Jakarta– di antara riak-riak gelombang Pasifik dan gumpalan awan di langit monsun Asia Tenggara, sebuah suara menggema dari utara Khatulistiwa. Bukan nyanyian damai, bukan pula denting lonceng kemajuan, melainkan deru mesin perang yang menyayat langit perbatasan. Thailand dan Kamboja kembali bersitegang, dan dunia menahan napas. Sebuah babak baru dalam kisah lama yang seolah tak kunjung rampung.
“Entah mengapa,” ucap Fahd A Rafiq, (Ketua Umum DPP BAPERA), “gejolak konflik di bumi ini kerap lahir di utara garis Khatulistiwa. Seolah ada warisan purba yang menggerakkan sejarah ke arah yang sama api, darah, dan ambisi.” Dalam pernyataannya pada Kamis (31/7/2025),
<span;>ia menyiratkan bahwa tragedi ini bukan sekadar sengketa tapal batas, tetapi pergulatan eksistensial sebuah peradaban.
Mantan Ketum PP – AMPG ini memaparkan, “pada pagi yang harusnya penuh ketenangan itu, jet-jet tempur Thailand menerobos udara dengan misi yang sunyi dan mematikan. Mereka menjatuhkan bom di berbagai titik strategis militer Kamboja. Dalam hitungan menit, langit perbatasan menjadi merah saga warna yang tak asing di dalam lembaran sejarah kawasan ini.
Ribuan warga sipil, terutama dari wilayah Oddar Meanchey, berhamburan meninggalkan rumah mereka. Seperti daun-daun kering ditiup angin takdir, mereka terempas oleh konflik yang bahkan tak mereka pahami sepenuhnya. Anak-anak menjerit ketakutan, para ibu menggenggam harapan yang memudar, dan para lelaki menggenggam tanah, seolah enggan menyerahkan warisan leluhur kepada siapa pun, ujar Fahd.
Mantan Ketum DPP KNPI melihat dari tayangan Video berita Channel Luar Negeri di tengah reruntuhan, pertanyaan klasik kembali mengemuka mengapa? Mengapa dua bangsa yang serumpun, yang berbagi akar peradaban, justru kembali terjebak dalam spiral kehancuran? Jawabannya kembali menuntun kita ke batu-batu tua yang berdiri megah di puncak Pegunungan Dangrek yakni Kuil Preah Vihear, cetusnya.
Kuil ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah narasi arsitektur yang menjelma sebagai roh bangsa. Dibangun oleh Kekaisaran Khmer di masa keemasan Hinduisme Asia Tenggara, kuil ini didedikasikan untuk Siwa, sang perusak dan pencipta ulang. Ironis, mengingat konflik ini seolah mengikuti skenario dewa yakni penghancuran sebelum pembaruan, papar Suami dari anggota DPR RI ini.
Secara geopolitik, posisi kuil ini ibarat jantung yang diperebutkan dua tubuh. Secara visual menghadap ke Kamboja, namun akses terbaiknya justru dari sisi Thailand. Ambiguitas inilah yang membentuk bara konflik. Siapa pun yang menguasai Preah Vihear, tidak hanya menguasai sejarah, tetapi juga mengontrol bentang strategis yang sangat menentukan dalam pertahanan nasional.
Sejarah kolonial Prancis turut memperkeruh batas wilayah. Peta tahun 1907 yang menjadi dasar klaim Kamboja disusun oleh kekuatan asing, mirip dengan peta buatan Inggris yang menyerahkan Palestina kepada Zionis pada 1949. Di sinilah letak ironi batas-batas yang kini menjadi alasan pertumpahan darah justru ditentukan oleh tangan yang tak pernah mengerti nilai spiritual tanah itu.
Tahun 2008, saat Kamboja berhasil mendaftarkan Preah Vihear sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, euforia diplomatik berubah menjadi demonstrasi di Bangkok. Thailand merasa dikhianati, dan politik dalam negeri mereka menjadi panggung amarah. Tak lama kemudian, dentuman meriam menggantikan diplomasi.
PBB pada 2013 memutuskan Preah Vihear sah milik Kamboja. Namun seperti benih yang ditanam di tanah subur dendam, keputusan itu bukannya menyelesaikan, justru memantik luka baru. Thailand, dengan angkatan bersenjatanya yang unggul, mulai bersiap, seolah menanti momentum untuk membalikkan sejarah.
