Fahd A Rafiq : Indonesia bisa Mengubah Konflik Jadi Kompromi, Belajar dari Akar Peradaban Maritim Nusantara 

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jakarta – Dalam keriuhan dinamika politik global yang kerap berbuntut kekerasan, Indonesia diam-diam menjadi anomali yang menakjubkan negara dengan sejarah keragaman ekstrem, namun mampu menjinakkan konflik menjadi dialog, pertentangan menjadi mufakat. Pengusaha muda, Fahd A Rafiq, menyebut hal ini sebagai “kemahiran manajemen konflik Indonesia yang jauh di atas rata-rata negara lain di dunia”, ucapnya di Jakarta pada Senin, (14/7/2025).

 

Ketua Umum DPP BAPERA dalam pernyataannya mengatakan hal ini bukan sekadar euforia nasionalistik. Ia mengandung tesis mendalam bahwa Indonesia tidak sekadar hidup dalam semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, tetapi menghidupinya. Di negeri lain, oposisi adalah musuh ideologis yang kerap disingkirkan. Di Indonesia mereka dirangkul bersama membangun bangsa dan negara. Dalam dunia politik Indonesia bukan arena pembantaian wacana, melainkan panggung kompromi yang pro dan kontra. Tapi inilah Indonesia dengan segala dinamikanya semua bisa di musyawarahkan, ucapnya.

 

Bandingkan dengan Timur Tengah prakolonial. Jazirah Arab, sebelum Islam adalah laboratorium konflik kesukuan. Sebuah sengketa kecil tentang unta atau sumur bisa memicu perang empat dekade, seperti dalam kisah legendaris Perang Basus. Masyarakat Arab kala itu hidup dalam asabiyyah solidaritas kesukuan yang nyaris tak tersentuh oleh imajinasi negara modern, pungkas Mantan Ketum PP-AMPG ini.

 

Bahkan setelah Islam mempersatukan banyak suku, konflik internal tetap menyala, dari Perang Riddah, Fitnah I dan II, hingga perang saudara antar dinasti. Warisan konflik ini menjadi narasi laten dalam banyak konflik kontemporer di Timur Tengah, papar Fahd.

Lalu Eropa dengan darah feodalisme, dogma gereja, dan ambisi teritorial. Dari Perang Salib, Perang Seratus Tahun, sampai perang agama Protestan-Katolik, benua ini menjadikan perang sebagai instrumen perubahan sejarah. Kekuasaan selalu ditebus dengan darah.

 

 

Lebih dalam Suami dari Anggota DPR RI ini melihat, berbeda dari keduanya, Nusantara hadir bukan sebagai benteng militer, melainkan jaring pelabuhan. Peradaban kita tumbuh di atas ombak, bukan di atas pedang. Kerajaan seperti Sriwijaya dan Majapahit lebih dikenal karena diplomasi dan jejaring dagangnya dari pada ambisi ekspansi militer brutal. Perang terjadi di bumi Nusantara namun tidak dengan frekuensi dan skala destruktif seperti di Arab dan Eropa.

 

Faktor geografis memainkan peran. Kepulauan yang tersebar, lahan subur yang melimpah, serta budaya agraris dan maritim membuat konflik cenderung bersifat lokal. Laut menjadi batas alami, dan harmoni menjadi kebutuhan ekonomi. Ketika agama datang, ia datang lewat perahu, bukan pasukan. Islam tidak mendobrak pintu rumah, ia mengetuk pelabuhan dan ditawarkan bersama kain sutra dan cengkih.

 

 

Inilah mengapa Indonesia pasca-reformasi tetap utuh meski mengalami disorientasi politik besar-besaran. Transisi otoritarianisme ke demokrasi tidak melahirkan perang saudara. Konflik identitas tidak meledak jadi perang etnis skala penuh. Bahkan ketika kelompok radikal mencoba menyulut api sektarian, mayoritas rakyat Indonesia justru menarik napas bukan senjata, ungkapnya.

 

Menurut Fahd A Rafiq, inilah kecakapan bangsa Indoesia yang sering diremehkan. Total ada 1.340 suku dan kemampuan untuk menyerap konflik bukan menumpahkan darah. “Kita bukan tidak punya konflik,” ujarnya, “tetapi kita punya cara menyelesaikan dengan musyawarah, bukan mortir. Kita lebih memilih forum, bukan perang.”

 

Ironisnya, negeri yang dianggap lambat dalam pengambilan keputusan justru adalah negeri yang cerdas dalam manajemen disensus. Di tempat lain, keputusan cepat sering berujung pada kudeta. Di Indonesia, keputusan lambat sering berarti ada ruang kompromi.

Barangkali ini pula yang menjelaskan mengapa banyak tokoh oposisi justru dirangkul menjadi bagian dari kabinet. Ini bukan sekadar strategi politik pragmatis, tetapi refleksi budaya yang menolak antagonisme absolut, tegas Mantan Ketum DPP KNPI ini.

 

 

Bukan berarti Indonesia bebas dari kekerasan. Tapi kekerasan bukanlah DNA-nya. Ia lebih sering menjadi reaksi luar biasa atas situasi ekstrem, bukan pilihan pertama. Politik Indonesia adalah politik perundingan, bukan penaklukan. Dari sejarah ini, kita belajar satu hal konflik adalah kodrat manusia, tapi cara menyelesaikannya adalah kebudayaan. Bangsa Arab mewarisi gurun yang keras, Eropa mewarisi daratan yang penuh ambisi. Kita mewarisi laut yang mengajarkan kesabaran, saling menunggu angin yang tepat, Inilah Indonesia sebuah negeri yang konsisten menciptkan iklim damai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ditingkat global.

 

 

Kita ini bangsa yang lahir dari pelabuhan, bukan benteng. Dari perdagangan bukan peperangan. Dari forum mufakat bukan meja kudeta. Di dunia yang semakin panas oleh polarisasi dan perang identitas, mungkin dunia perlu belajar dari Indonesia negeri yang membuktikan bahwa perdamaian bukan kelemahan, tapi kecerdasan tertinggi manusia. Dan Indonesia adalah Representasi dari negara Madinah era Rasululloh. Ketika bangsa dan negara lain masih membahas tentang romantisme negara madinah tapi Indonesia sudah mempraktikkan itu dengan baik.

 

Dalam kalimat penutupnya Fahd mengatakan, “Konflik adalah api. Tapi tak semua peradaban memilih membakarnya. Ada yang memilih menjadikannya pelita”, tutup dosen yang mengajar di Negeri Jiran ini.

 

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita