Kota Mekkah – Olahraga bukan sekadar pertunjukan otot atau ketangkasan di lapangan, ia adalah mikrokosmos dari perjuangan eksistensial sebuah bangsa yang mendambakan supremasi di panggung global. Ranny Fahd A Rafiq,Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, menatap fenomena ini dengan ketajaman analitis yang membedah akar psikologi kolektif kita, paparnya di dari Kota Mekkah pada Rabu (8/7/2026).
Identitas Indonesia seringkali tereduksi dalam narasi statistik, padahal di dalam keringat para atlet, tersimpan kode genetik bangsa yang menolak menjadi pecundang dalam sejarah dunia, ujar Istri dari Ketua Umum DPP BAPERA ini.
Kita hidup di era di mana keberhasilan adalah mata uang utama, dan di sini, Ranny melihat lapangan olahraga sebagai cermin retak yang menuntut perbaikan, cetusnya.
Anggota DPR RI Komisi IX DPR RI ini meyakini bahwa kesehatan fisik adalah fondasi bagi kesehatan mental sebuah republik yang ingin berdiri tegak di tengah kompetisi negara-negara maju, tuturnya.
Melalui spektrum pandangan yang jauh melampaui euforia sesaat, Ranny mengaitkan dedikasi atlet dengan integritas nasional yang harus dijaga tanpa kompromi, ungkapnya.
Artis dan Seniman yang kini memikul tanggung jawab legislatif ini memahami bahwa estetika gerakan dalam olahraga adalah seni yang merawat kebanggaan rakyat, cetusnya dengan gamblang.
Mengutip filosofi kuno tentang mens sana in corpore sano, Ranny menegaskan bahwa bangsa yang kuat lahir dari individu yang tidak mengenal kata menyerah sebelum peluit akhir dibunyikan, pungkasnya.
Pemilik Album Cinta dan Jenaka, ia membawa harmoni kreativitas ke dalam ruang kebijakan yang dingin, menuntut agar olahraga mendapatkan porsi anggaran serta perhatian yang setara dengan sektor krusial lainnya, paparnya.
Wakil Ketua Umum PP – KPPG ini melakukan observasi tajam terhadap bagaimana negara-negara adidaya menggunakan olahraga sebagai instrumen diplomasi lunak soft power.
Ranny meyakini bahwa Indonesia memiliki potensi terpendam yang hanya menunggu ledakan keberanian untuk menaklukkan ego keterbatasan, serunya.
Bendahara Umum Ormas MKGR ini menekankan bahwa pengelolaan sumber daya manusia melalui jalur atletik akan menciptakan kader-kader bangsa yang disiplin, teguh, dan visioner.
Dalam narasi Ranny memaparkan, kekalahan hanyalah sebuah variabel statistik, sementara kemenangan adalah sebuah keharusan kultural yang mutlak. Ia memandang sejarah sebagai akumulasi dari keberanian, di mana setiap medali adalah monumen kecil atas keberhasilan kita mendefinisikan ulang nasib, imbuhnya.
Ranny percaya bahwa nasionalisme harus bertransformasi dari sekadar retorika menjadi aksi nyata yang terukur di setiap gelanggang, ujarnya.
Dengan pemikiran yang melampaui batas tradisional, ia menantang status quo yang selama ini memandang olahraga sebagai pelengkap penderita dalam kebijakan publik, tegasnya.
Ranny mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk tidak lagi terjebak dalam mentalitas marjinal yang pesimis. Bangsa pemenang adalah bangsa yang mampu mengolah kegagalan menjadi bahan bakar inovasi, begitulah filosofi yang ia pegang teguh, ungkapnya.
Di mata Ranny, setiap tetes keringat atlet adalah narasi perjuangan yang harus diakomodasi melalui regulasi yang pro-atlet, katanya.
Ia melihat kaitan erat antara kesejahteraan rakyat dengan prestasi olahraga, di mana keduanya saling berkelindan dalam spiral pertumbuhan ekonomi dan martabat bangsa.
Ranny merumuskan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada bagaimana kita mencetak generasi yang memiliki determinasi tinggi. Dalam tataran filosofis, ia menganggap setiap kompetisi sebagai ujian karakter yang membentuk jati diri bangsa, papar sang legislator.
Ranny mengingatkan bahwa kita tidak boleh lagi membiarkan diri terperangkap dalam narasi inferioritas yang merugikan potensi besar yang dimiliki Nusantara. Ia menggunakan pendekatan ilmiah untuk menelaah bagaimana nutrisi, infrastruktur, dan pembinaan psikologis membentuk karakter pemenang.
Ranny menyoroti pentingnya peran perempuan dalam kepemimpinan olahraga yang selama ini didominasi oleh pendekatan maskulin konvensional. Atlet wanita harus memberikan Prestasi terbaik di level Internasional
Ia memandang olahraga sebagai laboratorium sosial tempat perbedaan dileburkan menjadi satu tujuan yakni kejayaan Indonesia. Bagi Ranny, menjadi bangsa pemenang bukan berarti tanpa cela, melainkan memiliki ketahanan untuk bangkit setelah setiap keterpurukan.
Ia mendorong lahirnya ekosistem yang mendukung pertumbuhan talenta sejak dini tanpa hambatan administratif yang menyulitkan.
Ranny mengibaratkan keberhasilan olahraga sebagai puncak gunung es dari sistem pendidikan yang mumpuni. Ia menuntut keterbukaan dalam tata kelola organisasi olahraga agar terbebas dari praktik yang menghambat kemajuan, urainya.
Ranny menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam mencetak juara dunia yang membanggakan, imbuhnya. Apapun caranya bagaimanapun caranya Indonesia harus jadi yang no 1, ucapnya dengan nada semangat membara.
Ia ingin Indonesia tidak lagi dipandang sebagai penonton, melainkan sebagai pemain kunci dalam dinamika olahraga internasional, serunya lagi.
Ranny mengkritisi ketergantungan pada bakat alami tanpa adanya dukungan riset yang mendalam. Ia meyakini bahwa dengan perencanaan yang matang, Indonesia mampu mendominasi cabang-cabang olahraga yang selama ini dianggap mustahil.
Ranny menempatkan posisi atlet bukan sebagai komoditas, melainkan sebagai duta besar bangsa yang harus dilindungi kesejahteraannya.
Ia melihat bahwa setiap kebijakan yang diambil haruslah berorientasi pada hasil jangka panjang yang berkelanjutan.
Ranny menentang keras segala bentuk praktik yang menumpulkan semangat juang anak muda Indonesia, kecamnya dengan nada sinis.
Baginya, olahraga adalah instrumen ampuh untuk memperkuat integrasi nasional di tengah keberagaman yang kita miliki, tegasnya. Ia mengajak generasi muda untuk mengambil peran lebih aktif dalam menentukan arah masa depan bangsa ini.
Problem Solving Transformasi Menuju Kemenangan
Untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa pemenang melalui olahraga, diperlukan perombakan sistemik yang radikal namun terukur.
Pertama, pemerintah harus melakukan desentralisasi pembinaan atlet melalui pemanfaatan data besar Big Data untuk memetakan potensi atlet sejak usia dini di seluruh pelosok daerah, sehingga tidak ada talenta yang terabaikan karena keterbatasan akses geografis.
Kedua, integrasi kebijakan antara sektor pendidikan dan kesehatan adalah mutlak. Kurikulum sekolah harus memasukkan literasi fisik dan nutrisi berbasis sains sebagai bagian dari pendidikan karakter, yang didukung oleh fasilitas olahraga di sekolah yang memenuhi standar kompetisi internasional.
Ketiga, restrukturisasi tata kelola organisasi olahraga nasional dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas keuangan yang ketat, guna memastikan bahwa setiap rupiah anggaran benar-benar berdampak langsung pada kesejahteraan atlet dan kualitas pelatihan, bukan pada birokrasi yang gemuk.
Keempat, perlunya membangun kemitraan strategis dengan sektor swasta melalui skema insentif pajak yang menarik bagi perusahaan yang berinvestasi penuh pada pengembangan cabang olahraga tertentu, sehingga tercipta ekosistem industri olahraga yang mandiri secara finansial.
Terakhir, penguatan dukungan psikologis dan perlindungan masa depan bagi para atlet pasca-pensiun. Ketika atlet merasa aman secara ekonomi dan memiliki kepastian karier jangka panjang, mereka akan memiliki ketenangan mental yang diperlukan untuk fokus mengejar medali di setiap ajang, mengubah narasi kita dari bangsa yang berjuang untuk berpartisipasi menjadi bangsa yang mendominasi untuk menang.
Indonesia, menurutnya adalah rumah bagi para juara yang hanya perlu disulut semangatnya untuk mengubah dunia.
Ranny menutup narasinya dengan sebuah ajakan kontemplatif agar setiap orang memandang diri mereka sebagai pemenang dalam kapasitas masing-masing.
Penulis: A.S.W