Dan kini, di tahun 2025, momentum itu datang. Wilayah Emerald Triangle tempat bertemunya Laos, Thailand, dan Kamboja berubah dari kawasan perdagangan menjadi arena perang. Thailand, yang sudah lama bersiap dengan kekuatan udara dan logistik, melancarkan serangan pre-emptive yang mencengangkan dunia, ungkap Mantan Ketum Gema MKGR ini.
Kamboja, negara yang lebih kecil dan miskin, seperti David yang kehilangan umban. Mereka tak punya jet tempur, hanya mengandalkan milisi hutan, strategi gerilya, dan semangat bertahan yang dibentuk oleh sejarah perang sipil panjang. Ketimpangan ini memperlihatkan wajah ketidakadilan yang getir dalam arsitektur militer Asia Tenggara.
Politik dalam negeri Thailand pun terguncang. Perdana Menteri Phaethongtarn Shinawatra, satu-satunya suara nalar dalam kekacauan ini, justru diberhentikan karena menentang agresi militer. Ia, seorang perempuan dalam sistem patriarkis yang kaku, menjadi simbol perlawanan etis yang dikorbankan demi ambisi negara, papar fahd lebih dalam.
Sementara itu, diam-diam, kepentingan besar mulai mencium aroma konflik. Amerika Serikat, sekutu lama Thailand, memberi sinyal dukungan lewat penawaran persenjataan mutakhir. Di sisi lain, Tiongkok mempercepat pembangunan pangkalan angkatan laut di Sihanoukville dan memperkuat aliansi militer dengan Kamboja. Asia Tenggara berada di tepi jurang Perang Dingin versi terbaru.
ASEAN, organisasi regional yang sejak lama mengusung prinsip non-intervensi, kini diuji secara eksistensial. Apakah solidaritas yang dibangun atas dasar kebersamaan itu cukup kuat menahan gelombang geopolitik global yang tengah menggulung? Atau kita akan menyaksikan fragmentasi, ketika negara-negara anggota lebih memilih aliansi adidaya dari pada stabilitas kawasan?
Fahd A Rafiq dalam analisisnya menekankan bahwa perang ini lebih dari sekadar sengketa batas. Ini adalah titik temu antara luka sejarah, identitas nasional, dan ambisi global. Ia menyerukan agar Indonesia, sebagai kekuatan utama ASEAN, mengambil peran lebih tegas dalam meredakan konflik dan mendorong perundingan damai, usulnya.
Namun, di tengah kekacauan itu, suara-suara perdamaian masih terdengar lirih. Di reruntuhan desa perbatasan, para biksu berdoa di bawah cahaya lilin, berharap para pemimpin bisa melihat bahwa tak ada kejayaan yang dibangun dari darah anak-anak. Bahwa kebesaran suatu bangsa bukan terletak pada luasnya wilayah yang direbut, melainkan damainya jiwa-jiwa yang dijaga.
Sejarah memberi kita banyak pelajaran, tapi manusia sering lupa. Kita membangun kuil, menciptakan peradaban, menulis puisi tentang cinta dan ketuhanan. Tapi ketika tanah dan kekuasaan jadi taruhan, semua itu terhapus sekejap. Preah Vihear adalah cermin, ia menunjukkan wajah peradaban, tapi juga bayangan gelap hasrat manusia.
Kini, dunia menyaksikan dan menanti apakah Asia Tenggara akan memilih jalan perdamaian atau membiarkan sejarah mengulang dirinya dalam bentuk yang lebih tragis. Pilihannya ada di tangan para pemimpin. Dan mungkin, juga di tangan kita semua sebagai bagian dari generasi yang mewarisi dunia ini.
Api perang boleh membakar perbatasan, tapi hanya pikiran yang tercerahkan yang dapat memadamkannya. Di era informasi, ketidaktahuan bukan lagi alasan. Dan di tengah suara tembakan, mari kita suarakan satu hal yang abadi bahwa kemanusiaan selalu lebih tinggi dari batas negara mana pun, tutup dosen yang mengajar di Negeri Jiran ini
Penulis: A.S.W