Dengan MMT, Memutus Rantai Tak Kasat Mata, Mengembalikan Martabat Rupiah yang Tergadai di Altar Hutang Dunia, Ini Kata Fahd A Rafiq

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

 

Mekkah – Dalam kesunyian ruang perpustakaan pikiran, kita sering terjebak dalam labirin angka yang dikonstruksi oleh para teknokrat. Selama lima dekade, narasi ekonomi Indonesia seolah terkunci dalam sebuah dogma tunggal yang kaku, sebuah ortodoksi yang lahir dari rahim sekolah-sekolah pemikiran Barat dari Geng Berkeley hingga Illinois, yang memuja stabilitas semu di atas altar ketergantungan, pungkas Fahd A Rafiq dari Kota Mekkah, Selasa (3/3/2026).

Hutang, dalam kacamata eksistensial, bukan sekadar instrumen finansial, ia adalah rantai tak kasat mata yang mengikat imajinasi sebuah bangsa. Setiap kali kurva hutang mendaki, pada saat yang sama, martabat rupiah bersujud di hadapan hegemoni dolar, menciptakan sebuah siklus penderitaan yang dianggap sebagai kewajaran oleh mereka yang mengaku pakar, cetus Ketua Umum DPP BAPERA tersebut.

 

Kita harus berani bertanya, apakah kecerdasan para pengelola negara ini digunakan untuk membebaskan rakyat, atau justru untuk merawat sistem yang memastikan kita tetap menjadi kuli di negeri sendiri? Retorika pertumbuhan seringkali hanyalah kosmetik yang menutupi luka menganga dari defisit kemandirian yang kronis, urai Mantan Ketua Umum PP – AMPG ini.

 

Mari kita alihkan pandangan sejenak ke arah cakrawala Sahara, di mana tanah Burkina Faso yang gersang mulai memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan dunia. Di bawah kepemimpinan Ibrahim Traore, negara itu tidak hanya menambang mineral, tetapi sedang menggali kembali harga diri yang terkubur selama berabad-abad di era kolonialisme, tutur Suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komisi IX) itu.

Traore memahami sebuah kebenaran fundamental dalam Modern Monetary Theory (MMT) bahwa kedaulatan sebuah negara tidak terletak pada restu lembaga donor internasional, melainkan pada kontrol penuh atas sumber daya dan kapasitas moneter domestik. Emas 94 ton pada tahun 2025 bukan sekadar statistik, itu adalah proklamasi kemerdekaan yang nyata, tegas Mantan Ketua Umum DPP KNPI ini.

Logika yang diterapkan sangat tajam dan pragmatis, sebuah manifestasi dari nasionalisme sumber daya yang murni. Perusahaan asing didegradasi dari posisi “tuan tanah” menjadi sekadar “operator teknis” yang dibayar berdasarkan hasil kerja, bukan pemilik atas apa yang tersimpan di rahim bumi mereka, beber Mantan Ketua Umum GEMA MKGR tersebut.

Ini adalah sebuah anomali yang indah di tengah dunia yang terobsesi dengan privatisasi. Di saat investor global gemetar ketakutan oleh ketidakpastian politik, Burkina Faso justru menemukan kepastian dalam kedaulatan, membuktikan bahwa stabilitas sejati lahir dari keadilan distribusi, bukan dari kepatuhan pada pasar modal, pendapat Pengusaha Muda itu.

 

Emas adalah keringat bumi yang telah membeku. Jika keringat itu hanya diperas untuk mengisi pundi-pundi Negara Kaplitalis, maka rakyat hanya mendapatkan debu dan polusi. Traore membalikkan cermin itu, ia memastikan setiap gram emas adalah bahan bakar bagi infrastruktur, keamanan, dan masa depan rakyat Burkinabe, seloroh Artis dan Seniman berbakat ini.

 

Jika kita melakukan komparasi intelektual dengan Indonesia, perbedaannya terasa menyakitkan sekaligus memicu adrenalin. Kita adalah raksasa yang tertidur, atau mungkin lebih tepatnya, raksasa yang sedang dibius oleh obat penenang bernama “investasi asing tanpa batas,” ungkap Putra dari Musisi Legend A Rafiq tersebut.

Bayangkan jika Pasal 33 UUD 1945 bukan sekadar hiasan di buku teks sekolah, melainkan menjadi ruh dalam setiap kontrak karya tambang kita. Jika Burkina Faso mampu memproduksi 94 ton, maka dengan bentang alam kita yang kolosal, angka 400 hingga 500 ton emas per tahun bukanlah utopia, melainkan keniscayaan matematis, sebut Fahd.

Dengan estimasi harga emas di tahun 2026 yang terus meroket, potensi nilai sebesar Rp1.500 triliun per tahun sebenarnya berada di ujung jari kita. Angka ini bukan sekadar deretan nol, melainkan kunci untuk meruntuhkan tembok hutang yang selama ini dianggap mustahil untuk dirobohkan, ulas tokoh muda berpengaruh yang akrab disapa Fahd A Rafiq ini.

Secara analitis, jika biaya produksi ditekan hingga 50%, negara akan mengantongi surplus bersih Rp750 triliun setiap tahun hanya dari satu komoditas. Ini adalah bentuk nyata dari “Uang Negara” yang berdaulat, sebuah instrumen yang memungkinkan kita membiayai impian bangsa tanpa perlu membungkuk meminta pinjaman, papar Ketua Umum DPP BAPERA.

Namun, mengapa para ekonom kita tetap memilih jalan sunyi melalui koridor hutang? Di sinilah kita melihat adanya disonansi kognitif yang akut atau mungkin pengkhianatan intelektual yang terstruktur. Mereka lebih memilih memuja defisit dari pada mengelola kelimpahan, kritik Mantan Ketua Umum PP – AMPG tersebut.

Secara filosofis, keberanian adalah komponen yang hilang dari rumus ekonomi kita. Kita memiliki data, kita memiliki hukum (Pasal 33), namun kita kekurangan nyali untuk mengeksekusinya di hadapan tekanan geopolitik. Kita lebih masa bodo dan silau dari pada takut pada kemiskinan rakyat sendiri, tukas Fahd A Rafiq.

Ibrahim Traore telah menunjukkan bahwa meskipun Amerika dan Uni Eropa menjatuhkan sanksi dan membekukan bantuan, sebuah negara tetap bisa tegak berdiri jika mereka memegang kendali atas “tulang punggung” ekonomi mereka sendiri.

Kedaulatan adalah perisai terbaik melawan intimidasi eksternal, opini Suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komisi IX) ini.
Di Indonesia, kita seringkali terlalu sibuk berdebat tentang prosedur administrasi sambil membiarkan kekayaan alam kita mengalir keluar melalui lubang-lubang regulasi yang sengaja dibocorkan. Kita adalah pemilik rumah yang meminjam uang dari pencuri yang merampok isi gudang kita, sindir Mantan Ketua Umum DPP KNPI itu.

Fahd A Rafiq secara tegas menangkap esensi ini, bahwa penerapan model MMT yang berbasis pada kedaulatan sumber daya adalah satu-satunya jalan keluar dari lingkaran setan pelemahan rupiah. Ini bukan tentang anti-asing, melainkan tentang posisi tawar yang bermartabat, imbuh Mantan Ketua Umum GEMA MKGR.

Dengan ketajaman observasi Fahd melihat bahwa sistem keuangan saat ini didesain untuk menciptakan ketergantungan permanen. Rupiah yang melemah bukan kecelakaan pasar, melainkan konsekuensi dari struktur ekonomi yang memposisikan kita sebagai penyedia bahan mentah dan konsumen barang jadi, sebenarnya banyak yang sadar kok akan situasi saat ini, kata sang Pengusaha Muda.

Kita seharusnya mampu membayangkan Indonesia di mana bank sentral tidak lagi hanya mengejar inflasi melalui suku bunga, tetapi menjadi mitra dalam membiayai produktivitas nasional yang dijamin oleh cadangan emas dan sumber daya yang kita miliki sendiri, harap Artis dan Seniman ini.

 

Nasionalisme sumber daya yang menyebar di wilayah Sahel adalah alarm bagi tatanan dunia lama. Ini adalah tanda bahwa narasi “pakar pinter” yang selama ini mendikte kebijakan global mulai kehilangan taringnya di hadapan para pemimpin yang berani berpikir di luar kotak konvensional, ucap Putra dari Musisi Legend A Rafiq.

Keberhasilan Burkina Faso adalah tamparan bagi mereka yang mengatakan bahwa negara berkembang tidak bisa mengelola tambangnya sendiri. Realitas di lapangan membuktikan bahwa kendali negara justru meningkatkan output dan memastikan keuntungan kembali ke kas negara, bukan ke kantong pemegang saham di luar negeri, simpul Fahd.

Setiap ton emas yang dihasilkan di bawah kendali negara adalah satu langkah menjauh dari cengkeraman sistem hutang ribawi yang mencekik. Ini adalah bentuk perlawanan eksistensial terhadap tatanan moneter yang tidak adil, kilas Fahd A Rafiq.

Kita harus bertanya pada alam bawah sadar kolektif bangsa ini, sampai kapan kita akan membiarkan kekayaan ini menjadi kutukan dari pada berkah? Sampai kapan kita akan memuja gelar-gelar dari universitas luar negeri jika hasil akhirnya hanyalah tumpukan hutang yang membebani anak cucu? tanya Ketua Umum DPP BAPERA ini dengan nada retoris.

Fahd akan menemukan keindahan dalam logika yang bersih dan berani. Keputusan untuk menasionalisasi tambang adalah tindakan intelektual yang paling murni karena ia memutus siklus pembodohan ekonomi yang telah berlangsung selama setengah abad, ungkapnya.

Rusia dan Tiongkok telah lama memahami permainan ini. Mereka mengumpulkan emas dan mengamankan sumber daya sebagai fondasi kekuatan mereka. Mengapa kita, yang memiliki undang-undang yang memerintahkan hal yang sama, justru melakukan hal yang sebaliknya? Tanya Fahd A Rafiq.

Paradoks ini harus diakhiri dengan sebuah revolusi pemikiran. Bukan sekadar pergantian wajah di kementerian, tetapi pergantian paradigma dari ekonomi “meminta-minta” menjadi ekonomi “mengelola,” serunya.

Emas yang akan naik harganya di tahun 2026 adalah momentum emas secara harfiah maupun kiasan, bagi Indonesia untuk merebut kembali kedaulatannya. Jika kita gagal lagi kali ini, kita bukan hanya bodoh, tapi kita sedang melakukan bunuh diri peradaban secara perlahan, sesalnya.

Kritik tajam ini bukan lahir dari kebencian, melainkan dari cinta yang mendalam pada tanah air yang kaya namun salah urus. Kita butuh pemimpin yang mampu melihat bahwa 750 triliun rupiah per tahun adalah jawaban atas segala tangisan kemiskinan di pelosok negeri, terang Pengusaha Muda tersebut.

Pada akhirnya, ekonomi adalah tentang siapa yang memegang kendali atas nilai. Selama kita menyerahkan kendali itu pada pihak lain dengan imbalan hutang, kita hanyalah penyewa di tanah kelahiran kita sendiri, tekan Fahd.

Mari kita renungkan apakah kita akan terus bangga dengan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh hutang, atau kita akan memulai sejarah baru dengan kedaulatan emas yang nyata? tantang  ini kepada seluruh Pengambil kebijakan.

Jawabannya ada pada keberanian untuk menjalankan mandat konstitusi secara utuh, tanpa kompromi, dan tanpa rasa takut, tutup Dosen yang mengajar di negeri Jiran Malaysia ini.

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita