Ranny Fahd A Rafiq: Indonesia Darurat Diabetes 

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

Jakarta – Gelombang senja perlahan merayap di ufuk Jakarta, memudarkan siluet gedung-gedung pencakar langit yang menjulang angkuh. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang tak pernah tidur, tersembunyi sebuah ancaman tak kasat mata, menggerogoti jutaan nyawa secara perlahan namun pasti yakni diabetes, ucap Ranny Fahd A Rafiq di Jakarta pada Kamis,(10/7/2025).

 

Ini bukan sekadar penyakit fisik ini adalah sebuah manifestasi dari perubahan peradaban, refleksi filosofis akan pilihan-pilihan kolektif, dan warisan historis yang kini memuncak dalam sebuah krisis. Indonesia, negeri yang kaya akan rempah dan cita rasa, kini di ambang darurat gula,papar Ranny.

 

 

Anggota DPR RI Komisi IX ini melihat fenomena diabetes di Indonesia adalah sebuah paradoks yang menyakitkan. Bagaimana sebuah bangsa yang dikenal akan kecerdasannya dalam meramu taktik perang dan membangun imperium maritim di masa lalu, kini justru takluk di hadapan godaan gula? Ini bukan lagi tentang manisnya sebatang tebu, melainkan tentang kegagalan nalar dalam mengendalikan insting purba. Kita, manusia modern, terperangkap dalam labirin dopamin instan yang dijanjikan oleh setiap gigitan makanan olahan dan minuman manis, paparnya.

 

Ranny mengajak untuk kita merenungkan bahwa tubuh kita adalah mahakarya evolusi yang sempurna, dirancang untuk bergerak, berburu, dan mengonsumsi makanan dari alam. Namun kini, kita secara sadar memilih jalur yang memenjarakan. Lonjakan angka diabetes tipe 2, yang menurut data Kementerian Kesehatan mencapai lebih dari 10 juta jiwa pada tahun 2023 dan diproyeksikan terus meningkat dan di tahun 2024 diperkirakan lebih dari 20 juta jiwa, angka yang saya sebutkan bukanlah sekadar statistik. Ini adalah simfoni kegagalan individu dalam mendengarkan bisikan kebijaksanaan tubuhnya sendiri, cetusnya. Setiap sel yang memberontak terhadap insulin adalah sebuah teriakan sunyi, sebuah pemberontakan biologis terhadap pilihan hidup yang kita paksakan.

 

Ranny menunjukkan data terbaru dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa sekitar 422 juta orang di seluruh dunia menderita diabetes tipe 2. Federasi Diabetes Internasional (IDF) pada tahun 2021 mencatat bahwa terdapat 537 juta orang dewasa berusia 20-79 tahun yang hidup dengan diabetes, dan angka ini diperkirakan akan terus meningkat, ini bukan hanya Indonesia saja tapi dunia global darurat diabetes, paparnya.

 

Anggota Banggar DPR RI ini melihat bagaimana revolusi industri dan globalisasi membawa serta “kolonisasi” selera. Dulu, pangan adalah hasil bumi, kini adalah produk pabrik. Gula, yang dulunya komoditas mewah, kini menjadi bahan baku murah yang melimpah, menyelinap dalam hampir setiap sajian. Ini bukan hanya tentang pilihan individu, melainkan juga tentang hegemoni industri pangan yang cerdas, yang secara subliminal memanipulasi preferensi rasa kita sejak dini. Kita menjadi korban dari sebuah sistem yang secara sistematis meracuni, dibungkus dalam kemasan yang menarik dan janji kenikmatan sesaat.

 

 

Istri dari Fahd A Rafiq ini melihat, Indonesia kini seperti sebuah kapal besar yang berlayar di samudra gula, dengan lambung kapal yang perlahan terkikis. Para awak kapal, kita semua, sibuk menikmati hidangan manis di geladak, tanpa menyadari retakan yang mulai muncul di dasar. Kita melihat gejala (peningkatan berat badan, kelelahan, pandangan kabur) namun seringkali mengabaikan akarnya (pola makan dan gaya hidup). Darurat ini bukan hanya soal medis, melainkan juga soal kebijakan publik yang kurang gigih dan kesadaran kolektif yang masih tumpul, tegasnya.

 

Hal ini juga membawa kita pada sebuah skenario dystopian di masa depan, rumah sakit akan lebih mirip “pabrik perbaikan manusia” yang terus-menerus memperbaiki kerusakan akibat diabetes. Kaki diamputasi, ginjal dicuci, mata buta. Ini adalah gambaran muram dari kemanusiaan yang gagal beradaptasi dengan kemewahan yang diciptakannya sendiri. Apakah kita akan membiarkan tubuh kita menjadi medan perang bagi glukosa berlebih, ataukah kita akan menggunakan kecerdasan kita untuk merebut kembali kendali? Ranny bertanya kepada publik? ada ngak teman atau saudara yang kena diabetes, tapi penyakit ini dianggap sepele oleh sebagian orang.

 

 

 

 

Ranny melihat eskalasi diabetes di Indonesia adalah sebuah elegi yang pilu. Ia berbicara tentang kerentanan kita sebagai manusia, tentang bagaimana pilihan-pilihan yang tampak sepele di meja makan dapat mengukir takdir yang suram. Ini adalah pergulatan antara naluri kelangsungan hidup dan godaan kenikmatan sesaat, sebuah cerminan filosofis dari betapa rapuhnya batas antara kebebasan dan kebudakan.

 

 

Observasi lapangan menunjukkan betapa budaya kita, yang kaya akan hidangan manis dan tradisi berkumpul di sekitar makanan, turut berperan. Banyak kue tradisional yang manis, minuman kemasan dengan kadar gula tinggi, hingga kebiasaan “ngemil” yang tak terkontrol, semuanya membentuk jaring-jaring kenikmatan yang sulit dilepaskan. Namun, di balik kehangatan tradisi tersebut, tersembunyi sebuah ancaman laten. Ini adalah cinta yang membutakan, kasih sayang yang mematikan, ungkap Ranny dengan nada getir.

 

 

Perempuan, seringkali sebagai manajer rumah tangga, memegang peran sentral dalam pola konsumsi keluarga. Edukasi tentang gizi dan bahaya gula yang kurang memadai di kalangan ibu-ibu menjadi titik krusial. Kita melihat bagaimana banyak iklan makanan dan minuman manis yang agresif menargetkan anak-anak, menciptakan generasi yang terpapar gula sejak dini. Ini adalah peperangan asimetris, di mana korporasi raksasa dengan sumber daya tak terbatas melawan kesadaran individu yang rapuh.

Melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, kita harus mengakui bahwa tekanan sosial juga berperan. Menolak tawaran makanan atau minuman manis dalam acara kumpul keluarga atau pertemanan seringkali dianggap tidak sopan. Ada semacam kompromi sosial yang mengorbankan kesehatan demi keharmonisan semu. Ini bukan hanya tentang pilihan pribadi, melainkan tentang bagaimana norma-norma sosial secara halus mendorong kita ke jurang diabetes.

 

 

Kita harus mempertanyakan peran negara. Regulasi yang lebih ketat terhadap kandungan gula dalam produk pangan, kampanye edukasi yang masif dan berkelanjutan, serta insentif bagi industri makanan sehat, adalah langkah-langkah yang mendesak. Mengapa rokok memiliki peringatan kesehatan yang jelas, namun produk dengan kadar gula tinggi tidak? Ini adalah sebuah ketidakadilan struktural yang membutuhkan intervensi radikal.

 

 

Saya membayangkan seorang ibu yang dengan penuh kasih menyiapkan hidangan manis untuk anaknya, tanpa menyadari bahwa ia sedang menabur benih-penyakit di masa depan. Sebuah tragedi yang bisa dicegah, sebuah kisah yang bisa diubah. Apakah kita akan mewariskan generasi yang sehat dan tangguh, ataukah generasi yang terbebani oleh penyakit kronis dan biaya kesehatan yang melumpuhkan?

 

Darurat diabetes di Indonesia adalah cermin dari krisis eksistensial yang lebih besar, krisis kendali diri dan pemahaman akan hakikat kesejahteraan. Kita terlalu sering mengukur kemajuan dengan indikator ekonomi, melupakan bahwa kekayaan sejati terletak pada kesehatan dan vitalitas masyarakat. Ini adalah panggilan untuk kembali ke esensi, untuk mempertanyakan kembali apa yang benar-benar kita nilai dalam hidup ini.

 

Bangsa ini pernah menghadapi berbagai wabah dan tantangan besar, dan selalu mampu bangkit. Metafora tentang semut yang membawa butiran gula ke sarangnya adalah relevan. Semut, dengan naluri bertahan hidupnya, mengumpulkan gula sebagai energi. Namun kita, manusia dengan akal budi, justru menimbunnya hingga menjadi racun. Kita perlu belajar dari kebijaksanaan alam, dari keseimbangan ekosistem yang rapuh.

 

 

 

 

 

Melangkah Maju: Sebuah Jalan untuk Direnungkan

 

 

Untuk keluar dari darurat ini, dibutuhkan sebuah revolusi kesadaran. Bukan hanya dari pemerintah atau penyedia layanan kesehatan, tetapi dari setiap individu. Revolusi ini harus dimulai dari meja makan kita sendiri, dari setiap keputusan yang kita buat di supermarket, percakapan tentang gaya hidup sehat. Ini adalah tentang mengembalikan kendali atas tubuh kita, tentang menjadi agen aktif dalam kesehatan kita sendiri.

 

 

Masyarakat perlu diberdayakan dengan informasi yang akurat dan mudah diakses. Sekolah harus menjadi garda terdepan dalam menanamkan kebiasaan hidup sehat sejak dini. Industri pangan harus bertanggung jawab, bukan hanya demi keuntungan, tetapi juga demi masa depan bangsa Indonesia. Ini adalah sebuah perjalanan panjang, namun setiap langkah kecil menuju kesadaran adalah sebuah kemenangan.

 

 

Pada akhirnya, darurat diabetes di Indonesia adalah sebuah ujian akan kecerdasan kita untuk beradaptasi, kemauan untuk berubah, dan kasih sayang terhadap generasi mendatang. Kita adalah arsitek masa depan diri sendiri. Akankah kita membangun sebuah peradaban yang sehat dan tangguh, ataukah sebuah peradaban yang rapuh, terjerat dalam manisnya ilusi kenikmatan yang mematikan? Pilihan ada di tangan kita, dan waktu terus berdetak, seperti detak jantung yang berjuang di tengah lautan glukosa, tutup Ranny.

 

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita