Ketua Umum DPP BAPERA: Ekonomi Pancasila dalam Asta Cita Adalah Jawaban Ketimpangan Sosial.

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

Jakarta – Di bawah bayang-bayang ketidakpastian global yang kian menyempit, diskursus mengenai keadilan distributif kembali menemukan relevansinya melalui diskursus Ekonomi Pancasila, sebuah sistem yang kini didorong oleh Ketua Umum DPP BAPERA sebagai antitesis terhadap ketimpangan sosial yang akut, ucapnya di Jakarta pada Minggu, (5/7/2026).

 

Eksistensi bangsa sejatinya bukan sekadar akumulasi statistik pertumbuhan domestik bruto, melainkan sejauh mana akses terhadap sumber daya mampu menyentuh lapisan terbawah masyarakat yang selama ini teralienasi, tutur pria yang juga Mantan Ketua Umum PP – AMPG ini.

 

Melihat lebih jauh ke dalam doktrin Asta Cita, terdapat esensi filosofis yang berusaha menyelaraskan kebebasan pasar dengan semangat kolektivisme, sebuah jembatan yang berusaha dibangun oleh suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komisi IX) tersebut.

 

Sejarah mencatat bahwa kegagalan sistem ekonomi liberal di banyak negara berkembang sering kali dipicu oleh abainya negara dalam melindungi kepentingan domestik, fenomena yang dicermati oleh sosok yang pernah menjabat sebagai Mantan Ketua Umum DPP KNPI ini.

 

Dunia sedang menatap perubahan paradigma yang masif, di mana keberlanjutan tidak lagi sekadar jargon hijau, melainkan keharusan untuk mereduksi disparitas yang semakin lebar, ungkap mantan Mantan Ketua Umum GEMA MKGR itu.

Di balik kalkulasi untung-rugi yang dingin, seorang pengusaha muda harus memiliki komitmen moral untuk menjadikan entitas bisnisnya sebagai motor penggerak pemerataan, cetus Fahd.

 

Seni dalam mengelola negara memerlukan sentuhan estetika, serupa dengan kedalaman emosi yang ia curahkan saat berinteraksi sebagai seorang artis dan seniman, paparnya.

 

Darah kepemimpinan yang mengalir dalam dirinya adalah warisan dari sang ayah, putra dari musisi legend A Rafiq, yang mengajarkannya bahwa nilai kemanusiaan adalah komoditas termahal di atas panggung kehidupan, kisahnya.

 

Analisis mendalam mengenai Asta Cita menuntut kita untuk berani melampaui logika pasar bebas yang elitis menuju model ekonomi yang lebih inklusif dan memanusiakan, ujar Fahd.

 

Ketimpangan sosial ibarat api dalam sekam yang siap membakar tatanan stabilitas nasional jika tidak dikelola dengan kebijakan fiskal yang berpihak pada rakyat kecil, jelasnya.

 

Secara ontologis, keberhasilan sebuah bangsa diukur dari bagaimana ia memberikan ruang bagi individu untuk bertumbuh tanpa harus menginjak hak orang lain, poin yang digaris bawahi Fahd.

 

Dalam ruang hampa kebijakan yang tak menyentuh akar permasalahan, kita sering terjebak dalam retorika yang menumpulkan daya kritis, sambungnya.

 

Transformasi ekonomi yang digagas melalui kerangka kerja Pancasila bukanlah upaya mundur ke belakang, melainkan lompatan kuantum untuk merespons tantangan zaman yang semakin kompleks, tutur Fahd.

 

Ia melihat bahwa narasi ekonomi arus utama sering kali mengabaikan variabel psikologis kolektif yang menjadi penggerak utama loyalitas masyarakat terhadap ideologi negaranya, tambahnya.

Setiap angka yang tertera dalam data ekonomi harus diterjemahkan ke dalam peningkatan kualitas hidup manusia, bukan sekadar pelaporan kinerja yang artifisial, tegasnya.

 

Metaforisnya, ekonomi nasional adalah organisme hidup yang memerlukan keseimbangan nutrisi agar tidak terjadi obesitas pada segelintir korporasi sementara organ lainnya mengalami malnutrisi, ulas Fahd.

 

Keberanian mengambil kebijakan yang tidak populer demi keadilan jangka panjang adalah ciri khas pemimpin yang visioner, katanya.

 

Ia percaya bahwa sejarah akan mencatat upaya konsisten dalam memperbaiki struktur ekonomi sebagai warisan paling berharga bagi generasi mendatang, imbuh Fahd.

 

Keterlibatan dalam berbagai organisasi strategis selama ini memberinya perspektif lintas disiplin yang luas, memungkinkannya membedah masalah dari berbagai sudut pandang yang jarang tersentuh oleh pakar konvensional, paparnya.

 

Dalam imajinasi kontemplatifnya, ia melihat Indonesia sebagai laboratorium raksasa di mana nilai-nilai luhur Pancasila diuji dalam medan pertempuran ekonomi global, lanjut Fahd.

 

Tidak ada jalan pintas menuju kemakmuran yang merata, yang ada hanyalah konsistensi dalam mengimplementasikan kebijakan yang berorientasi pada kemanusiaan, pungkasnya.

 

Analisis yang ia tawarkan menuntut kita untuk melepaskan bias kognitif yang selama ini mendikte persepsi kita tentang apa yang disebut sebagai sukses secara ekonomi, sahut Fahd.

 

Kita memerlukan paradigma baru yang mampu menyeimbangkan ambisi pertumbuhan dengan kebutuhan mendasar akan rasa aman dan keadilan, tekannya.

 

Ketimpangan sosial bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga krisis kepercayaan publik terhadap institusi demokrasi yang seharusnya menjadi pelindung rakyat.

 

Ia menolak pandangan deterministik yang menyatakan bahwa kesenjangan adalah konsekuensi alamiah dari kapitalisme, paparnya.

 


Secara saintifik, model Ekonomi Pancasila memiliki kapasitas untuk menciptakan stabilitas yang lebih berkelanjutan dibandingkan dengan model ekonomi murni yang fluktuatif, jelas Fahd.

 

Penting bagi pemangku kepentingan untuk menyadari bahwa kedaulatan ekonomi adalah syarat mutlak bagi kedaulatan politik. Ia selalu mendorong diskusi yang berbasis bukti, bukan sekadar asumsi yang dibangun di atas kepentingan sesaat, imbuh Fahd.

Dalam setiap kesempatan, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sektor swasta dan negara untuk mencapai kesejahteraan yang berkeadilan, urainya.

 

Kepekaan terhadap denyut nadi masyarakat kelas bawah menjadi kompas dalam setiap langkah strategis yang ia ambil, ungkap Fahd. Ia menyadari bahwa perannya bukan sekadar menyusun rencana, melainkan mengartikulasikan visi menjadi aksi nyata, tuturnya.

 

Dunia pendidikan harus menjadi garda terdepan dalam merumuskan kerangka kerja baru yang relevan dengan tantangan masa depan bangsa, cetusnya.

 

Ia melihat adanya potensi besar jika nilai-nilai gotong royong diintegrasikan ke dalam teknologi finansial modern. Ketimpangan sosial adalah musuh bersama yang harus dihadapi dengan akal budi dan kebijakan yang presisi, paparnya.

Dalam pandangannya, kemajuan haruslah bersifat menyeluruh dan tidak meninggalkan siapapun di belakang, katanya.

Setiap kebijakan ekonomi yang dirumuskan harus mampu menjawab pertanyaan dasar yaitu apakah ini benar-benar melayani kebutuhan rakyat banyak? tanya Fahd.

 

Kekuatan karakter seorang pemimpin diuji saat ia harus memilih antara popularitas atau integritas demi keberlangsungan bangsa.

Ia terus berupaya membangun narasi optimisme yang realistis di tengah gempuran ketidakpastian informasi Langkah strategis kini ia transmisikan pula kepada mahasiswanya, tutup dosen yang mengajar di negeri Jiran Malaysia ini.

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita