang rakus, dan bahkan melawan proyek-proyek pengelolaan lingkungan. Ini bukan hanya masalah kesehatan, ini adalah ujian integritas bangsa.
Gerakan ini, seperti yang ia gaungkan, bukan sekadar soal hidup sehat, tetapi tentang membangun masyarakat yang sadar akan nilai kehidupan itu sendiri. Kita terlalu sering berbicara tentang kemajuan ekonomi, namun lalai bahwa kemajuan tidak berarti apa-apa jika nyawa rakyat masih digadaikan pada jentik nyamuk dan air kotor.
Nyamuk adalah simbol dari bahaya kecil yang diabaikan. Ia kecil, nyaris tak terlihat, namun mengandung potensi kehancuran yang besar. Dalam puisi metaforisnya, kehidupan sosial kita juga kerap seperti itu tampak tenang, namun menyimpan ancaman karena kecerobohan kecil yang menumpuk. Malaria dan DBD adalah pengingat bahwa ketidakteraturan kecil dapat berujung pada bencana besar.
Dalam sosialisasi di Depok, Ranny tak sekadar menyampaikan pidato. Ia mengajak warga melihat ulang halaman rumah mereka, mengajak ibu-ibu memeriksa ember dan pot bunga. Ia bahkan membagikan brosur sederhana namun setiap kata dalam brosur itu adalah hasil dari riset panjang, bukan sekadar lembaran kertas.
Ia tahu, untuk menyentuh hati rakyat, pesan harus dikemas dengan budaya. Maka dalam penutupnya, Ranny menyisipkan pantun. Bukan hanya sebagai hiburan, tapi sebagai cara untuk menyelipkan pesan dalam budaya tutur. “Air bening di sungai deras, mengalir tenang menuju samudra…” Itu bukan hanya bait, tapi kompas etika bahwa kesehatan yang mengalir bebas berasal dari kemurnian lingkungan.
Ranny juga mendorong agar kampus-kampus kesehatan, karang taruna, dan komunitas RT-RW mengambil bagian dalam perjuangan ini. Ia mengusulkan sistem insentif lokal bagi wilayah yang berhasil menurunkan angka DBD, atau sekolah yang rutin melakukan edukasi lingkungan.
Di titik ini, perjuangannya tak lagi milik seorang Ranny. Ia menjadi narasi kolektif. Perjuangan ibu rumah tangga, petugas puskesmas, guru, dan mahasiswa semua adalah anak-anak dari semangat yang ia lahirkan hari itu.
Sebagaimana dalam sejarah, perubahan besar selalu lahir dari kepedulian kecil yang ditanam terus-menerus. Seperti revolusi Perancis dimulai dari kelaparan, revolusi kesehatan bisa dimulai dari kebersihan.
Ia tidak menjanjikan Indonesia bebas nyamuk dalam semalam. Tetapi ia menanam harapan dan itu jauh lebih substansial dari sekadar janji.
Dengan tatapan teduh dan suara yang tak pernah meninggi, Ranny memberi tahu kita satu hal penting bahwa melindungi kehidupan bukan tugas lembaga, tapi panggilan nurani setiap insan.
Dalam diskursus kontemporer yang penuh kebisingan politik, suara Ranny terdengar jernih. Ia bukan hanya berteriak melawan penyakit, tetapi merintis etika baru, politik sebagai perpanjangan tangan kemanusiaan.
Dan seperti air sungai yang mengalir tenang namun pasti, gerakannya akan sampai juga ke samudra, Indonesia yang bersih, sehat, dan sadar akan nilai kehidupan.
Sebab melawan nyamuk bukan hanya soal serangga, tetapi tentang bagaimana kita, sebagai bangsa, memilih untuk tidak mati sia-sia oleh hal kecil yang bisa dicegah jika saja kita mau peduli, tutup Ranny.
Penulis: A.S.W