Home Budaya

Ketua Umum DPP BAPERA: Melestarikan dan Memajukan Budaya Bangsa Adalah Pilar Penting dalam Asta Cita

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Kota Mekkah – Di tengah diskursus kebangsaan yang sering kali terjebak dalam pragmatisme dangkal, Fahd A Rafiq muncul sebagai antitesis, menegaskan bahwa kebudayaan bukanlah artefak mati yang tersimpan dalam lemari museum, melainkan energi dinamis yang menggerakkan roda peradaban, ucapnya dari Kota Mekkah, Arab Saudi pada Selasa, (6/7/2026).

Putra dari musisi legendaris A Rafiq ini memandang bahwa dalam kerangka besar Asta Cita, pelestarian budaya berfungsi sebagai kompas moral sekaligus fondasi ontologis yang menjaga bangsa dari erosi identitas di tengah badai globalisasi.

 

Sebagai Ketua Umum DPP BAPERA, ia memaknai kebudayaan bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan akumulasi nilai-nilai luhur yang seharusnya menjadi manifestasi perilaku kolektif dalam kehidupan bernegara, katanya memaknai lebih dalam.

 

Pria yang memiliki rekam jejak sebagai Mantan Ketua Umum PP – AMPG ini memahami bahwa tanpa akar budaya yang kuat, sebuah bangsa akan kehilangan resonansi keberadaannya dan menjadi entitas asing di tanah kelahirannya sendiri, cetusnya.

 

Suami dari Ranny, anggota DPR RI Komisi IX, ini secara tajam menganalisis bahwa modernitas sering kali disalahpahami sebagai keharusan untuk menanggalkan tradisi, padahal sejatinya ia adalah dialog berkelanjutan antara masa lalu dan proyeksi masa depan.

 

Dunia politik Indonesia telah mengenal sosok mantan Ketua Umum DPP KNPI ini sebagai figur yang mampu menjembatani dialektika antara kepentingan kekuasaan dengan kewajiban menjaga moralitas kebangsaan.

Dalam narasi eksistensialnya, Fahd menempatkan diri sebagai pewaris sekaligus penjaga marwah, menyadari bahwa setiap detak jantung bangsa berdenyut seirama dengan napas kebudayaan yang ia perjuangkan.

Pernah menahkodai GEMA MKGR sebagai Ketua Umum, ia memiliki perspektif historis-kontemplatif dalam melihat bagaimana sejarah bukan sekadar urutan angka tahun, melainkan rangkaian peristiwa yang membentuk karakter psikologis masyarakat.

Seorang pengusaha muda yang juga berkecimpung dalam dunia seni dan peran ini, memandang bahwa setiap karya kreatif adalah wujud dari artikulasi jiwa yang harus selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.

 

Dalam kacamata sosiologis yang tajam, ia melihat bahwa pelestarian tradisi adalah bentuk resistensi paling elegan terhadap hegemoni budaya global yang cenderung mengikis keunikan lokal, imbuhnya.

 

Ia mengajak audiensnya untuk melakukan introspeksi mendalam, mempertanyakan sejauh mana masyarakat telah menginternalisasi nilai-nilai luhur dalam keseharian, alih-alih hanya menjadikannya jargon politik.

Baginya, Asta Cita bukan sekadar dokumen teknokratis, melainkan sebuah kontrak eksistensial yang menuntut komitmen setiap warga negara untuk membangun peradaban yang berakar kuat pada kearifan nenek moyang, bebernya.

Fahd yang memiliki kapasitas intelektual sering kali memberikan analisis yang out of the box, membedah problem krusial bangsa melalui pendekatan sistemik yang jarang disentuh oleh praktisi politik arus utama. Ia mampu merajut benang merah antara kebijakan publik dengan aspek kultural, menunjukkan bahwa regulasi yang baik haruslah memiliki resonansi emosional dengan denyut nadi masyarakat yang dipimpinnya.

 

Dalam imajinasi kontemplatifnya Fahd  sering membayangkan Indonesia sebagai orkestra besar di mana setiap suku, etnis dan budaya memainkan perannya masing-masing dalam harmoni yang agung ini

Metafora tentang “akar yang menghujam ke dalam namun dahan yang menjulang ke angkasa” menjadi prinsip hidupnya dalam memandang posisi budaya Indonesia di panggung dunia.

 

Langkah strategis yang ia ambil senantiasa didasarkan pada riset lapangan yang akurat, mencerminkan pemikiran ilmiah yang ia terapkan untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.

Ia tidak melihat kebudayaan sebagai beban masa lalu, melainkan sebagai bahan bakar energi kinetik untuk mengakselerasi kemajuan ekonomi dan sosial bangsa.

 

Ketegasan sikap yang ia miliki dalam berbagai forum diskusi menunjukkan bahwa pria ini memiliki visi jangka panjang yang melampaui kepentingan siklus elektoral jangka pendek.

 

Dalam setiap kesempatan, ia selalu menekankan pentingnya kolaborasi lintas generasi untuk memastikan estafet nilai-nilai luhur tidak terputus di tengah jalan, terangnya.

 

Analisisnya mengenai psikologi massa sering kali mengejutkan para pengamat, karena ia mampu membaca gejolak bawah sadar publik yang belum terartikulasikan secara formal.

 

Ia memandang bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kedewasaan budaya, agar bangsa ini tidak menjadi robot yang kehilangan jiwanya di hadapan algoritma, usulnya.

 

Pendekatannya yang filosofis dalam membedah isu-isu kontemporer membuat banyak kalangan menilai bahwa ia sedang membangun sebuah kerangka pemikiran baru dalam kepemimpinan nasional, cetusnya.

 

Sebagai figur yang multidimensi, Fahd mampu menyeimbangkan peran sebagai organisataris, pebisnis, dan seniman tanpa mengorbankan integritas intelektual yang ia pegang teguh, paparnya.

 

Ia percaya bahwa seni adalah instrumen paling efektif untuk menyentuh nurani, yang jika disinergikan dengan kebijakan politik, akan menciptakan perubahan yang lebih manusiawi, tuturnya.

 

Dalam diskursus kebangsaan, ia menonjol karena keberaniannya menantang status quo dengan argumen yang solid dan data yang tak terbantahkan. Kesadaran akan identitas budaya yang ia bawa merupakan manifestasi dari rasa tanggung jawab terhadap masa depan generasi mendatang agar tidak kehilangan kompas moral.

 

Ia menilik persoalan bangsa melalui berbagai sudut pandang yang berbeda, mencoba mengurai simpul-simpul kekusutan yang sering kali luput dari pengamatan para elit, urainya.

 

Baginya, menjadi nasionalis di abad ke-21 berarti mampu mempromosikan nilai-nilai ke Indonesiaan dengan bahasa global yang dapat dimengerti dunia.

 

Fahd yang sering melakukan refleksi mendalam, menyadari bahwa kekuasaan hanyalah alat, sementara kebudayaan adalah tujuan akhir dari peradaban yang bermartabat, terangnya.

 

Dalam ruang diskusi yang terbatas, ia sering kali memukau lawan bicaranya dengan logika yang jernih dan referensi yang luas, menunjukkan kelasnya sebagai pemikir ulung, imbuhnya.

 

Setiap langkahnya di lapangan bukan tanpa hitungan, ia mengkombinasikan intuisi artistik dengan kalkulasi politik yang matang, paparnya. Ia mengingatkan bahwa tantangan masa depan bukanlah teknologi semata, melainkan kemampuan kita untuk mempertahankan kemanusiaan di tengah kecanggihan tersebut.

 

Narasi yang ia bangun selalu menyentuh sisi psikologis pembaca, memicu rasa ingin tahu untuk memahami lebih dalam tentang jati diri bangsa, katanya.

 

Kecintaannya pada kebudayaan nasional adalah cerminan dari kecintaan yang tulus pada tanah air, yang ia buktikan melalui dedikasi tanpa henti dalam berbagai medan pengabdian. Dalam setiap narasi selalu ada pelajaran tentang konsistensi, integritas, dan visi yang melampaui zamannya.

Meskipun memegang berbagai peran strategis, ia tetap membumi dan senantiasa menempatkan kepentingan nasional di atas segala bentuk ambisi pribadi.

Dosen yang mengajar di negeri Jiran Malaysia ini memberikan perspektif baru bagi dunia akademis, membawa pemikiran cemerlangnya menyeberangi batas-batas geografis untuk memperkaya khazanah intelektual bangsa, papar Fahd menutup narasinya.

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita